Oleh : Nurita Sari

Mediaoposisi.com-Pemerintah berencana untuk memberikan kredit usaha rakyat (KUR) kepada peternak sapi. Hal itu dilakukan untuk membantu perekonomian peternak yang selama ini sulit mendapatkan pinjaman. Tapi benarkah demikian?

Menurut Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani KUR untuk peternak sapi diberikan dengan bunga tetap sebesar 7%. Adapun batas pinjaman sebesar Rp 25 juta untuk mikro dan kecil sebesar Rp 25 juta hingga Rp 50 juta. "Tadi dibahas khusus (peternak) sapi potong dan sapi perah. Untuk mikro plafonnya Rp 25 juta dan untuk yang kecil antara Rp 25 juta hingga Rp 50 juta. Itu bunganya tetap 7%," kata dia di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Menyelesaikan masalah tanpa masalah nyatanya hanyalah sekedar jargon. Ketika pemerintah saat ini memberi bantuan untuk rakyat dengan jalan riba, maka itu bukanlah solusi. Karena bukan keberkahan yang akan diperoleh melainkan azab yang pedih. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﺫَﺍ ﻇَﻬَﺮَ ﺍﻟﺰِّﻧﺎَ ﻭَﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻓِﻲ ﻗَﺮْﻳَﺔٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﺣَﻠُّﻮْﺍ ﺑِﺄَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ

Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi sebagaimana disebut dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib , no. 1859)

Akan tetapi apalah daya, rakyat saat ini terperangkap dalam sistem kapitalisme yang " memaksa" setiap individu untuk bertransaksi riba, mau tidak mau, sedikit banyak, dan sadar maupun tidak. Untuk lepas dari transaksi riba sangatlah sulit, karena semua aktifitas sudah tersistem sesuai rancangan kaum kapitalis yang tidak mengenal halal haram. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻟَﻴَﺄْﺗِﻴَﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻻَ ﻳَﺒْﻘَﻰ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺃَﺣَﺪٌ ﺇِﻻَّ ﺃَﻛَﻞَ ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﻓَﻤَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻛُﻞْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻪُ ﻣِﻦْ ﻏُﺒَﺎﺭِﻩِ

Akan datang pada manusia suatu zaman tidak akan tersisa kecuali pemakan riba. Siapa yang tidak makan riba ketika itu, ia bisa memakan debunya.” (HR. Ibnu Majah, no. 2278; Abu Daud, no. 3331).

Padahal dosa riba yang paling ringan seperti menzinai ibu kandung sendiri. Sebagaimana hadits dari ‘Abdullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺮِّﺑَﺎ ﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺣُﻮﺑًﺎ ﺃَﻳْﺴَﺮُﻫَﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﻜِﺢَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺃُﻣَّﻪُ

Riba itu ada tujuh puluh dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri .” (HR. Ibnu Majah, no. 2274. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Begitulah fakta miris sistem ekonomi kapitalisme yang mencengkram negeri. Hal ini sangat berbanding terbalik ketika Islam diterapkan dalam semua bidang, sehingga masyarakat akan memahami bagaimana sistem ekonomi Islam. Modal merupakan faktor yang penting dalam suatu produksi namun bukan yang terpenting. Tanpa adanya modal produsen tidak akan bisa menghasilkan suatu barang dan jasa. Modal adalah sejumlah kekayaan yang bisa saja berupa asset ataupun intangible asset, yang bisa digunakan untuk menghasilkan kekayaan.

Modal dalam literatur fiqih disebut ra’sul mal yang merujuk pada arti uang dan barang. Modal merupakan kekayaan yang menghasilkan kekayaan lain. Pemilik modal harus berupaya memproduktifkan modalnya. Modal tidak boleh diabaikan, namun wajib menggunakannya dengan baik agar ia terus produktif dan tidak habis digunakan. Seperti yang  terdapat pada hadist riwayat Bukhari.

عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اَعْطَاهُ دِيْنَارًايَشْتَرِي لَهُ بِهِ شَاةً فَاشْتَرَى لَهُ بِهِ شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِيْنَارٍ وَجَاءَهُ بِدِيْنَارٍ وَشَاةٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِي بَيْعِهِ وَكَانَ لَوْ اشْتَرَى التُّرَابَحَ فِيْهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِى)

Artinya: “Dari ‘Urwah bahwa Nabi SAW memberinya satu dinar untuk dibelikan seekor kambing, dengan uang itu ia beli dua ekor kambing, kemudian salah satunya dijual seharga satu dinar, lalu dia menemui beliau dengan membawa seekor kambing dan uang satu dinar. Maka beliau mendoakan dia keberkahan dalam jual belinya itu, “sungguh dia apabila berdagang debu sekalipun, pasti mendapatkan untung”. (HR. Bukhari)

Terlihat pada hadist tersebut, bahwa Nabi menyukai umatnya yang mau berusaha agar mendapatkan keuntungan dari modal yang dimiliki. Dan bagi yang tidak mampu menjalankan usaha, Islam menyediakan bisnis alternatif yaitu mudharabah, musyarakah, dan lain-lain. Yang mana mudharabah ini adalah suatu bentuk kerjasama antara dua pihak atau lebih, dimana pemilik modal mempercayakan sejumlah modalnya kepada pengelola dengan suatu perjanjian diawal.

Pada mudharabah ini antara pemilik modal dan pengelola harus saling berkontribusi. Musyarakah adalah bentuk umum dari usaha bagi hasil dimana dua orang atau lebih menyumbangkan pembiayaan dan manajemen usaha, dengan proporsi bisa sama atau tidak. Keuntungan dibagikan sesuai dengan kesepakatan di awal, dan kerugian akan dibagikan menurut proporsi modal. Modal tidak boleh dihasilkan dari dirinya sendiri, tetapi harus dihasilkan dari usaha dan kerja keras. Oleh sebab itu riba dan perjudian dilarang oleh al-Quran.

Ayat yang berhubungan dengan modal ini terdapat pada QS. Ali Imran ayat 14

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُ الشَّهَوَتِ مِنَ النِّسَآءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَطِيْرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ و الْمُسَومَةَ وَالْأَنْعَمِ وَالْحَرْثِ قلىذَلِكَ مَتَعُ الْحَيَوَةِ الدُّنْيَا صلى وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَأَبِ

Artinya: “dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Pada ayat ini dapat kita ketahui bahwa dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada harta yang tidak terbilang lagi berlipat ganda. Yang mana bentuk harta ini berupa emas, perak, binatang ternak, sawah, ladang dan lain-lain, yang semua itu merupakan sesuatu yang diinginkan dan dicintai oleh manusia.

Kecintaan kepada materi (wanita, anak-anak, harta benda) merupakan sifat dasar manusia karena berkaitan dengan kebutuhan,hanya saja kita tidak boleh terlalu menuruti hawa nafsu dalam memenuhi kebutuhan dunia sehingga melupakan kehidupan akhirat. Harta benda merupakan kebutuhan lahir manusia.

Jadi harta disini merupakan modal bagi kita untuk mencari keuntungan, namun tidak boleh berlebihan yang menyebabkan lalai terhadap perintah-Nya. Maka jadikanlah sebagai modal untuk kesejahteraan dunia serta akhirat.[MO/sr]

Posting Komentar