Witta Saptarini S.E
Guru

Mediaoposisi.com- Seperti yang kita ketahui dalam debat pilpres 17 februari 2019 lalu klaim capres petahana Jokowi banyak menuai perdebatan karena ketidak akuratan data-data lain baik fakta-fakta dilapangan maupun fakta digital.

Salah satu diantara tema yang banyak menuai perdebatan yaitu klaim hampir tidak adanya konflik dalam pembebasan lahan untuk memuluskan proyek infrastruktur negara dalam 4,5 tahun terakhir. Klaim tersebut terbantahkan dengan adanya fakta-fakta akurat. Menurut laporan KSP (kantor staf presiden) tercatat total konflik mencapai 555 kasus.

Berdasarkan catatan tahunan Konsorsium Pembaruan Agraria tahun 2017 maupun 2018 konflik akibat infrastruktur menempati posisi ke 3. Adhityani Putri dari Yayasan Indonesia Cerah mengatakan kerap terjadi konflik hebat di masyarakat saat pembangunan infrastruktur energi PLTU batu bara.

Fakta fakta tersebut menarik kesimpulan ‘ kesan berbohong” untuk menutupi kegagalan program dan menambah track record citra negatifnya ,yang hakekatnya kepemimpinan itu memberikan keteladanan dalam kesesuaian ucapan dan perbuatan yang akan dipertanggungjawabkan. Apakah mungkin membangun negara hebat dengan kebohongan?
   
Mereka yang kini merasa dunia dalam genggamannya dengan leluasa melakukan berbagai manipulasi seolah dapat memoles bentuk kehinaan menjadi kemuliaan lewat dunia dan tampak baik hanya dimata manusia.

Mereka melupakan kekuatan yang jauh lebih dasyat daripada dunia ialah Allah Dzat yang menciptakan dunia,manusia,kehidupan berserta aturan-Nya dan satu satunya Dzat yang tidak pernah berdusta.

Tertipu gemerlapnya dunia dan haus akan kekuasaan dan menjadi budak hawa nafsunya. Menjadikan rezim pengatur kebenaran yang benar disalahkan yang salah dibenarkan. Mampu berbohong secara sempurna dengan menyalahgunakan kekuasaan dengan memanfaat sederet perangkat yang mereka miliki untuk berbohong dari mulai data-data statistik , intelijen, media, dengan leluasa data-data mereka plintir sesuai kepentingan.

Maka pantaslah dengan julukan yang disematkan pada rezim ini sebagai pembuat hoax terbaik. Itulah segelintir produk yang memiliki tempat di alam demokrasi ini dengan mengahalalkan segala cara dengan jaminan kebebasan berprilaku.
   
Apakah seorang pemimpin tidak menyadari tidak semua rakyat dengan mudah dinina bobokan kebohongan melainkan semakin banyak rakyat mengoptimalkan akal sehatnya yang tak sudi terus menerus dibohongi. Kini sudah saatnya bangkit dari kehinaan dan keterpurukan. Berkata bohong bagi seorang muslim haram hukumnya karena merupakan akhlak yang buruk dan kelak akan dihisab.

Membangun negara hebat yang penuh keberkahan dengan kebohongan adalah utopis. Satu-satunya kunci untuk meraih kemuliaan dalam membangun negara hebat penuh keberkahan yaitu harus dilandaskan kejujuran, ketaqwaan dengan sebenar benar taqwa kepada Allah SWT serta meninggalkan hawa nafsu yang akan mengantarkan pada kemuliaan yang hakiki dan senantiasa menuntunnya untuk selalu terikat pada aturan Allah bukan hanya sekedar tampak taqwa berbalut kebohongan demi pencitraan.[MO|ge]

Posting Komentar