Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Mungkin hari ini (16/2) adalah hari berkabung nasional para buzzer Jokowi. Betapa tidak, tagar #UninstallJokowi sejak kemarin (15/2) mampu bertengger cepat menjadi tranding topik dunia, dan bertahan lama hingga hari ini. Bahkan, hingga pukul 05.14 pagi ini, tagar #UninstallJokowi tetap bertahan dan telah mencapai cuitan 360 k.

Tidak cukup sampai disitu, netizen semakin massif menyerang dengan tagar yang lebih menohok : tagar #ShutDownJokowi, bertengger dibawah tagar tagar #UninstallJokowi, dengan jumlah cuitan 76,6 k.

Saya tidak tahu, apakah kengerian ini akan berhenti sampai disini. Saya juga tidak punya prediksi, apakah tagar ini justru semakin melambung, mendorong tagar-tagar lain, misalkan : #EraseJokowi, #EnaughJokowi, #NoJokowiElection, #OgahDitipuJokowiLagi, #JokowiSomethingOfThePast, #JokowiNightMare, atau jenis tagar lain yang masih dalam satu marga dan varian.

Yang jelas, tagar-tagar ini sangat berpengaruh pada 17 April 2019. Mendongkrak elektabilitas dalam waktu cepat, itu nyaris pekerjaan mustahil. Tetapi menjatuhkan kredebilitas dalam waktu singkat, pasti berujung pada rontoknya elektabilitas.

Sampai disini, para buzzer Jokowi baru sadar pentingnya berfikir sebelum bekerja. Para buzzer yang taklid buta, mengadopsi prinsip majikan yang hanya bisa teriak 'Kerja, Kerja, Kerja', baru merasakan betapa sakit dan memalukan ditampar oleh netizen secara massif.

Awal tagar #UnisntallJokowi, adalah perilaku para buzzer Jokowi yang secara sadis menghakimi 'Hak Berpebdapat' Ahmad Zaky, Cheo BukaLapak, yang melihat ironi bangsa yang tidak memberi perhatian pada generasi anak bangsa untuk maju yang tercermin pada 'minimnya anggaran R&D di tahun 2016'.

Doa, 'semoga Presiden baru' bisa mengubah keadaan, dihakimi sebagai tindakan tidak tahu balas Budi, tidak tahu diuntung, tidak pandai berterima kasih.

Serentak, dengan penuh emosi, semangat membela majikan, dengan gairah kerja kerja kerja yang luar biasa, tanpa fikir panjang buzzer Jokowi memberi sanksi dengan gerakan tagar #UninstallBukaLapak. Awalnya, para buzzer merasa menang, puas, tertawa terbahak dan bahagia. Tagar #UninstallBukaLapak langsung bertengger sebagai tranding topik di jagat tweeter nasional.

Tapi, pesta itu tak berlangsung lama, kemeriahan dan caci maki itu mengalami orgasme terlalu cepat. Tiba-tiba, ada serangan balik. Seperti badai yang terpicu oleh angin tagar #UninstallBukaLapak. Yang menarik, pilihan serangan itu bukan dengan bertahan dan mengusung tagar #SaveBukaLapak.

Yang muncul justru agar #UnisntallJokowi. Trandingnya mendunia. Bahkan di follow up dengan tagar sadis #ShutDownJokowi.

Buzzer Jokowi menangis meraung-raung, partai pendukung Jokowi kebagian 'Tukang Cebok', akibat ulah picisan buzer yang menebar angin tagar #UninstallBukaLapak, kini seluruh TKN, All partai pendukung Jokowi, menuai badai tagar #UnisntallJokowi. Cak imin, sampai mengeluh tentang hal ini.

Ternyata, jika diteliti lebih dalam yang punya sumbu pendek itu pendukung Jokowi. Tanpa mencerna lebih jauh, ungkapan 'Presiden baru' langsung dihakimi dengan tagar #UninstallBukaLapak. Padahap, ketika Presiden Jokowi terpilih pada 17 April 2019 tetap saja posisinya Presiden baru. Yakni, Presiden baru untuk periode 2019-2024.

Ungkapan 'Presiden baru' sebenarnya netral, tapi karena buzzer sumbu pendek, ungkapan Presiden baru dianggap sebagai keemohan pada Jokowi.

Secara substansi, dapat dibenarkan juga sih. Tetapi ketika substansi aspirasi yang berbeda ini langsung divonis tidak tahu etika, tidak tahu terima kasih, lantas menggaungkan tagar #UninstallBujaLapak, disinilah letak sumbu pendek pendukung Jokowi.

Selamat Pak Jokowi, like father like Son, pendukung dan calon itu 11 12. Silahken teruskan slogan 'kerja, kerja, kerja' Ga usah mikir. Setelah mikir, baru sadar semua pekerjaan salah, semua berakibat fatal, sama fatalnya ketika Projek kereta, tol dan bandara dikebut, tapi tidak berfikir operasional bagaimana.

Bangun dapat dari pinjaman utang, mau naikan tarif tol sepi, mau dimurahin tidak cucuk dengan bea operasional, sementara bunga utang terus membengkak. Salam 'kerja, kerja, kerja' dan Ga usah mikir. Tim Jokowi mah tak punya kapabilitas dan kapasitas untuk berfikir. []

Posting Komentar