Oleh: Aulia Rahmah 
(Founder Komunitas Lingkar Iman dan Tsaqofah)

Mediaoposisi.com-Beberapa hari lalu, Calon wakil presiden nomor urut 01, Kiai Ma'ruf Amin menyampaikan dalam dalam acara Konvensi Rakyat Optimis Indonesia Maju di SICC Ahad, 24 Februari 2019 bahwa "Untuk Indonesia maju, kita harus menang.

Kita pantas menang karena kita punya modal yang besar," (kompas.com, 24/02/2019). Di kesempatan ini, pihaknya mengklaim bahwa segala hasil kerja presiden berkuasa saat ini adalah sebuah modal besar yang patut jadi pertimbangan rakyat dalam memilih pemimpin berikutnya.

Kontestasi politik ala Sekulerisme dalam balut Demokrasi saat ini memang telah menjadikan makna kepemimpinan bergeser sangat jauh. Pemimpin yang seharusnya mengabdikan dirinya demi kepentingan rakyat, kini kita rasakan justru hanya menjadikan rakyat sebagai alat untuk melanggengkan kekuasaannya.

Rakyat berkali-kali dibuai oleh janji indah nan memikat, namun berulang juga nyatanya ia berkhianat. Sebagai contoh, dikutip dari cnbcindonesia.com (7/2/2019) menerangkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018 adalah sebesar 5,17%, padahal di awal masa pemerintahan rezim saat ini, menjanjikan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 7%.

Belum lagi soal infrastruktur yang diagung-agungkan nyatanya hanya melegakan untuk segelintir orang. Kesehatan dan pendidikan pun banyak luput dari pembenahan. Mimpi indah yang sungguh jauh dari realita.

Sebuah sikap optimisme yang tidak disertai dengan perhitungan yang matang hanya akan menghasilkan angan yang tak juga kesampaian. Sedang rakyat semakin lantang jeritannya menggugat janji yang tak kunjung nyata terjadi.

Sangat miris terasa, lagi-lagi kita belum sepenuhnya menyadari harapan palsu yang terus berulang ini tak lain adalah akibat dari penerapan sistem warisan imprealis dengan perangai khasnya sebagai hegemoni yang menyengsarakan rakyat. Sekuat apapun upaya kita untuk berdikari, tak akan pernah sistem kolonial ini merestui.

Sejatinya, tak ada yang lebih memahami manusia selain penciptanya sendiri. Maka, jika kita ingin mewujudkan kebangkitan bangsa Indonesia dan memajukan segala aspek di dalamnya, sudah sepantasnya kita kembalikan seluruh pengaturan kehidupan sesuai dengan tuntunan Dzat yang paling memahami hakikat manusia.

Sudah saatnya kita kembalikan peran Allah SWT sebagai Al-Mudabbir, Sang Maha Pengatur. Ambillah syariat-Nya secara sempurna dan buang jauh sistem warisan imprealis bengis yang hanya menyengsarakan jiwa dan raga rakyatnya.

Ketakwaan sesungguhnya bukan kewajiban individu semata, karena negara adalah pilar utama dalam mewujudkannya. Bukankah tempo hari ada yang berkata, 'tidak ada yang saya takutkan selain Allah SWT'? Lalu, apalagi yang membuat negeri ini menunda untuk menerapkan Syari'at-Nya? Apakah justru sebenarnya para pemodal dan investor lebih ditakuti kepergiannya ketimbang Rahmat dan Kasih Sayang Allah yang semakin menguap seiring lupanya kita untuk bersegera dalam menegakkan aturan-Nya?

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Q.S. Ar-Ruum: 41)

Modal besar kita bukanlah hasil kerja semata, modal besar kita yang utama adalah ideologi Islam. Ya, Islam memang bukanlah agama ritual semata, namun Islam adalah sebuah aturan hidup yang sempurna dan menyeluruh. Sebuah pedoman bagi manusia dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang indah lagi berkah.

Cita-cita mengembalikan kehidupan Islam inilah yang harus dipupuk penuh optimisme. Karena mimpi ini adalah mimpi paling realistis. Sudah pernah terbukti selama 13 abad lamanya bagaimana peradaban Islam mampu memuliakan manusia, bahkan belum pernah ada peradaban lain yang mampu menandinginya. Lalu, tidakkah kita ingin untuk merasakan keberkahan itu kembali?

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Periode kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu datang periode khilafah aala minhaj nubuwwah (kekhilafahan sesuai manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’ala mengangkatnya.

Kemudian datang periode mulkan adhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Setelah itu akan terulang kembali periode khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam.” (HR Ahmad; Shahih)[MO|ge]

Posting Komentar