Oleh: Wulandari Muhajirin

Mediaoposisi.com-”Siapa saja diantara kalian yang bangun pagi hari dalam keadaan diri dan keluarganya aman, fisiknya sehat dan ia mempunyai makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia mendapatkan dunia (HR at-Tirmidzi)”

Terkadang dalam kehidupan bermasyarakat  kita  mendengar berita tentang seorang yang jatuh sakit lalu pergi berobat sampai keluar negeri dan menghabiskan dana yang cukup besar.

Berobat sampai berbulan-bulan, tak jarang sang pasien menghabiskan separuh hartanya untuk mencari kesembuhan yang tak kunjung nampak.

 Hal tersebut menggambarkan bahwa kesehatan adalah suatu yang esesnsial bagi individu dan tidak dapat dinilai secara kuantitatif.

Tanggal 25 Januari lalu yang diperingati sebagai Hari Gizi Nasional, dipaparkan bahwa anak usia sekolah Indonesia berumur 4-12 tahun kekurangan nutrisi otak karena hanya mendapatkan sedikit asupan asa lemak esensial, khususnya Omega 3 dan DHA.

Penelitian ini dimuat di British Journal of Nutrion (2016) yang berjudul “Intake of essential fatty acids in Indonesia children: secondary analysis of data from a nationally representative survey”.

Menurut Gurubesar Institusi Pertanian Bogor, Ahmad Sulaeman yang turut serta dalam penelitian tersebut, kurangnya asupan asam lemak esesnsial khususnya DHA dapat mempengaruhi kondisi fisik dan kepintaran anak.

Kekurangaan omega 3 dan DHA bisa berdampak pada masa depan anak diantaranya hambatan pada pertumbuhan otak, tingkat kecerdasan, tumbuh tak sempurna, kekebalan tubuh melemah, hingga perubahan emosi yang mempengaruhi prestasi anak. Sehingga mengakibatkan di usia dewasa anak tersebut tidak bisa produktif.

Bahwa ketahanan dalam bidang kesehatan sangat penting, termasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan gizi.

Ketika pemenuhan gizi masyarakat sesuai takaran maka output nya adalah masyarakat yang kuat dan cerdas, memiliki kekuatan fisik yang memumpuni dan kecerdasan dalam bidang intelektual untuk melakukan pengembangan dalam kemaslahatan hidup.

Sebaliknya, jika kesehatan masyarakat terlantar dalam artian masyarakat kekurangan gizi maka ketahanan fisik akan melemah dan dan perkembangan kognitif terhambat maka terperangkaplah masyarakat tersebut dalam kebodohan.

Lemah dari segi fisik dan kebodohan yang menjangkit masyarakat membuat masyarakat terpuruk dan membuka peluang bagi kaum imperialis menjalankan visi dan misinya.

Diantaranya melakukan pengerukan sumber daya alam untuk memperkaya diri pihak imperialis. Serta melakukan perusakan aqidah, terutama kaum muslim.

Padahal aqidah dari seorang muslim adalah suatu yang sangat fundamental. Ketika aqidah mulai rusak maka rusak lah sendi-sendi kehidupan yang lain. Hal tersebut menjadi pelumas yang semakin memperlancar pihak imperialis melakukan penjarahan.

Jelaslah ketika kaum imperialis merealisasikan visi misinya tersebut tidak akan ada perlawanan yang berarti dari masyarakat.

Selain fisik yang lemah, kebodohan yang tak terobati, aqidah yang seharusnya menjadi pondasi pun ikut melemah. Hanya  bisa mengaduh ketika melihat kaum asing mengangkut kekayaan Negeri Indonesia selama puluhan tahun.

Akhirnya berujung pada kesempitan hidup yang dinyanyikan masyarakat Indonesia dari ujung barat sampai ujung timur.

Menyaksikan problem tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mencari solusi yang tepat. Mengkaji faktanya, memahami masalahnya, dan tentunya akan lahir solusi yang tepat.

Bahwa sebenarnya akar dari masalah kesehatan, karena abainya pemerintah dalam mengayomi urusan kesehatan masyarakat. Hak dasar seluruh masyarakat yang termasuk didalamnya tentang masalah kesehatan adalah menjadi tanggungan negara atau pemerintah.

Alasan pemerintah saat ini bahwa defisitnya keuangan negara. Kalau ditelisik alasan tersebut tidaklah kuat, karena kita ketahui negeri kita adalah negeri yang subur seperti syair dari koes plus “tongkat dan batu jadi tanaman”.

Syair tersebut cukup mewakili betapa subur dan kayanya negeri kita. Hasil laut, hasil hutan, tambang, minyak bumi menjadi potensi terbesar Indonesia.

Potensi alam tersebut harusnya dikelola secara mandiri oleh negara. Yang keuntungannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bukannya malah memberikan pengelolaan dan keuntungan kepada pihak asing. Memprivatisasi kepemilikan umum yang merupakan suatu pelanggaran.

Masalah Pengelolaan kekayaan negeri ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.  Pihak asing pun selalu memperpanjang kontrak pengelolaan, mereka akan berhenti ketika kekayaan tersebut sudah habis dikeruk.

Untuk itu marilah kita kelola potensi kekayaan Indonesia secara mandiri, yang keuntungannya nanti bisa kita manfaatkan untuk kemaslahatan umat. Termasuk kemaslahatan dalam bidang kesehatan.[MO/ad]

Posting Komentar