Gambar: Ilustrasi
Oleh. Tiya Maulidina
Komunitas Muslimah Jambi Menulis

Mediaoposisi.com-Belum lama ini berita internasional mengabarkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman berkunjung ke Cina guna memperkuat kerja sama internasional di antara kedua Negara tersebut. Disisi lain, ada muslim Uighur yang masih “terluka” dengan perlakuan pemerintah China sendiri. Alih-alih diperhatikan, namun dalam pertemuan ini Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan China itu dapat dibenarkan.
 
Presiden  China, Xi Jinping, mengatakan kepada putra mahkota bahwa kedua negara harus memperkuat kerja sama internasional tentang deradikalisasi guna mencegah infiltrasi dan
penyebaran pemikiran yang dianggap ekstrim (kiblat.net, 24/02/2019).

Dalam kunjungan tersebut dikabarkan Bahasa China akan dimasukkan dalam kurikulum semua tingkat pendidikan di Arab Saudi. Dimasukkannya bahasa China di sekolah-sekolah Saudi dan universitas akan meningkatkan keragaman budaya siswa di Kerajaan. Selain itu berkontribusi pada pencapaian tujuan nasional masa depan di bidang pendidikan yang sejalan dengan Visi Kerajaan 2030 (kiblat.net, 24/02/2018).

Menurut laman tirto.id (28/02/2017), kunjungan Arab Saudi ke Cina tersebut bukanlah hal yang baru terjadi saat ini saja. Jauh sebelum ini, yaitu pada Januari 2006, Raja Abdullah sudah lebih dulu mengunjungi Cina. Sehingga, dapat dipahami bahwa kerja sama yang dilakukan kedua negara tersebut adalah kerja sama jangka panjang dan tentunya mempunyai peran yang sangat besar bagi proses bisnis masing-masing negara.

Selain itu, China menjadi salah satu investor utama Arab Saudi, selain Amerika Serikat,
Perancis, dan Jepang. Data dari American Enterprise Institute (AEI) dalam laporannya berjudul China Global Investment menunjukkan bahwa pada tahun 2016 saja, total investasi China di Arab Saudi mencapai 1,25 miliar dolar AS. Ada empat sektor utama investasi China di Arab Saudi pada tahun 2016. Sektor pertama yakni bahan kimia. Total investasi China mencapai 120 juta dolar AS. Kemudian, China juga berinvestasi di sektor transportasi. Jumlah investasinya mencapai 180 juta dolar AS (tirto.id, 28/02/2017).

Uighur masih terus menjerit
Ketika mendengar kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi tersebut, muslim Uighur tentu memiliki harapan yang sangat besar pada mereka. Selain muslim Uighur, kerajaan besar yang beridentitas Islam ini tentu sangat diharapkan pula oleh kaum muslimin agar mengambil sikap terhadap apa yang dirasakan saudara-saudaranya di Xinjiang, China. Namun, setelah mendengar peryataan Putra Mahkota yang mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah China tersebut, membuat harapan-harapan ini sirna. Harapan yang digantungkan kepada para pemimpin negeri muslim saat ini memang menjadi tidak berarti.

Duka mendalam yang dirasakan muslim Uighur saat ini tidak lebih penting daripada investasi besar yang diberikan oleh China selama ini. Dalam kehidupan bisnis kerajaan Saudi, investasi terbesar memang didatangkan dari negeri Tirai Bambu tersebut. Begitupun sebaliknya. Sehingga, menjadi wajar jika hubungan yang dijalin selama ini adalah kepentingan bisnis semata.

Ketika kepentingan yang menjadi asas sebuah hubungan, yang menjadi standar adalah laba dan rugi. Tidak lebih dari itu. Adapun kebijakan-kebijakan zalim yang dilakukan China terhadap saudara se-aqidah disana tidak menjadi masalah. Asalkan kepentingan negeri sendiri tidak terganggu. Inilah bahaya nyata dari nasionalisme. Sikap antipati terhadap penderitaan kaum muslimin di luar negeri tumbuh subur sebab ide nasionalisme ini menganggap hal tersebut bukan berada di wilayah kekuasaan mereka sehingga itu bukan lagi menjadi urusan luar negeri negara tersebut.

Muslim Uighur akan terus menjerit. Penderitaan muslim Uighur sampai kapanpun tidak akan pernah dilirik jika setiap negeri muslim masih menganut ide nasionalisme. Bukan hanya muslim Uighur, tetapi saudara-saudara muslim yang berada di luar sana akan terus merasa hilang harapan karena melihat para penguasa negeri muslim hanya diam tanpa berbuat sesuatu.

Umat butuh Khilafah
Umat Islam, sebagai umat terbaik yang disematkan Allah dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 110, akan terlihat jika umat Islam telah menerapkan aturan Islam secara Kaffah dalam setiap sendi kehidupan. Menggunakan Islam dalam mengatur kehidupan bukan hanya perkara aqidah dan ibadah. Tetapi mulai dari sosial, politik, pendidikan, maupun ekonomi juga bersumber dari Islam.

Umat Islam harus mampu merasakan penderitaan saudaranya, memiliki rasa simpati dan empati terhadap saudaranya, hingga memberi pertolongan terbaik yang mampu diberikan kepada saudaranya. Sehingga, menutup mata hati dari penderitaan saudara bukanlah hal yang dibenarkan dalam Islam. Itulah yang Islam ajarkan. Kaum muslimin yang “Satu Tubuh” seperti digambarkan Rasulullah SAW menjadi tidak terwujud dengan adanya nasionalisme.

Oleh karena itu, hanya Islam yang mampu menyelesaikan penderitaan kaum muslimin saat ini. Dengan menerapkan Islam secara menyeluruh dalam bingkai Daulah Khilafah menjadikan kaum muslimin bagaikan “Satu Tubuh” dan bangunan yang kokoh. Karena sistem Islam terbukti mampu menaungi sekaligus melindungi umat manusia dengan aturan Islam yang luar biasa tanpa memandang sekat-sekat negara, tanpa memandang kepentingan bisnis duniawi atau pun laba-rugi. [MO/re]

Posting Komentar