Oleh: Ummu Zhafran
(Pengasuh Grup Ibu Cinta Quran)

Mediaoposisi.com- Tidak ada yang kebetulan di muka bumi. Semua adalah skenario Tuhan , sang pemilik rencana sempurna (Tere Liye).

Belakangan ruang publik diramaikan dengan dua kata.  Menang dan Barokah.  Yang pertama mencuat dalam suasana kampanye.  Tepatnya pada platform visi dan misi salah satu calon presiden di negeri khatulistiwa.  Bertajuk Indonesia Menang. 

Sementara yang berikutnya bertengger jadi nama tabloid kontroversial nan misterius, Indonesia Barokah.  Disebut kontroversial sebab isinya dinilai menyudutkan pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. (detik.com, 25/1/2019). 

Misterius karena hingga detik ini tak jelas siapa dalang di balik terbitnya media cetak ini. Bahkan Direktur Komunikasi dan Media Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Hashim Djojohadikusumo, menyebut berita-berita Tabloid Indonesia Barokah menyudutkan calon Presiden dan wakil presiden RI nomor urut 2, Prabowo-Sandiaga. Hashim mengklaim Tabloid Indonesia Barokah tidak terdaftar secara resmi di Dewan Pers. (detiknews, 27/1/2019).

Lepas dari hal-hal tersebut, tulisan ini tidak dimaksudkan  untuk membahas lebih jauh latar belakang di atas.  Namun fokus pada dua kata- sekali lagi-menang dan barokah yang akrab di dunia Islam.
Menang Yang Dijanjikan.

Dalam Islam kemenangan merupakan keniscayaan.  Allah menjanjikannya bagi orang-orang mukmin.  Terdapat banyak ayat Kitabullah terkait hal ini bak mutiara bertaburan.  Di antaranya dalam surah Ash-Shaffat,  Allah berfirman,

 “Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” ( TQS Ash-Shaffat : 171-173 )

Di surah yang berbeda Allah kembali menetapkan,
"Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” ( TQS Al Mujadilah : 21). 

Sungguh dalil yang tak terbantahkan.  Tak ada celah bahkan untuk secuil keraguan.  Bahwa kemenangan bagi Islam itu paten.  Wajar bila kini umat merindukan.  Jika menang itu definit lantas kapan bisa terwujud?

Melelah Hidup yang Barokah
Dalam kamus Al Munawir, barakah (البركة) artinya adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia.” Sedang menurut Imam al Ghazali, berkah artinya ziyadatul khair, “bertambah-tambahnya kebaikan”.

Adapun makna barokah dalam Al Quran dan As Sunah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya (Muhammad Abduh Tuasikal, Cara Mudah Meraih Berkah, 2010). 

Masalahnya kadang kita salah mengira. Mengejar kebaikan dari manusia.  Padahal  seluruh kebaikan dan keberkahan asalnya dari Allah semata. Allah Ta ’ala berfirman,
Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS. Ali Imran: 26).

Sehingga mengharap datangnya keberkahan selain dari Allah sungguh sia-sia.  Walaupun ada yang diperoleh, tanpa barokah Allah apalah artinya? Tak perlu menunggu lama segera menguap tak bersisa.

Hanya Satu Kata
Harus diakui terkadang Allah  Ta’ala menguji kita dengan kemiskinan, musibah, penyakit, dan kekalahan. Demikian pula Allah  Ta’ala menguji kita dengan harta, kebahagiaan, kesehatan, dan kemenangan.  Agar diketahui siapa di antara kita yang benar-benar bersyukur atas nikmat atau malah kufur.  Namun di atas segalanya yakinlah kebaikan baik di dunia maupun di akhirat pasti diraih oleh hamba-hamba-Nya yang bertakwa.  Firman Allah swt,
Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qashash: 83).

Jelaslah syarat  dari segala kebaikan, termasuk kemenangan di dalamnya hanya satu yaitu takwa.  Kata yang telah masyhur terdefinisi, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Mari simak ketika Abu Dzar Alghifari meminta nasihat kepada baginda Rasulullah, maka pesan utama yang beliau sampaikan kepada sahabatnya itu adalah takwa. Rasul saw. bersabda: “Saya wasiatkan kepadamu, bertakwalah engkau kepada Allah karena takwa itu adalah pokok dari segala perkara.” (Tanbih al-Ghofilin, Abi Laits As-Samarkindi).

Maka sudah selayaknya bila ingin meraih kemenangan dan barokah tentu  takwa sudah harus dalam genggaman.  Sebab  Alquran dan As-sunah menjamin kabar gembira bagi orang-orang yang bertakwa. Di antaranya orang yang bertakwa akan senantiasa mendapatkan solusi terbaik dalam menghadapi persoalan. Allah SWT berfirman, "Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya." (TQS. At-Thalaq: 2).

Berikutnya orang yang bertakwa senantiasa akan dilapangkan rezekinya. Allah SWT berfirman,
 "Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di duga-duga." (TQS. At-Thalaq: 3).

Tak cukup demikian orang yang bertakwa juga senantiasa diberikan tambahan petunjuk serta diampuni dosa dan kesalahannya oleh Allah. Allah SWT berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepadamu dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu serta mengampuni dosa-dosamu." (TQS. Al Anfal: 29).

Meminjam kata pepatah, di mana ada takwa di situ ada janji Allah Ta ’ala.  Berupa kemenangan dan keberkahan.  Tak hanya pada individu hamba namun sampai di level bangsa dan negara.  Bukan cuma Indonesia tapi juga umat  seluruh  dunia.  Andaikan semua bertakwa dengan meninggalkan aturan buatan manusia lalu menerapkan Islam secara kaffah,  menang dan barokah niscaya tak sekedar angan hampa.  Maha Benar Allah dengan firman-Nya,

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al A’raaf :96).[MO/sr]

Posting Komentar