Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Benefit politik dari debat capres itu bukan pada saat acara debatnya, tapi terletak pada respons publik terhadap debat. Kandidat, bisa saja bangga dan merasa jumawa telah tampil secara mempesona, namun respons publik kembali menjadi hakim penentunya.

Pada debat Pilpres kedua, Jokowi merasa bangga karena menganggap telah tampil sempurna. Bahkan, sesekali Jokowi menampakan aksen 'meledek lawan debat' dan sempat menyerang pribadi lawan dalam hal soal lahan.

Sebelumya, Jokowi juga terbiasa menyerang personal lawan dengan mengungkit aspek kekuarga. Jokowi berujar 'keberhasilan pemimpin itu paling tidak bisa dilihat dari bagaimana dia memimpin keluarga'. Pernyataan ini, diikuti dengan sinetron 'pamer anggota keluarga' sampai memboyong cucu untuk melambungkan elektabilitas.

Kembali ke soal benefit politik, pasca debat nampaknya Jokowi baru sadar. Penampilan memukau tidak berbanding lurus dengan dukungan publik. Publik, justru mengkritik Jokowi yang dalam penyampaiannya didepan publik, justru menampilkan data-data hoax.

Andai saja, yang debat capres ini Ratna Sarumpaet, pastilah penyidik kepolisian negara Republik Indonesia langsung menangkap Jokowi, karena melanggar pasal 14 UU No. 1 tahun 1946 tentang peraturan pidana. Jokowi telah menebar kebohongan publik, sehingga bisa langsung ditahan karena ancaman pidananya 10 tahun penjara.

Respons netizen negatif, publik marah dianggap cebong yang bisa ditipu-tipu, semua angkat suara. Detik, kompas, Jawa pos, kumparan, segera merilis data data pembanding untuk meluruskan hoax Jokowi. Organis LSM seperti greanpeach Indonesia dan kontras juga ikut nimbrung.

Netizen kreatif, membuat berbagai meme dalam bentuk dan kreasi yang berbeda, untuk menumpahkan kekesalan sekaligus lucu lucuan. Jokowi, kehilangan Marwah sebagai capres yang juga masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Tapi ingat, jatuhnya Marwah Jokowi itu akibat, bukan sebab. Sebabnya, adalah perilaku Jokowi yang tidak jujur dan amanah. Bahaya sekali, jika bangsa sebesar ini dipimpin seorang pembohong seperti Jokowi ?

Debat Pilpres kedua, jelas berimbas pada rontoknya elektabilitas Jokowi. Saat ini, Jokowi tidak sedang berhadapan dengan lawan capres, tetapi sedang melawan seluruh rakyat Indonesia yang tidak sudi terus dibodoh-bodohi.

TKN Jokowi pusing, mau pake jurus apalagi untuk memoles Jokowi. LOBANG dan bopengnya, terlalu parah. Didempul berkilometer, tetap juga tak mampu menutup wajah asli Jokowi yang Pendusta.

Dalam kondisi demikian, Jokowi hanya bisa pasrah. Menanti hari-hari sebelum akhirnya kekuasaan itu diambil alih oleh sang pemiliknya. Sejak saat itu, masa pembalasan akan segera diproklamirkan. [MO|ge]

Posting Komentar