Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Achmad Zaky, dianggap tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, tidak tahu adab, tidak tahu balas Budi. Usaha bukalapaknya, diklaim telah didukung dan di promosikan Jokowi, sungguh tega berani ngetweet 'Presiden Baru' sebagai harapan.

Jokowi juga demikian, diambil dari Solo, di Modalin, dipoles, dan didandani agar bisa nyagub DKI. Akhirnya menang. Begitu menang dan debat dengan lawan politik yang dahulu menolongnya, dengan enteng tanpa punya malu sebut tak punya dosa masa lalu, tak keluar duit untuk politik, bahkan terakhir dengan darah dinginnya tega menyerang lawan politik dengan narasi 'propaganda Rusia'.

Sebenarnya, antara Zaky dan Jokowi siapa yang lebih tak tahu diri ? Siapa yang lebih tidak tahu diuntung? siapkan yang lebih tidak tahu adab? Siapa yang lebih tidak tahu balas Budi?

Tentu jawabnya salah satu diantara mereka, dan/atau keduanya tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, tidak tahu adab, tidak tahu balas Budi. Tapi, keduanya beda dalam aspek menimbulkan mudhorot bagi umat.

Ahmad Zaky hanya pengusaha lapak, jika dia tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, tidak tahu adab, tidak tahu balas Budi, paling-paling cuma orang yang ngelapak di lapaknya yang ketiban getah. Itupun baru asumsi.

Tapi untuk Jokowi, ini beda, dampak destruktifnya sudah nyata dan akan berdampak lebih luar biasa. Jokowi yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, tidak tahu adab, tidak tahu balas Budi, memiliki predikat Presiden sekaligus capres pada Pilpres 2019.

Kebijakan Jokowi yang bohong, ingkar, khianat, represif dan anti Islam telah nyata menimbulkan dampak yang merusak bagi segenap bangsa dan negara. Apalagi, Jokowi yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung, tidak tahu adab, tidak tahu balas Budi, ini nyapres lagi ditahun 2019.

Sudah bisa dibayangkan, betapa rusaknya tatanan nilai, adab, budaya, hukum, dan Pranata sosial berbangsa dan bernegara, dihantam gaya Jokowi yang memimpin dengan narasi BUKAN URUSAN SAYA. Sikap Jokowi, yang terbukti gagal sebagai Presiden tentu menjadi catatan penting untuk tidak memilihnya di 17 April 2019.

Jadi ini bukan sekedar soal mana yang lebih beradab ? Mana yang lebih beretika ? Mana yang lebih tahu diri ? Mana yang lebih punya hati untuk ucapkan untaian terima kasih, tetapi soalnya adalah mana yang lebih memberikan dampak merusak bagi bangsa ini ?

Ahmad Zaky, bagaimanapun telah memberi sumbangsih, menjadi mitra UMKM dalam menggeluti bisnisnya. Jokowi ? Apa prestasi Jokowi ? Apa yang bisa dibanggakan dari sosok tukang utang, yang represif dan anti Islam ?

Karena itu wahai umat Islam, wahai jiwa yang masih dikaruniai akal. Saya tidak memiliki satupun alasan untuk memilih Jokowi, tapi saya punya ribuan argumen untuk tidak memilih Jokowi.

Karena itu, aneh sekali jika umat Islam berdiri disamping Jokowi, yang terbukti zalim, pada agama dan ulamanya. Karena itu wahai umat, segeralah berdiri digaris depan perjuangan, untuk segera mengakhiri rezim tiran. Rezim yang represif, anti Islam dan ulama. [MO|ge]

Posting Komentar