Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jancuk, bisa dianggap sebagai sapaan keakraban. Arek Suroboyo, biasa memanggil sejawat yang dihormati (baik lebih tua maupun karena lebih dihargai) dengan sebutan 'Cak'. Di Jawa tengah Cak dipersamakan dengan panggilan 'Mas'. di Jabar, 'AA'.

Namun, untuk panggilan ngoko untuk teman sebaraan, sepantaran, sengopi dan sengerokok, biasanya sapaan akrabnya Cuk, akronim dari Jancuk. "Yok Opo Kabare Cuk ?", begitulah ketika arek suroboyo ngoko menanyakan kabar ke rekan atau temannya.

Panggilan 'Cuk' bisa juga disepadankan 'Dab' untuk anak Jogja, atau 'Ndes' untuk semarangan. Piye kabare ndes ? Wis Bali ? Heeh ? Begitulah sapaan anak Semarang. "Dab, ayo tuku Sego kucing.." begitulah, seruan anak jogja yang ingin mengajak sejawatnya memberikan pertolongan pertama pada perut keroncongan.

Namun, Jancuk juga bisa dimaknai umpatan. Setara dengan ungkapan 'keparat' atau 'sontoloyo' atau 'Fuck You' istilah englishnya.

Jokowi itu memang Jancuk, tapi bukan yang diintroduser oleh pengikutnya dengan ungkapan : jantan, cakap, ulet, dan komitmen. Jokowi Jancuk, karena Jokowilah BBM mahal, TDL naik, freeport boyong 55 triliun dan meninggalkan limbah lingkungan untuk NKRI, utang menggunung, TKA China membludak, terjadi disharmoni sosial dengan munculnya fenomena pembelahan cebong-kampret, duit haji diembat untuk Infrastuktur, bahkan BPJS sampai Nunggak membayar klaim tagihan rumah sakit karena duitnya untuk bangun infrastruktur.

Jokowi memang Jancuk, bahkan meminjam istilah Gus Nur, Jokowi itu 'Jancuk Njaran'. Ini level keparat yang paling tinggi.

Bagi umat Islam, kemarahan atas berbagai kezaliman di era Jokowi ini juga sudah sampai level 'JANCUK NJARAN'. Bukan hanya kepada ulama, habaib, aktivis Islam yang dikriminalisasi. Bahkan ajaran Islam khilafah, juga simbol bendera tauhid, turut dikriminalisasi.

Belum pernah, umat ini mengalami penzaliman seperti saat era Jokowi. Ormas yang konsisten melakukan aktivitas dakwah tanpa kekerasan, hanya modal OMDO (omong doang), juga dituding anti Pancasila dan dibubarkan. Sementara parpol yang kadernya korup, ormas yang kadernya ngembat istri orang, ngembat duit benih jagung, berkoar NKRI harga mati, tidak pernah ditindak.

Ngetweet saja, di era Jokowi kena pidana 1,5 tahun penjara. Sementara, cukong China yang sengaja menabrak dan membunuh jiwa yang diharamkan Allah SWT, cuma diganjar 1 tahun penjara.

Di zaman Jokowi, orang kafir dan munafik terbuka menghina Islam, menghina Nabi, menghina Al Quran. Yang paling mashur, adalah peristiwa penodaan agama oleh Ahok. Itu semua terjadi di era Jokowi.

Jadi, Jokowi memang Jancuk. Jadi, tidak salah jika saat kunjungan ke Surabaya Jokowi digelari Jancuk. Bahkan, Jokowi itu Jiancuk Njiaran. [MO|ge]

Posting Komentar