Oleh: Maria Ulfa Sujari
(Anggota BMI Community)

Mediaoposisi.com-Dunia pariwisata kini mendapatkan perhatian khusus karena dinilai mampu menambal lubang-lubang masalah ekonomi negeri yang menganga di berbagai sisi. Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sektor pariwisata merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja daripada sektor lain (CNN Indonesia).

Pengembangan sektor pariwisata dinilai akan mampu menyerap banyak tenaga kerja, sehingga masalah pengangguran bisa dikurangi.

Sayangnya, pemerintah kurang memperhatikan bahwa sektor ini juga menimbulkan dampak negatif yang sangat besar di samping keuntungan yang diperkirakan.

Dampak negatif itu antara lain adalah menyuburnya prostitusi. Mirisnya, ditemukan fakta berupa terlibatnya anak-anak dalam prostitusi.

Aktivis pendampingan dan pemerhati pekerja seks di Banyuwangi, Jos Rudy, membenarkan adanya praktik prostitusi terselubung yang melibatkan anak usia sekolah.

Di sejumlah tempat wisata, terdapat hotel serta tempat hiburan malam, dipastikan menawarkan dan menyediakan para pekerja seks yang dapat dihubungi secara langsung maupun online (VOA Indonesia.com).

Selain itu, penggerebekan tempat hiburan di Bali yang diduga melibatkan anak dibawah umur sebagai penyedia layanan seks pada Desember 2018 lalu, menjadi bukti praktik prostitusi yang melibatkan anak di daerah wisata.

Menurut Yuliati Umroh, Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang (ALIT), praktik prostitusi yang melibatkan anak tidak pernah dilakukan secara terbuka (jelasnya), namun hal itu dipastikan ada pada setiap daerah yang menjadi tujuan wisata, termasuk Banyuwangi yang diproyeksikan sebagai “The Next Bali.” (VOA Indonesia.com).

Pernyataan ke-dua tokoh di atas semakin menguatkan bukti keberadaan prostitusi anak di tempat wisata yang sangat mengkhawatirkan.

Ternyata tempat pariwisata yang diperkirakan dapat menambal permasalahan ekonomi justru memunculkan lubang masalah baru pada sisi lain, yakni menyuramkan masa depan moral generasi. Masa depan apa yang bisa ditawarkan oleh pariwisata bernafas liberal bagi anak-anak bangsa ini?

Sudah terlalu banyak bukti keadaan generasi yang membuat miris, termasuk terlibatnya mereka dalam dunia hitam prostitusi. Tentu hal itu tidak terlepas dari pemikiran yang melingkupi hidup mereka, yang membuat mereka terarahkan pada arus gaya hidup bebas.

Ia temasuk hasil dari penetrasi budaya Barat yang terjadi di negeri ini yang sangat mudah pula dibawa oleh pelancong dari luar negeri ke tempat-tempat wisata kita selain propaganda yang tersebar di dunia maya.

Itulah sebagian faktor yang membuat mereka nekat melakukan segala cara agar dapat mengikuti gaya hidup yang tak semestinya, termasuk dengan cara instan yang bisa menghasilkan banyak pendapatan, termasuk terjun di dunia gelap prostitusi.

Terlebih lagi hasrat mereka ini terwadahi dengan berkembangnya sektor pariwisata yang menyediakan hotel-hotel yang memperdagangkan layanan seks kepada para pengunjung.

Oleh karena itu, permasalahan ekonomi negeri ini tidak akan bisa diatasi jika hanya menonjolkan pariwisata, sedangkan kekayaan potensi sumber daya alam lain yang jelas tinggi nilainya masih digenggam erat oleh asing.

Membiarkan prostitusi anak tanpa hukum yang jelas adalah ibarat menjual harga diri kita, anak-anak kita sendiri. Keuntungan berupa uang memang didapat, namun apa artinya jika harga diri terjual?

Hukum yang jelas dan manusiawi hanyalah hukum Islam. Ia adalah hukum yang bisa menjerakan semua pihak yang bermaksiat, seperangkat hukum yang tidak tebang pilih.

Bukan melindungi orang-orang yang melakukan kemaksiatan semisal seks tapi atas dasar suka sama suka dengan dalih HAM, prostitusi kelas kakap di mana para pejabat terlibat namun tak terungkap, atau meminum miras legal.

Sudah saatnya kaum muslimin bangkit dari sistem hidup yang rusak menuju sistem hidup Islam yang meniscayakan keadilan dan keberkahan.[MO/ad]

Posting Komentar