_#Sebuah catatan bagi Tuan-tuan Guru_

©Vier A. Leventa
(Mataram Liberation Commune)

Tuan guru, mari saya petikkan satu ucapan. 

Mediaoposisi.com-“Demokrasi menjadi mimpi buruk dalam sistem pemerintahan. Pertama: demokrasi bisa mengarah pada gerombolan ‘mafia’ pemuas hasrat sesaat. Kedua: demokrasi yang dikuasai pandir yang hanya pintar beretorika. Ketiga: demokrasi mengarah pada intrik pertikaian.”

Demikianlah pandangan Plato terhadap demokrasi, seorang filsuf yang notabene lahir di alam raya demokrasi Yunani kuno itu. Tentu Tuan-tuan guru telah tau, bahwa di tempat kelahirannya sendiri, demokrasi telah lebih dulu mendapat kritikan dari para pemikirnya.

Plato adalah satu contoh tokoh yang kehilangan kepercayaannya, setelah gurunya Socrates dihukum mati oleh pemerintahan demokratis. Mereka menuduh socrates seorang penjahat yang mengajak kaum muda untuk tidak mengimani dewa-dewi yang dianut oleh negara, dan juga sebab ia lebih mempercayai kerohanian atau agama yang baru.

Tentu Tuan-tuan guru menyadari, bahwa realitas demokrasi yang terjadi ribuan tahun lalu, sejatinya tidak berbeda dengan yang terjadi hari ini.

Di awal kemunculannya demokrasi telah gugur sebelum berkembang. Dan kini ia pun mengulang kembali realitas itu di negeri-negeri Islam umumnya, dan negeri kita Indonesia khususnya. Pepatah Arab kuno mengatakan, "Tak ada bedanya malam ini dan malam kemarin", sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri.

Tuan-tuan Guru, ungkapan "historia magistra vitae", bahwa sejarah bertindak sebagai guru kehidupan hendaklah kita pikirkan. Bahwa ia mampu menjadi maklumat dan infornasi bagi generasi terkini.

Dr. 'Abdul 'Azhim Mahmud al-Dayb menyebut bahwa sejarah bukan pengetahuan masa lalu, melainkan ilmu masa kini dan masa depan. Hal ini tentu berlaku bagi kaum Muslim yang telah berkali-kali ditimpa tipu daya demokrasi.

Tuan-tuan guru insafkah kita bahwa masyarakat kita telah pernah ditipu berkali-kali? Demokrasi telah memberi kita harapan palsu yang tak pernah berwujud, ianya hanya mampu mewujudkan ketakutan-ketakutan.

Tentu Tuan-tuan guru telah lebih dulu mengetahui, bahwa sejak mula kedatangannya, demokrasi telah memecah belah rakyat negeri, dan menjauhkan Islam dari kehidupan penganutnya. tentu kita ingat, bagaimana kaum Muslim beradu pandangan dengan kaum nasionalis perihal demokrasi dan paham nasionalisme, beberapa puluh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan.

Kita ingat Bagaimana Tuan Guru A. Hassan dan M. Natsir di satu sisi menentang nasionalisme yang berbasis pada sekulerisme demokrasi yang diusung oleh Tuan Soekarno dan kawan-kawannya.

Tentu Tuan-tuan guru telah melihat, bagaimana kaum Muslim dikhianati dengan penghapusan 7 kata dalam piagam jakarta, bagaimana kaum Muslim di dalam sidang Konstituante pun telah dikecewakan. Tuan-tuan tentu ada yang sebagian menyaksikan, bagaimana tokoh-tokoh kita dan partainya dibubarkan, hingga sebagian mereka dipenjara.

Tuan-tuan guru yang tercinta, Tuan guru Ahmad Mansur pernah berkata, "Sejarah adalah sebuah ingatan, maka apa jadinya manusia jika tanpa ingatan". Tentu manusia tanpa ingatan itu akan terjerumus berkali-kali. Goyanglah pijakan kakinya. Terapung-apung di atas ketidakpastian peradaban. Manusia yang hilang ingatan tak dapat mendefiniskan dirinya sendiri, ia akan kesulitan mengukur, mana yang harus diterima, dan mana yang harus ditolak.

Hari ini, kami melihat perjuangan Tuan-tuan guru sekalian. Melawan penindasan, merobek topeng kepalsuan rezim yang zhalim. Hari ini benar tengah kita saksikan apa yang dikatakan Plato di awal tulisan ini. Negeri kita tampak sedang dipenuhi oleh gerombolan mafia pemuas nafsu. Islam, baik ajaran maupun penganutnya bertubi-tubi menjadi bulan-bulanan mereka.

Hari ini kita saksikan kembali drama ribuan tahun lalu itu, dimana para pandir yang hanya beretorika itu menguasai kita. Dengan janji-janji palsunya yang justru menikam kita.

Dan hari ini kita lihat, dimana pertikaian dipelihara. Kita sesama anak negeri diadu domba tanpa tau tempat penyelesaian. Sungguh, Tuan-tuan guru, generasi kami muak menyaksikannya.

Di tengah perjuangan Tuan guru sekalian untuk kembali memuliakan negeri ini, terlihat serigala mencoba masuk dalam kawanan. Teriakan bahwa perjuangan ini adalah perjuangan untuk demokrasi, kembali disuarakan.

"Pro-Democracy Leader", mulai disematkan pada tokoh-tokoh yang diharapkan rakyat.
Insaflah kita Tuan-tuan guru, bahwa itu bisikan berbahaya bagi sanubari kita. Jangan sampai terjebak kembali Tuan.

Tegaslah Tuan-tuan guru, bahwa itu bukan jalan kita. Tidak cukupkah hanya Islam sebagai jalan hidup kita? hingga demokrasi yang jelas membahayakan iman dan jiwa rakyat ini harus tetap kita upayakan?

Tuan-tuan guru sekalian tentu menghafal dan memahami betul ayat-ayat Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 41 hingga 50. Sungguh Tuan, itu adalah seruan yang nyata, bahkan terlampau nyata bagi hati yang tak buta. Kita diseru berhukum dengan hukum-Nya, Qur'an dan Sunnah. Hanya kemurkaan dan kehinaan akhir bagi kita yang menyalahinya.

Yakinkan kami wahai Tuan-tuan Guru, bahwa Islam mampu memimpin kembali. Mengembalikan kehormatannya, dan melindungi seluruh umat manusia. Dimana hal itu tak mampu diberikan oleh demokrasi dan pengusungnya. Jangan biarkan kebenaran Islam ditimbang di atas meja merah senayan, jangan biarkan darahnya menggenang di hadapan moncong penghina Tuhan.

Tuan-tuan Guru sekalian, insaf-lah kita, dari tipu daya demokrasi.[MO|ge]

Posting Komentar