Gambar: Ilustrasi

Oleh: Muh. Reza

Mediaoposisi.com-Dewasa ini, kita sudah dimanjakan oleh kecanggihan teknologi. Untuk kemanapun kita pergi, cukup bicara di depan telepon genggam sambil berbicara. Kita tinggal mengatakan, “Aku mau ke tempat A!” di depan alat komunikasi tersebut, kita langsung diarahkan sebuah aplikasi Google Map. Teknologi itu bernama Google Talk.

Kita tidak membicarakan bagaimana alat itu bisa menjawab pertanyaan manusia layaknya manusia juga. Kita juga dikenalkan dengan teknologi milik Apple yang juga bisa berbicara. Teknologi itu bernama Siri. Kita cukup bertanya apapun pada teknologi tersebut, Siri akan menjawab apapun sesuai dengan informasi yang ditanyakan.

Mungkin, itu beberapa teknologi yang memiliki system kerja seperti manusia. Tujuan teknologi, tentu saja, untuk mempermudah kerja dan mobilisasi manusia dalam menjalankan suatu aktivitas. Seperti kerja, sekolah, mengerjakan tugas sekolah, pekerjaan dapur, dan lain-lain. Kemudahan itu juga tidak lepas dari sisi lemah yang harus dapat kita antisipasi.

Teknologi ibarat dua sisi mata uang, ada manfaat positif tetapi juga bisa menimbulkan ke-mudharat-an. Banyak sekali pelaku kejahatan yang menggunakan teknologi tersebut untuk menyampaikan informasi yang salah. Bahkan tak jarang, mereka sengaja untuk menjebak manusia agar memperoleh keuntungan materi. Maka dari itu, teknologi bagaikan mempunyai dua sisi mata uang.

Bagaimana Hubungannya dengan Revolusi Industri 4,0?

Kita sudah memasuki era Milenial. Zaman ini, manusia dapat dengan mudah menjalankan suatu aktivitas dengan menggunakan teknologi. Laju teknologi yang sangat instan diciptakan seiring dengan kebutuhan manusia yang juga instan.

Jika dahulu, internet sangat mahal sekarang kita mendapatkannya dengan mudah. Bahkan internet sudah menjangkau semua lapisan masyarakat. Mulai dari kelas atas yang terdiri dari orang kaya dan kaum pejabat elit hingga masyarakat kelas bawah. Internet yang biasanya hanya bisa diakses di kawasan perkotaan kini bisa dengan mudah diakses di kawasan pedesaan.

Ini juga yang memunculkan apa yang dinamakan dengan Revolusi Industri 4,0. Istilah itu berasal dari sebuah proyek strategis teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pada semua pabrik di negara itu. Revolusi Industri 4,0 dibahas kembali pada tahun 2011 di Hannover Fair di Jerman.

Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4,0 memaparkn rekomendasi Revolusi Industri 4,0 pada Pemerintah Federasi Jerman. Revolusi ini ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi yang terdiri dari 3 bidang ilmu yang bersifat independen diantaranya fisika, digital, dan biologi.

Adanya beberapa komposisi tersebut, Revolusi Industri 4,0 mempunyai potensi memberdayakan individu dan masyarakat. Sebabnya, revolusi industri ini dapat menciptakan peluang baru bagi ekonomi, social, dan pengembangan pribadi.

Peran besar Revolusi Industri 4,0 itulah yang memunculkan beberapa teknologi mutakhir. Seperti yang sudah disebutkan diatas, ada Google Talk dan Siri milik Apple, semuanya mempunyai peran komputasi yang sangat fleksibel hingga bisa memudahkan kinerja manusia. Bahkan, bisa menjadi ketergantungan apabila tidak disadarkan pola pikirnya.

Pengaruh dalam hubungan social sangat besar apabila teknologi semacam itu dimunculkan. Mungkin, bukan hanya Google Talk dan Siri, melainkan ada beberapa teknologi lain seperti media sosial, robot (bahkan ada robot yang dibuat mirip dengan manusia), hingga smart assistant yang bentuknya mirip tabung namun bisa menjawab semua pertanyaan manusia dan mempunyai suara perempuan yang menggoda kaum lelaki.

Semua teknologi itu bisa menyebabkan ketergantungan hingga mengerdilkan peran social di masyarakat. Seperti disampaikan dalam serambinews.com (27/11/2018), Revolusi Industri 4,0, dalam hal ini teknologi yang dihasilkan, bisa menyebabkan pengerdilan dan marginalisasi (peminggiran) beberapa kelompok. Teknologi tersebut dapat memperburuk kepentingan sosial bahkan kohesi social, menimbulkan resiko keamanan, hingga merusak hubungan antarmanusia.

Rusaknya hubungan social bisa timbul juga akibat adanya ketergantungan terhadap teknologi. Jika curhat, tidak perlu ke orang tua atau teman cukup kepada teknologi. Mau bertanya arah jalan cukup tanya Google Talk, bahkan yang sangat parah jika manusia ada masalah bukannya meminta pertolongan pada Allah melainkan pada teknologi. Jelas kerusakan ini bisa terjadi.

Bagaimana Kita Mengendalikan Diri dari Teknologi?

Manusia mempunyai peran di masyarakat sebagai makhluk social. Mereka butuh berbicara satu sama lain dan butuh bantuan pada orang lain juga. Kita punya ayah dan ibu, sepupu, saudara kandung, bahkan teman dan orang lain. Sehingga, kita tidak bisa mengabaikan peran social di masyarakat. Kita berada di lingkungan tersebut.

Kondisi itu yang menuntut kita untuk saling berinteraksi untuk menjalin hubungan antar sesama. Namun, kemunculan teknologi menjadikan peran manusia tergantikan. Jika dahulu manusia tergantung pada sesama dalam menghadapi masalah, kini mereka cukup mengandalkan internet.
Kita mengenal adanya sosial media, android, dan lain-lain. Bahkan, teknologi terus bermunculan dari masa ke masa hingga kinerja manusia jadi semakin instan. Inilah yang menjadikan sebuah tuntutan dalam meningkatkan etos kerja yang semakin kencang.

Tak jarang, manusia bisa semakin teralienasi karena ketergantungan dengan teknologi. Apalagi, kemunculan Revolusi Industri 4,0 menjadikan kerja manusia semakin instan berkat teknologi. Sisi positifnya, manusia semakin termudahkan dalam menjalankan mobilitas hidup mereka.

Sisi lemah teknologi juga muncul beriringan seperti lemahnya hubungan social bahkan menjadikan manusia semakin malas. Akibatnya, mereka semakin terlena dengan kewajiban yang harusnya diemban. Bahkan, mereka bisa melupakan tujuan hidup manusia dilahirkan di dunia ini, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Inilah yang harusnya disadari sebagai umat Islam agar kita mampu membagi waktu kita. Kita bisa memanfaatkan teknologi, sebatas kebutuhan begitu juga hubungan dengan manusia. Kita dapat kelola waktu untuk meningkatkan quality time dengan keluarga, saudara, bahkan teman dan orang lain.

Kita harus menjadi insan yang berdakwah di jalan Allah dengan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Teknologi, seperti internet maupun android, dapat digunakan sebagai sarana dakwah apabila kita mampu mengelolanya dengan baik. Tanpa pengelolaan yang baik, kita menjadi terlena dengan kesenangan yang ditawarkan oleh teknologi.

Agar kita tidak terlena, solusinya hanya satu, kita harus mengerti kebutuhan kita dengan teknologi tersebut. Apakah untuk gengsi atau bukan. Kita tidak bisa menyalahkan teknologi begitu saja karena teknologi hanya sarana memudahkan kinerja manusia. Yang patut kita renungkan adalah diri kita, bahwa kita mempunyai akal yang kecanggihannya melebihi internet.

Kita sadar, bahwa kita adalah insan yang diciptakan untuk berdakwah kepada sesama manusia. Bukan hanya dengan ceramah agama saja atau mengajak orang ikut solat dan pengajian. Melainkan, mampu memanfaatkan kecerdasan dan keluasan ilmu kita untuk menyampaikan kebenaran di tengah masyarakat. Ilmu bisa dengan tenaga kita, teknologi, lisan, maupun tulisan. Semua yang kita upayakan tersebut, kembali kepada diri kita.

Wallahu a’lam bi shawab [MO/re]

Posting Komentar