Mediaoposisi.com-Banyak kasus yang bisa dipaparkan guna menggambarkan keadilan Islam. Salah satunya, kasus anak gubernur, Amru bin Ash, di Mesir pada masa Kekhalifahan Umar bin Khattab yang mencambuki anak Qibthi yang beragama Nasrani.

Sesuai hukum pidana Islam, Khalifah memberikan pilihan kepada korban, apakah membalas cambuk (qishash) ataukah menerima ganti rugi (diyat) kezaliman tersebut.

Anak Qibthi itu memilih qishash. Dan setelah pelaksanaan hukum qishash itu, Khalifah Umar mengatakan, "Hai anak Qibthi, orang itu berani mencambukmu karena dia anak gubernur. Oleh sebab itu, cambuk saja gubernur itu sekalian!". Namun anak Qibthi itu menolaknya.

Kasus lain yang lebih terkenal adalah kasus baju besi Khalifah Ali yang hilang sepulang dari perang Siffin. Tidak lama setelah pulang, Ali menemukan baju besinya ada di toko seorang Yahudi ahlu dzimmah.

Ringkas cerita, terjadilah peradilan kasus tersebut dengan hakimnya Qadhi Syuraih. Karena tidak cukup bukti, hakim pun memutuskan bahwa Yahudi tersebut berada di pihak yang benar. Khalifah Ali divonis keliru. S

etelah vonis, sang Yahudi berkata: "Duhai Amirul Mukminin, Anda berperkara dengan aku. Ternyata hakim yang engkau angkat memenangkan aku. Sungguh, aku bersaksi La ilaha illallah Muhammadu rasulullah".(As-Suyuthi. 2005. Tarikh al-Khulafa. Dar al-Kutub al-'Ilmiyah. Beirut. Hlm. 146)

Tak hanya kepada warganya yang non-Muslim, perlakuan indah juga diberikan kepada orang non-muslim di luar negara Khilafah. Kita mungkin tahu sejarah wabah kelaparan besar (The Great Famine) yang melanda negeri Kristen Irlandia antara tahun 1845-1852. Akibat wabah tersebut, 25% penduduk Irlandia meninggal dunia.

Mendengar kabar tak sedap itu, Khalifah Abdul Majid mengirimkan uang kepada petani yang ada di Irlandia. Tak hanya itu, Khalifah juga diam-diam mengirimkan 3 buah kapal yang berisi makanan dan sampai di Pelabuhan Drogheda.

Atas kedermawanan Sultan tersebut, Rev. Henry Christmas M.A. (Pendeta Kristen) tahun 1853 menulis: Satu atau dua anekdot akan memberikan karakter dia yang sebenarnya. Selama tahun kelaparan di Irlandia, Sultan mendengar penderitaan yang dialami oleh negara malang itu, maka dia langsung mengutarakan kepada Duta Besar Inggris niatnya untuk membantu meringankan keadaan itu, dan menawarkan bantuan sejumlah besar uang.

Dia maklum bahwa adalah hak dari Ratu untuk membatasi jumlah uang, sehingga uang yang lebih besar tidak bisa diterima dari Sultan. Untuk sopan santun maka diapun setuju atas keinginan Ratu itu, dan dengan rasa penuh simpati mengirimkan bantuan yang terbesar yang dibolehkan.

Tercatat dalam sejarah mengenai perasaan pribadinya untuk memberikan jawaban atas ancaman tuntutan dari Austria dan Rusia bagi dilakukannya ekstradisi pengungsi Polandia dan Hongaria. “Saya bukan tidak peduli,” jawabnya.

“atas kekuatan imperium itu, bukan juga atas maksud tersembunyi dari isyarat yang mereka tunjukkan tunjukkan , tapi saya dipaksa oleh agama saya untuk memperhatikan aturan aturan sopan santun, dan saya percaya atas perasaan dan niat baik Eropa tidak akan mengizinkan pemerintah saya untuk terlibat pada perang ini, karena saya memutuskan dan percaya pada mereka.

”Ini memang adalah semangat sejati dari Kristen, tapi ada yang lebih dari itu atas diri Muhammad Sultan dari Turki, lebih daripada semua pangeran Kristen di Eropa Timur."[MO/ge]

Posting Komentar