Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Sungguh mengecewakan, seorang ulama' besar yang ikut aksi 212, merasa bersalah  dan minta maaf pada BTP alias ahok yang sudah menistakan al-Qur'an surat al-Maidah. Kenapa Ma'ruf Amin minta maaf?

Pertama, dia mengakui kesalahannya sudah menuntut BTP atas tindakannya menistakan agama. Dengan kata lain, dia menganggap apa yang dilakukan BTP adalah benar. Sungguh, terlalu perbuatan menistakan salah satu ayat di al-Qur'an dianggap biasa dan bahkan suatu yang benar sehingga dia harus meminta maaf. Dia sama saja mengatakan bahwa aksi 212 yang menuntut Ahok diadili karena menistakan agama adalah salah. Sungguh terlalu aksi yang diikuti jutaan umat dan ulama' dianggap salah dan sia-sia.

Kedua, dia tidak berdaya menolak permintaan bosnya, Jokowi dan Megawati. Untuk mengambil hati BTP agar mau mendukung pencalonan Jokowi, Ma'ruf disuruh minta maaf atas kekhilafan sudah menuntut Ahok agar diadili atas kesalahan menistakan agama. Sebagai wakil Jokowi, Ma'ruf tidak berdaya untuk menolak permintaan bosnya, walaupu resikonya namanya akan hancur didepan umat. Sungguh, apa yang  dia telah lakukan akan merendahkan dirinya didepan Ahok penista agama dengan menjilat ludahnya sendiri.

Dia yang dulu semangat menuntut Ahok agar diadili, kemudia sekarang tiba-tiba minta maaf. Jokowi cs menyadari bahwa BTP mempunyai pendukung yang tidak sedikit. Agar BTP dan pendukungnya mau memberikan dukungannya pada Jokowi, dia menyuruh Ma'ruf meminta maaf tanpa bisa dia bisa menolaknya.

Ketiga, Amin sudah berubah pemahamannya karena bergaul dengan penista agama. Pemikirannya tidak lagi militan, tapi liberal. Jihad dianggap ajaran terorisme. Menistakan agama dianggap biasa, sementara yang memperjuangkan khilafah dianggap menyebarkan ideologi berbahaya yang harus dimusuhi. Begitu cepatnya dia berubah, setelah mendampingi Jokowi dan menjadi pembelanya.

Dapat disimpulkan bahwa ada tiga alasan yang memicu  Ma'ruf Amin meminta maaf pada Ahok.

Pertama, dia mengaku bersalah atas tindakannya dan itu berarti menganggap benar apa yang dilakukan Ahok dengan menistakan surat al-Maidah.

Kedua, dia terpaksa melakukannya dan tidak berdaya menolak permintaan bosnya. Ketiga, pemahamannya sudah berubah setelah  bergaul dengan orang-orang yang anti agama. Pemikirannya lebih sekuler dari sebelumnya. Tindakannya meminta maaf pada Ahok hanya akan merendahkan dirinya dihadapan mereka, musuh-musuh Islam.[MO/sr]


Posting Komentar