Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Awalnya saya tidak membaca unggahan broadcast di berbagai GWA tulisan dari Dr. Chazali H. Situmorang, APT, MSc berjudul 'Perang Total Melawan Akal Sehat'. Namun setelah masif beredar akhirnya tertarik juga membacanya, dahi saya berkerenyut dan batin saya bergumam 'benar juga ya'.

Kalau mau dikritisi secara narsis, pilihan diksi 'Perang Total' yang disampaikan Jenderal Undur Undur untuk melawan rival politik di musim Pilpres saat ini, adalah ungkapan sadis, sarkasme, bar-bar, egois, sebuah kepongahan berbangsa yang mengubah ritual pesta tahunan menjadi ajang membelah bangsa untuk berdiri bersama dirinya atau menjadi musuh yang akan diperangi secara total.

Ungkapan yang telah menegasikan kebhinekaan bahkan kerakyatan. Tidak lagi ada kesepahaman bahwa kita sebagai rakyat dari sebuah bangsa yang besar tetaplah rakyat Indonesia, yang dituntut saling bersinergi karena adanya berbagai perbedaan dan latar belakang, bukan diperangi.

Kebhinekaan telah sirna, hubungan kerakyatan telah diubah menjadi hubungan perang. Anda bersama kami, atau Anda menjadi musuh kami, begitu dahulu George Bush Junior mengancam dunia pasca peristiwa bom menara kembar.

Siapapun bahkan sang Jenderal Komang Komang bisa berdalih, ungkapan 'Perang Total' hanyalah Kiasan. Sama seperti ungkapan La Nyala yang akan 'Potong Leher' jika Madura suara Jokowi kalah, yang kemudian setelah terpojok diklaim sebagai upaya 'menyemangati'.

Namun kata itu mengungkap apa yang ada didalam dada. Pilihan kata akan mengungkap siapa pemilik bahasa, karakter dan Perwatakan dalam politik. Dalam interaksi sosial di Jawa (khususnya Jawa Mataraman), kata itu punya makna untuk menggambarkan derajat seseorang. Level bahasa dari yang ngoko, basa sampai krama inggil, menunjukan kelas seseorang.

Saya ingin mengaitkan apa yang disampaikan Jenderal Undur Undur ini, dengan karakter partai yang mengusung Jokowi. Parte kebo, sering mengungkap unggahan kata banteng Ketaton (baca: Kebo Ketaton). Ungkapan ini, adalah bahasa untuk mewakili ketersakitan, emosi, dendam dan perlawanan. Sehingga, apapun akan dilakukan untuk memenuhi hasyrat ketersakitan, emosi, dendam dan perlawanan.

Parte kebo telah melihat posisi politik Jokowi sangat memprihatinkan. Karena itu, perlu perlawanan sengit layaknya kebo Ketaton, lebih agresif untuk memenangi kontestasi. Namun Parte kebo lupa, bahwa kebo itu Ketaton karena lehernya di gorok.

Kemampuan manuver karena Ketaton, hanyalah untuk melampiaskan rasa sakit sebelum ajal menjemput, bukan mewakili perlawanan sengit yang terukur dan terarah untuk menenangkan pertarungan.

Narasi politik 'perang total' dan gambaran keadaan yang terjepit nyaris jatuh itulah, nampaknya tim Jokowi perlu membuat narasi ganas untuk menyemangati kader, bertempur habis habisan untuk memenangkan Pilpres 2019. Dalam perspektif lain, publik juga bisa membaca aroma kekalahan jagoan Parte kebo, sebab leher kebo telah berdarah-darah, tinggal menuju ajal.

Hilang sudah narasi untuk membangun, memberi janji dan keyakinan, mendulang 'Mimpi Indonesia' untuk masa depan anak cucu negeri ini. Benak yang telah dipenuhi syahwat politik, mengunggah ujaran menang-menangan, dan bahkan secara tegas mengumbar ancaman dengan ungkapan 'Perang Total', sungguh sangat memprihatinkan.

Bahaya sekali negeri ini jika pemimpinnya memiliki karakter seperti ini. Bagaimana mungkin, pemimipin seperti ini bisa memimpin segenap rakyat Indonesia ?

Sekarang saja Jokowi telah meneguhkan diri sebagai Presiden pendukungnya, rakyat yang berbeda pilihan politik tak dianggap menjadi bagian kewajiban dan tanggung jawabnya untuk dilayani. Narasi yang dibangun justru ngajak rakyat berantem. Yang begini ini masih mau dipilih ? []

Posting Komentar