Oleh: Dede Yulianti A.Md.

Mediaoposisi.com-Indonesia dilabeli negara tersantai nomor satu di dunia. Haruskah umat Islam berbangga, atau waspada? Indonesia sebagai tempat destinasi liburan terbaik. Hasil peringkat ini berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lastminute.com, agen perjalanan di Inggris, dan meninjau dari berbagai faktor.

Mulai dari banyaknya cuti tahunan, faktor polusi suara, faktor cahaya (lingkungan), faktor Hak Asasi Manusia (HAM), budaya, dan banyak lokasi spa atau retreat lainnya. Alasannya, surga tropis Indonesia berada di posisi pertama, sebagian berkat spa dan kebugarannya.

Ada lebih dari 186 ruang hijau dan memiliki suhu rata-rata 25 derajat Celsius dan 54.716 mil dari garis pantai. (26/01).

Bukan tanpa maksud, ada upaya agar Indonesia menggenjot sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan utama. Selain pajak tentunya. Adalah hal yang wajar menjadikan motif ekonomi sebagai satu-satunya tujuan, dalam sistem kapitalisme.

Bukan hal yang aneh pula, pariwisata menjadi pintu masuk gaya hidup liberal. Berbagai kebiasaan wisatawan asing harus tersedia agar mereka betah layaknya di rumah sendiri.

Minuman keras, gaya berpakaian hingga pergaulan bebas pun turut dipromosikan. Bahkan Bali terkenal di luar negeri sebagai surga para fedofil (14/07). Sangat mengenaskan, harga yang harus ditebus dari majunya sektor pariwisata.

Pemerintah sebagai pelindung umat, seharusnya menjaga umat dari kerusakan sosial. Bukan hanya melihat dari sisi ekonomi. Terlebih masih banyak sumber pendapatan yang semestinya bisa dioptimalkan. Kekayaan alam berlimpah di dalam perut bumi serta lautan.

Jika dikelola dengan benar berpotensi menyumbang pendapatan negara yang tak sedikit. Sayangnya lagi-lagi kapitalisme melegalkan privatisasi asing dan aseng untuk mengambil alih harta kepemilikan umat tersebut.

Walhasil menjadikan pajak dan pariwisata sebagai sumber pendapatan utama, pilihan satu-satunya bagi pemerintah. Meski untuk itu rakyat harus menelan pil pahit kerusakan sosial.

Indonesia Bisa Bangkit

Membatasi Indonesia sebagai negeri nomor satu pariwisata merupakan pengkerdilan kekuatan negeri ini. Indonesia layak dipertimbangkan sebagai negara yang mampu bangkit secara ideologis. Kekuatan geografis dan geopolitiknya menyimpan potensi luar biasa untuk menjadi negara besar.

Ditambah sumberdaya manusia berlimpah. Kuncinya tinggal melepaskan diri dari penjajahan politik kapitalisme.

Jangan lupa kekuatan terbesar umat terletak pada kekuatan pemikiran Islam. Itulah sejatinya modal utama untuk Indonesia bangkit.

Sejarah telah membuktikan, negeri ini lepas dari penjajahan fisik dengan semangat jihad. Di bawah pekikan takbir, meski hanya bersenjatakan bambu runcing. Dengan semangat yang sama pula perlahan tapi pasti Indonesia akan terlepas dari penjajahan non fisik saat ini.

Kini semangat mengubah wajah Indonesia agar maju dan beradab tengah bergelora di dalam negeri. Kesadaran umat untuk bersatu dalam kalimat tauhid dan penerapan syariat terlukis dalam aksi damai 212 yang fenomenal.

Semangat hijrah di kalangan milenial pun terus membadai dalam Festifal Hijrah yang luar biasa. Benih-benih kebangkitan semakin bertumbuh. Inilah yang akan menggentarkan dunia Barat.

Di sisi lain dengan mendorong sektor pariwisata, semakin memuluskan liberalisasi budaya di Indonesia. Jika umat tergerus budaya liberal, tentu semakin menjauhkan dari pemikiran Islam. Apalagi cita-cita untuk bangkit. Sebuah penghadangan yang sistematis.

Jika Indonesia bangkit maka terlepas dari penjajahan ekonomi, politik dan budaya. Penguasaan asing terhadap sumber-sumber kekayaan negeri ini akan dihentikan. Tak bisa lagi dihisap.

Oleh karena itu mereka ingin menanamkan persepsi, cukuplah Indonesia bangga menjadi negara santai saja, sementara perjuangan menuju kebangkitan Islam dilumpuhkan. Inilah sebenarnya yang patut direnungkan oleh umat.[MO/ad]

Posting Komentar