Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Rudi, jangan kau timbang idealisme kami dengan besaran gaji. Jangan kau ungkit, siapa yang memberi kami makan. Ketahuilah Rudi : Allah SWT yang memberi makan kami, sebagian melalu sarana bertani, menjadi nelayan, berbisnis dan bekerja. Dan diantara yang bekerja, ada yang menjadi Abdi Negara. Ingat ! Abdi Negara !

Rudi, menjadi Abdi Negara itu beda dengan Abdi penguasa. Penguasa bisa datang dan pergi, kesetiaan Abdi itu bukan ditujukan pada penguasa, tapi pada negara. Jika negara berubah, kesetiaan juga mengikuti perubahan.

Rudi, keyakinan rakyat tidak sebatas warna, corak, atau kemasan. Tetapi terkait keyakinan akan masa depan, bukan hanya dunia, tapi keyakinan kehidupan setelah dunia : akherat.

Jangan pernah mempersoalkan kami, yang meyakini haram memilih pemimpin pendusta dan tukang ingkar janji. Karena pilihan ini dibangun atas kesadaran Ruh, atas dasar perintah Allah SWT. Jadi jangan paksa kami, memilih pemimpin dengan kemasan sederhana, masuk got dan sawah, bahkan berkorban sampai kepatil udang. Tidak bisa !

Rudi, ketika kami meyakini Islam sebagai solusi, Islam kaffah untuk masa depan bangsa ini, itu secara konstitusi dijamin. Itu bukan hoax. Secara syara', itu kewajiban. Jadi, tidak usah mengungkit siapa uang memberi makan kami, kami tegaskan Allah SWT yang menjamin Rizki kami.

Setelah ini, Anda juga jangan ikut campur atas takdir dan kematian kami. Cukuplah agenda blokir-blokir sosmed yang mampu kau lakukan. Kami hidup dari Allah, dan hanya Allan SWT yang mampu mencabut kehidupan kami.

Rudi, jangan takut-takuti rakyat, jangan takut-takuti Abdi negara. Berkuasa baru empat tahun sekian saja sombongnya ke ujung Ubun-Ubun. Takutlah ! Karena kekuasaan majikanmu akan jatuh. Sedangkan dirimu, pasti ikut jatuh dan terbenam.

Kesombonganmu mewakili kesombongan rezim. Beda pendapat pasal ITE, dikritik rakyat menuding SARA, kalah argumentasi pake polisi, tak mampu atas kendali kandangin ke jeruji besi. Memang rakyat takut ? Memang rezim merasa menang ? Justru salah !

Dimasa kampanye, disaat rezim butuh elektabilitas, kriminalisasi ini justru semakin menenggelamkan rezim. Jika kalian marah dan melakukan kriminalisasi, rakyat justru bangga dengan perlawanan dan sikap kepahlawanan.

Rudi, kabarkan kepada atasanmu, rezim yang tiran dan zalim pada rakyatnya. Kami, sudah puas, puas dibohongi, puas dikhianati, puas disuguhi janji janji. Jadi, cukup sudah. Kami akan tentukan takdir kami sendiri, jangan ikut membuat kendali atas takdir kami.

Mau siram uang berapapun, tak akan bisa. Di internal partai saja kalian sudah saling sikut, belum menang Pilpres saja sudah kapling-Kapling jatah menteri. Ini tidak akan terjadi, kecuali ini mengkonfirmasi perpecahan dahsyat diinternal kalian.

Rud, kalau memang laki-laki, langsung saja semua sosmed kau blokir. Tidak da WA, Facebook, Instagram, YouTube, dll. Biar kembali ke zaman batu. Saat itu, mungkin jampi jampi palsu rezim masih berguna. Tapi rasanya sulit, kebencian rakyat kepada rezim sudah sampai titik kulminasi. [MO|ge]

Posting Komentar