Oleh : Roro Ery
(Member Akademi Menulis Kreatif & Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-Siapa yang tak pernah merasakan kasih sayang. Dalam kehidupan manusia pasti merasakan hal itu baik menyayangi maupun disayangi bahkan sampai yang tidak pernah merasakannya pun akan selalu merindukan dan berusaha untuk mendapatkannya, walau rasa sayang  itu tak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Naluri seseorang pasti ada namun bagaimana menempatkannya tergantung pada pemahamannya.

Hari kasih sayang identik dengan warna merah jambu yang biasanya budaya barat merayakannya pada tanggal 14 Pebruari, bahkan merah jambu ini sudah menjadi virus bagi generasi muslim saat ini yang merambah di segala usia.

Disayangkan budaya ini justru sangat menyesatkan karena banyak orang tidak tau asal usul perayaan tersebut, akhirnya budaya ikut-ikutan pun menjadi biasa dan trend.
Fakta Valentine Day

Jelas sudah bahwa valentine day’s berasal dari dunia barat yang mereka nyatakan adalah sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Sejarah menceritakan bahwa valentine day adalah hari raya Lupercalia yaitu sebuah perayaan Lupercus dewa kesuburan yang dilambangkan  setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.

Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus menyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa saja yang dijumpai.

Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan cara itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah. Dan masih banyak cerita sejarah yang terkait perayaan valentine yang dengan versi barat sesuai apa yang mereka alami dan lakukan mulai dari masa abad pertengahan sampai pada era modern.

Pengaruh Valentine Day

Budaya valentine day masih sangat dilestarikan hingga hari ini di belahan dunia termasuk  Indonesia, hari itu yang paling ditunggu oleh berbagai kalangan terutama remaja. Di hari valentine mereka bisa menunjukkan rasa kasih sayangnya terhadap pasangan, sahabat atau keluarga tercinta bahkan sampai pada memberikan hadiah sebagai simbul dan bentuk rasa sayang.

Dengan merayakan valentine day justru membawa pada aktivitas yang menjurus pada kemaksiatan namun pelaku tidak sedikitpun merasa bahwa yang dilakukan itu adalah salah. Batas benar atau salah kembali pada keimanan dan pemahaman pada pemikirannya, sehingga akan melahirkan pada pola tingkah laku dan perbuatan.

Bentuk rasa sayang memang harus tetap dipenuhi dalam koridor batas-batas sebuah aturan yang tidak akan pernah menyesatkan justru mendatangkan pahala bagi pelakunya.

Namun penyalurannya pada perayaan  yang mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan metologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari symbol perayaan hari agama, lalu masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda mudi.

Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dan ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiatdan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandengan tangan, berpelukan, berciuman bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh dengan alas an bahwa semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang itu. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja hukumnya haram apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isro : 32)

Pandangan Islam terhadap Valentine Day

Islam memandang bahwa Valentine day itu adalah sebuah budaya barat yang tidak lepas dari system Liberalisme-Sekulerisme yang mana bahwa pemisahan agama dari suatu kehidupan, sehingga tidak ada rasa takut sama sekali atas apa yang terkait dengan sebuah aturan yang mana bila ditinggalkan akan menuju pada kesengsaraan. Islam tidak diterapkan sehingga kebebasanlah menjadi tuan-tuan yang merasa harus diikuti oleh orang kebanyakan.

Rasulullah Saw telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam termasuk alasan Valentine dilarang dalam Islam, artinya “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR.At-Tirmidzi)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, “Memberi kan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram”.

“Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akherat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya”. (Al-Mujadilah:22)

Jadi larangan kepada kaum muslim begitu terus digencarkan dan selalu terus diingatkan karena ketika merayakan Valentine Day berarti meniru-niru orang kafir, Menghadiri perayaan orang kafir bukan ciri orang beriman.

Mengagungkan sang pejuang cinta akan berkumpul bersamanya di hari kiamat nanti, Hari kasih sayang menjadi hari semangat berzina, Meniru perbuatan setan.[MO/ad]

Posting Komentar