Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Katanya di sistem demokrasi rakyat adalah suara Tuhan. Faktanya suara rakyat hanya dibutuhkan saat pilpres atau pilleg. Setelah pemilu dan para pemimpin menempati kursi kekuasaannya, suara rakyat tidak didengar.

Bahkan, saat mereka didzalimi mereka tidak tahu kemana harus mencari keadilan karena hukum sudah menjadi milik penguasa. Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa karena suaranya tidak lagi berguna.

Dalam demokrasi hanya orang-orang penjilat dan pengikut setia penguasa yang dapat perlindungan hukum. Mereka merasa arogan karena dapat kekebalan hukum. Banyak keselahan yang dilakukan oleh kawan penguasa tidak tersentuh hukum.

Sementara, musuh penguasa mudah dijerat hukum atas sebuah laporan yang sengaja dicari-cari, bahkan hanya kata-kata yang menyinggung penguasa, bisa dijerat dengan pasal ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong.

Sementara jika yang berbohong penguasa dan antek-anteknya aman dari jeratan hukum. Ujaran kebencian juga hanya berlaku jika itu ditujukan pada penguasa saja. Namun, penguasa dan antek-anteknya bebas menebarkan kebencian.

Dalan sistem demokrasi, keadilan hukum bukan milik rakyat kecil apalagi yang sedang bermusuhan dengan penguasa. Mereka akan dicari-cari kesalahannya dan diproses hukum sesuai dengan keinginan pengausa yang dzalim dan otoriter.

Apa yang bisa dilakukan rakyat ketika mencari keadilan. Penegak hukum tidak berpihak pada mereka, padahal rakyatlah pada hakekatnya yang membayar para penegak hukum. Rakyat pasti dikalahkan saat berhadapan dengan penguasa dalam sistem demokrasi.

Berbeda dengan sistem Islam. Banyak contoh bahwa penguasa bisa dikalahkan oleh rakyat biasa. Seorang khalifah bisa dijatuhi hukuman potong tangan oleh makamah mudzalim dalam sebuah peradilan karena telah berbuat dzalim pada rakyat biasa. Tuntutan tentang kepemilikan baju khalifahpun tidak bisa dimenangkan jika tidak cukup bukti meskipun lawannya adalah rakyat biasa.

Tentunya, ini tidak pernah ditemukan dalam sistem demokrasi. Rakyat yang berani melaporkan  kedzalimi penguasa, malah terkena hukuman dengan tuduhan menyebarkan kebohongan atau ujaran kebencian pada penguasa.

Rakyat dianggap musuh oleh penguasa, padahal mereka harusnya  pihak yang wajib dilindungi. Penguasa yang benar pasti akan melindungi rakyatnya dari pihak-pihak yang berbuat dzalim pada mereka.

Jangan rakyat dicurigai saat menyampaikan isi hati. Dengarkan dan jangan ditakuti mereka disaat menyampaikan fakta yang mereka alami. Jangan tuduh mereka menyebarkan kebohongan dan jangan anggap mereka menyampaikan ujaran kebencian.

Kemana rakyat mencari keadilan dalam sistem demokrasi jika penguasa tidak perduli dan tidak mau mengurusi rakyatnya. Penguasa tidak lagi mau berpihak dan melindungi rakyatnya karena mereka dianggap tidak menguntungkan lagi saat kekuasaan dalam genggaman. Penguasa lebih memilih konglomorat dan kepentingan asing yang dianggap bisa menjamin kekuasaannya.

Kemana rakyat mencari keadilan jika penegak hukum, polisi dan hakim tidak berpihak pada mereka. Penegak hukum sudah menjadi milik penguasa.

Polisi dan hakim bertindak dan memutuskan sesuatu atas perintah penguasa yang dzalim, otoriter dan anti-kritik. Rakyat menjadi korban dan tidak tahu kemana harus mencari keadilan karena keadilan dalam sistem demokrasi adalah ilusi, sebuah mimpi yang tidak pernah terjadi.

Rakyat harus bangun dari tidur dan mulai memperjuangkan sistem Islam yang akan mewujudkan keadilan yang nyata, bukan mimpi dan illusi yang tidak pernah terjadi seperti di dalam sistem demokrasi.[MO|ge]

Posting Komentar