Gambar: Ilustrasi

Oleh : Fitri, S.I.Kom
Ketua Komunitas Muslimah Kreatif Banjarmasin

Mediaoposisi.com-Menguatnya kesadaran imani umat yang rindu untuk hidup dalam naungan Syariat Allah saat ini semakin membuat geram beberapa pihak. Tak henti narasi
“sumbang” dilontarkan pada Khilafah. Mulanya adalah menjadikan ISIS sebagai role model negatifnya. Kemudian sistem bernegara yang tidak manusiawi, otoriter, mengusung
kekerasan, mengancam kedaulatan negara.

Hingga akhirnya, melabeli siapa saja yang menyampaikan tentang Khilafah
sebagai kaum radikal, intoleran, anti kebhinekaan dan sebagainya. Sangat disayangkan,
narasi ini datang justru dari sejumlah kalangan yang menyebut dirinya sebagai
pengikut ulama ahlussunnah dan meneladani ulama salafusshaleh.

Kita sepakat bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat bagi seluruh
alam. Saat hukum Islam diterapkan secara praktis pastilah mendatangkan keberkahan
dan kesejahteraan. Khilafah sebagai wadah penerapannya mengajak umat bersatu
tanpa memandang suku, ras, golongan manapun, serta melarang berpecah belah
sebagaimana firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...” (Ali Imran : 103). Jadi, apakah tepat jika Khilafah
disebut menyebarkan paham transnasionalisme yang mengancam kedaulatan negara?

Sekalipun dalam waktu tertentu Islam diterapkan secara salah, namun
eksistensi Khilafah sebagai sebuah negara yang menerapkan hukum-hukum Islam, sejak
masa Rasulullah hingga penghapusannya di Istanbul pada 1924, menunjukkan bahwa
sistem bernegara yang diajarkan oleh Rasulullah ini sangat detil dan rinci. Banyak kalangan
menilai ia jauh dari jenis pemerintahan monarki dan otokrasi yang cenderung mengarah pada
otoriter (Adnan Khan, Mitos-mitos Palsu Ciptaan Barat).

Sehingga sangatlah aneh jika menyebut diri sebagai pengikut ulama ahlussunnah,
namun di waktu yang bersamaan, menolak Khilafah sebagai salah satu kewajiban
yang dicontohkan oleh Rasulullah. Hal itu bertentangan dengan kalam ulama ahlussunnah
seperti Imam An Nawawi yang mengatakan, “Mereka (para Sahabat) telah sepakat bahwa 
wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang Khalifah”.

Imam Ghazali, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Mawardi, Imam Al Qurtubhi, Imam Ibnu Taimiyah dan sejumlah ulama lainya bersepakat mengenai hukum wajibnya menegakkan Khilafah (Achmad Junaidi ath-Thayyibi, Maqolah Ulama Ahlu Sunnah tentang Khilafah).

Sistem yang Unggul

Sistem Islam dengan aturan, prinsip, dan paradigma ekonomi yang khas akan
mampu menghentikan persoalan krisis ekonomi global yang sistemik serta memberikan
jaminan kesejahteraan bagi umat manusia. Salah satunya dengan mengakhiri dominasi dolar
dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham.

Sistem politik Islam yang diterapkan saat mengurusi urusan umat di dalam
negeri maupun di luar negeri selalu dalam rel hukum syara’. Tidak diperkenankan untuk
mengambil aturan yang berasal dari luar Islam. Posisi penguasa sebagai pelayan rakyat
memastikan mereka untuk mendapatkan kesejahteraan. Hubungan dengan negara luar pun dibagun atas asas Islam, sehingga menjadikan Khilafah sebagai negara yang kuat di mata dunia.

Sistem persanksian yang mengandung unsur zawajir (preventif) dan jawabir
(kuratif) akan mencegah berbagai tindak kejahatan sehingga meminimalisir kriminalitas di
tengah masyarakat (Hafiz Abdurrahmah, Diskursus Islam Politik Spiritual). Khalifah tidak
akan memperlakukan seseorang secara istimewa dan tetap dikenai hukuman jika
melakukan kesalahan. Tidak dikenal istilah kebal hukum bagi penguasa seperti yang ada pada
sistem kerajaan.

Disamping itu, Khilafah dengan sistem sosial-kemasyarakatan yang mulia
juga mampu mengatasi berbagai macam krisis moral. Dengan pandangan yang khas
mengenai hubungan pria dan wanita serta aturan yang tegas, menjadikan interaksi di antara
keduanya hanya bersandar pada hukum syara’.

Sehingga dapat kita katakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama sekaligus
aturan hidup. Penerapannya secara praktis mampu membawa manusia mencapai derajat
kemuliaan dan peradaban yang gemilang. Sedang sistem hidup lain di luar islam telah
terbukti mendatangkan kerusakan.

Peradaban islam berhasil mencetak sosok-sosok ilmuwan yang hingga saat ini
masih dirujuk oleh dunia Barat. Sebut saja Al Haitsami yang memberikan kontribusi besar
dalam bidang matematika, fisika, dan astronomi. Ilmuwan lainnya seperti Abbas ibnu
Firnas seorang Polymath. Al Khawarizmi sang matematikawan jenius. Jabir Ibnu Hayyan
“Bapak Ilmu Kimia”. Ibnu Sina di bidang kedokteran dan lain sebagainya (Felix Y Siauw,
Khilafah Remake).

Khilafah juga membangun universitas pertama di dunia. Ratusan ribu buku
terdapat dalam perpustakaan yang tersebar di penjuru negara. Bahasa Arab bahkan menjadi
bahasa bagi pergaulan antar bangsa di dunia saat itu (Prof. Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar, TSQ
Stories edisi 2). Bangunan dan arsitektur peninggalan masa kejayaan Islam pun masih
dapat kita jumpai hingga kini.

Dengan wilayah yang membentang seluas 20.000.000 KM2 selama 1300 tahun,
umat Islam berada dalam satu komando. Khilafah mampu mempersatukan kaum muslim
hingga mereka berjaya dimata dunia. Hal inilah yang menunjukkan bahwa khilafah pernah
menjadi negara adidaya di dunia. Kemajuan dunia Barat saat ini tidak bisa dilepaskan dari
dunia Islam.

Negara Adidaya Kian Lemah

Krisis ekonomi global yang berulang kali terjadi adalah konsekuensi logis
akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan di seluruh dunia. Amerika Serikat
yang diakui sebagai negara adidaya saat ini sebenarnya sedang menuju kehancuran. Baru-baru
ini, perekonomian AS kehilangan setidaknya 6 miliar dollar AS atau setara Rp 85 triliun
sejak “government shutdown” selama 35 hari yang disebut-sebut sebagai shutdown
terlama sepanjang sejarah (msn.com, 27/01/2019).

Betapa lemahnya sistem ini, hanya karena persoalan persetujuan anggaran
$5,7 miliar untuk membangun tembok perbatasan, pemerintah malah mendapatkan kerugian
yang jumlahnya tidak sedikit.

Kekuatan militer AS kian melemah sementara sejumlah negara yang jadi
rival beratnya justru kian menguat. Bahkan, jika perang besar sampai pecah melawan China
atau Rusia, AS diperkirakan ada di pihak kalah. Kemampuan AS untuk melindungi para
sekutu, partner, dan kepentingan vitalnya sendiri kini kian diragukan
(liputan6.com, 20/11/2018). Hal-hal tadi semakin menampakkan kerapuhan ideologi kapitalis
sekuler. Dan runtuhnya sistem buatan manusia ini hanya menunggu waktu saja.

Siapa saja yang mengimani Allah sudah semestinya optimis akan tegaknya
kembali peradaban Islam yang mampu menggantikan sistem hidup sekuler yang diterapkan
selama ini. Lalu menggantinya dengan sistem hidup Islam dan menjadi negara adidaya di muka
bumi ini. “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di 
antara kalian, bahwa dia akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi” (QS. An-Nûr: 55).

Wallahu a’lam bishshawab.

Posting Komentar