Oleh: Muhammad Amilurrohman 
(Pemerhati Politik)

Mediaoposisi.com-Pada hari Jumat, tanggal 25 Januari 2019, Jokowi menyambangi Pondok Pesantren Bayt Al-Qur’an bertemu dengan Quraish Shihab. Salah satu yang menjadi fokus pembicaraan, yakni soal pentingnya penyebaran Islam Wasathiyah atau Islam yang moderat di Indonesia. "Banyak yang kita perbincangkan. Tapi intinya mengenai moderasi Islam. Islam yang moderat. Wasathiyah Islam. Itu yang tadi kira-kira kita perbincangkan," ujar Jokowi, seusai silaturahim. Qurais Shihab menambahkan, dunia saat ini memang membutuhkan Islam yang cinta damai, bukan yang penuh kekerasan. (nasional.kompas.com)

Pembahasan Islam Moderat bukanlah hal baru. Ia hadir untuk membedakan diri dengan Islam Radikal, Islam Fundamentalis, literalis, dan label-label stigmatis dan stereotyping lain yang memojokkan sebagian gerakan Islam. Dikatakan, Islam Moderat adalah representasi ajaran Wasathiyah Islam yang termaktub dalam Surat Al Baqarah 143.

Oleh karenanya, selain Islam Moderat dengan berbagai macam stigma negatif tersebut dikatakan sebagai Islam yang bersebrangan dengan ajaran Wasathiyah dalam ayat tersebut. Dalam banyak kesempatan termasuk dalam pertemuan dengan Jokowi, Qurais Shihab menegaskan perbedaan antara Islam Moderat dengan Islam lainnya adalah unsur kekerasannya. Islam Moderat lebih mengedepankan perdamaian sementara Islam lainnya lebih mengedepankan kekerasannya. Salah satunya dalam pembahasan ajaran jihad.

Dalam sebuah jurnal yang dibuat oleh Thoriqul Aziz dan Ahmad Zainal Abidin (IAIN Tulung Agung) dengan judul “Tafsir Moderat Konsep Jihad Dalam Perspektif M. Quraish Shihab” penafsiran jihad diarahkan lebih kepada makna lughawi-nya daripada makna syar’i­­-nya. Dalam Tafsir al-Misbah, jihad kemudian diartikan: 

1) mencurahkan segala kemampuan atau menanggung pengorbanan.

2) bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Dengan pemaknaan ini, jihad yang sesuai dengan konteks kekinian dan lebih mengedepankan perdamaian adalah jihad pendidikan, jihad politik, jihad kemiskinan, dan lain-lain. Sementara jihad mengangkat senjata dianggap tidak kekinian dan lebih mengedepankan kekerasan yang tidak sesuai dengan ciri Islam yang cinta damai. Demikianlah salah satu contoh Islam Moderat yang diajarkan oleh Quraish Shihab.

Akibatnya, Hizbut Tahrir Indonesia – yang sekarang dicabut status Badan Hukumnya – yang telah secara konsisten melakukan gerakan anti kekerasan dituduh sebagai Islam Radikal karena menawarkan solusi tuntas berupa Jihad mengangkat senjata untuk membela muslim Rohingya dan Palestina. Begitu pula Aksi Damai 212 yang begitu jelas berjalan dengan damai meski jutaan kaum muslimin berkumpul tetap dituduh sebagai Islam Radikal karena dimotori oleh personal dan gerakan Islam yang punya pemahaman yang sama (kiblat.net).

Sementara, Banser dan Ansor yang jelas-jelas membubarkan banyak pengajian tidak dituduh sebagai Islam Radikal. Bahkan, aktivitas pembubaran itu dianggap sebagai upaya Muslim Moderat untuk memerangi radikalisme agama (dw.com).

Demikianlah, ajaran Islam Moderat sejatinya adalah ajaran untuk menyerang siapa saja yang menyeru kepada ajaran Islam yang kaffah meski pengembannya tidak melakukan kekerasan. Sementara, siapa saja yang menyeru kepada moderisasi Islam meski pengembannya melakukan kekerasan untuk mendakwahkannya akan tetap dipandang sebagai Pahlawan Islam Moderat.

Jika demikian halnya, sejatinya ajaran Islam Moderat tidaklah lebih dari sekedar alat pemukul siapapun yang mengajarkan Islam Kaffah dengan tuduhan mengajarkan ajaran radikalisme. Padahal, selama yang diajarkan adalah Islam maka itulah ajaran Rahmatan Lil Alamin. Oleh karenanya, sangatlah tidak tepat jika kemudian Islam Moderat dipandang sebagai ajaran Wasathiyah sebagaimana yang terkandung dalam Al-Baqarah 143.

Sebab, para ahli tafsir menyimpulkan sifat wasath adalah sifat umat nabi Muhammad saat mereka konsisten menjalankan ajaran-ajaran Allah Subhanahu Wata’ala sehingga menjadi umat yang terbaik dan terpilih (hidayatullah.com). Maka, siapapun personal maupun gerakan yang senantiasa mengajarkan Islam secara kaffah tanpa kekerasan dengan konsisten menjalankan ajaran-ajaran Islam, merekalah muslim “wasath” meski dituduh sebagai muslim radikal![MOsr]

Posting Komentar