Oleh : Dwi P. Sugiarti
(Lingkar Studi Perempuan Dan Peradaban)

Mediaoposisi.com-Di tengah meningkatnya perkembangan teknologi di era digital, akses informasi kini semakin mudah diperoleh. Tak hanya melalui media massa (pers) sebagai arus utama masifnya penyebaran informasi, kini media sosial turut andil memberikan kontribusi tersebarnya informasi hingga pelosok negeri.

Tak bisa kita pungkiri internet menjadikan peran media khususnya media sosial menjadi konsumsi publik hari ini sekalipun keberadaannya mengalami penurunan tingkat kepercayaan dibanding media massa sebagaimana hasil survey dari Trust Barometer yang disampaikan oleh Jokowi dalam peringatan Hari Pers Nasional, 9 februari lalu.

Terlepas dari itu, pengaruh media sosial berdampak pada kondisi hari ini terutama dalam konteks politik. Tentu kit masih ingat bagaimana Barack Obama memperoleh kemenangan pilpres di Amerika Serikat pada tahun 2008 yang tidak terlepas dari “like” akun facebook yang mencapai hingga lebih dari 4 juta likes. (Huffington Post).

Lebih lanjut, siapa yang tak kenal Ustaz Felix Siauw? Ia dikenal sebagai aktivis dakwah di media sosial. Tercatat sejak akhir 2018, followers-nya mencapai lebih dari 4 juta dengan setiap statusnya yang memperoleh like dan comment yang mencapai ribuan.

Di sisi lain kita perlu menyadari bahwa keberadaan media di alam demokrasi liberal hari ini dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan yang mengelilinginya khususnya untuk kepentingan politik. Ia kerap kali dijadikan sebagai alat yang paling efektif untuk melakukan hegemoni dan mempengaruhi opini publik ke tengah masyarakat. Sehingga keberadaan media hari ini tidak dapat sepenuhnya independen.

Teks-teks media terus memberikan pengaruh terhadap publik berdasarkan kepentingan politik penguasa. Kini, netralitas dan integritas media massa kerap dipertanyakan. Pemberitaan negatif yang tendensius pada lawan politik dan islam kerap dilontarkan dan blow up sedangkan opini tentang pemerintah dan politiknya terus dicitrakan positif.

Kita masih ingat saat geliat kebangkitan islam mulai muncul ke tengah-tengah umat lewat perhelatan akbar 212 tahun 2016 hingga 2 kali diadakan reuni, media tak banyak memberitakan momen tersebut. Tercatat hanya satu media yang memberitakan acara tersebut pada reuni tahun lalu. Jika pun ada justru keberadaannya menyudutkan islam dan umat islam. Jika dalam sistem kapitalisme media dijadikan alat kepentingan lalu bagaimana sistem islam mengatur peran media?

Islam sebuah konsep kehidupan, mempunyai pandangan yang khas tentang kehidupan terkhusus aturan mengenai posisi media di ranah publik. Dalam sistem islam media massa mempunyai fungsi strategis yaitu melayani ideologi islam baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk membangun masyarakat islamiy yang kuat.

Ia akan dijadikan sarana menjelaskan semua tuntunan hidup berdasarkan syariat., beberapa nilai dan panduan bersikap hingga peningkatan kualitas hidup dengan pemanfaatan iptek. Selain itu, media juga akan dijadikan sebagai sarana untuk menunjukkan kekesatan ideologi dan pemikiran di luar islam serta mengungkap cara busuk yang digunakan untuk menjerumuskan manusia pada kehinaan dan kehilangan fitrah manusia.

Di samping itu, media akan digunakan sebagai sarana informasi dan edukasi untuk mencerdaskan pemikiran umat. Media juga menjadi sarana untuk publik berekspresi dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar dan muhasabah lil hukam. Sehingga keberadaan media dalam islam takkan digunakan untuk kepentingan politik tertentu.

Sebab hakikatnya media memiliki peran strategis yang bertujuan untuk mencerdaskan umat dan kepentingan dakwah islam bak di dalam maupun luar negeri. Secara khusus media massa akan diatur dalam sebuah departemen yakni departemen penerangan yang bertanggungjawab langsung pada negara.[MO/sr]


Posting Komentar