Oleh : Eka Puji Margianti 

Mediaoposisi.com-Kemerdekaan indonesia tidak luput dengan sebuah janji,hingga sekarang janji terus dirangkai saat adanya pemilihan pemimpin negeri. Bukan hanya sebuah lisan tapi juga tulisan yang diberikan matrai sebagai bukti tidak akan dilingkari.

Tapi janji tetaplah janji, saat pemimpin sudah terpilih, rakyat sudah menyerahkan kepercayaan kepadanya semuanya tidak lagi terbukti. Ekonomi yang dijanjikan stabil tanpa impor luar negeri, hutang negeri akan berkurang, adanya keadilan dalam hukum, semua hanya sebuah ocehan kecil saat pemilihan.

Kekuasaan dunia membutakkan semua, tugas pemimpin jadi abu-abu tidak jelas apa tujuannya. Semua bagaikan hanya berjalan sesuai kehendak pemilik kekuasaan tanpa melihat apakah rakyat hidup sejahtera?

Semua yang bertahta berlomba mencari keuntungan semata, sehingga janji yang sudah dibuatnya akhirnya terlupa. Begitulah kekuasaan di sistem saat ini, semua berlomba hanya demi uang dan tahta.

Seperti saat ini infrastruktur perbaikan tol menjadi tujuan utama pemerintah dengan kata lainnya infrastruktur yang baik akan baik pula suatu negeri.contohnya, pembangunan infrastruktur jalan tol yang banyak mengabaikan aspek keadilan.

Sebuah penelitian magister perencanaan kota Universitas Gadjah Mada pada 2006 dari Muhammad Sarjan mengungkapkan soal konflik pembebasan tanah untuk pembangunan bandara di Lombok Tengah.

Pembangunan tersebut justru mengakibatkan peningkatan kemiskinan dan angka kriminalitas sebab banyak petani kehilangan sumber penghidupannya.

Pembangunan yang dilakukan tanpa pengawasan dan perencanaan yang tepat dapat menyebabkan degradasi lingkungan, penelantaran aset, menurunnya tingkat kepercayaan terhadap pemerintah, dan hilangnya peluang kerja.

Pembuat kebijakan ketika merancang kebijakan pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan tidak hanya kepentingan bisnis, tapi juga dampak pembangunan terhadap masyarakat dan lingkungan setempat.

Namun praktiknya, pemerintah membuat hukum dan kebijakan yang memudahkan pelaksanaan pembangunan infrastruktur dengan mengabaikan ongkos sosial yang ditanggung masyarakat setempat.

Mengutip dari pidato Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada upacara Peringatan Hari Kemerdekaan lalu, sebanyak 477 pelabuhan telah dikembangkan dan dibangun sepanjang 2015, 11 bandara dibangun, 397 kilometer jalan tol sudah mulai beroperasi, dan 369 kilometer spoor rel kereta dibangun sepanjang 2015-2017. (The Conversation)

Pembangunan terus dilakukan di dalam negeri, tetapi tidak membawa kesejahteraan rakyat Indonesia, permasalahan lain mulai mengikuti jejak sejarah membekas luka di dalam negara. Tugas pemerintah yang notabene untuk rakyat, kini tak kunjung terbukti janjinya.

Ditambah lagi dalam bidang kesehatan, BPJS yang dimana di ciptakan untuk mempermudah rakyat dalam mendapatkan fasilitas pengobatan,kini berujung terbalik mempersulit mereka mendapatkan hak kesehatan mereka. Seperti, yang dialami Kapten Infanteri Leo Sianturi, Komandan Koramil 10 Balimbingan Kodim 02/07 Simalungun, mengamuk di depan Kantor BPJS Kota Pamtangsiantar.

Kapten Leo marah karena mendapatkan perlakukan tidak baik dari Rumah Sakit TNI Kota Pematangsiantar. Kapten Leo curhat kekesalannya kepada Presiden Joko Widodo dan Panglima TNI.

Saat ini kemiskinan yang terus meningkat, korupsi yang terus bertambah, sumber daya alam yang terus habis tak tersisa, bukankah itu tugas seorang pemimpin untuk menyelesaikannya.

Negeri yang seharusnya kaya kini hanya terlihat seperti negeri yang meminta kesejahteraan kepada tuannya. Pergantian Pemimpin terus terjadi tapi perubahan bukan menghasilkan perubahan yang berarti.

Definisi kepemimpinan menurut Rost adalah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi diantara pemimpin dan pengikut yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya.

Menurut Danim kepemimpinan adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh individu untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Dari beberapa teori yang ada Stogdill menghimpun sebelas definisi kepemimpinan, yaitu kepemimpinan sebagai pusat proses kelompok, kepribadian yang berakibat, seni menciptakan kesepakatan, kemampuan mempengaruhi, tindakan perilaku, suatu bentuk bujukan, suatu hubungan kekuasaan, sarana pencapaian tujuan, hasil interaksi, pemisahan peranan dan awal struktur.

Pengertian kepemimpinan mengartikan bukan hanya sebuah tahta, ataupun mendapatkan harta. Bukan hanya bisa berjanji tapi terus dilingkari, tetapi adanya tanggung jawab yang harus di berikan untuk rakyatnya.

Ternyata pemimpin yang di rindukan tak kunjung datang, hanya ada pergantian pemimpin semu belaka. Aturan yang mereka terapkan tak jauh dari sebuah aturan manusia yang mampu berubah sesuai kehendak mereka.bukan hanya sebuah aturan sumber daya alam yang seharusnya untuk rakyat, tidak jelas larinya kemana.

Masyarakat geram dan ingin marah apa yang dirasa,tapi itu hanya teriakan semata karena para pemimpin seperti acuh tanpa berkata. Mereka diam bagaikan tak ada cara untuk mencari kesejahteraan yang mereka inginkan semua hanya tinggal sebuah kenangan.

Haruskah ada perubahan??

Sistem yang terjadi saat ini adalah sistem yang bathil, asas dalam Sistem ini bukan kesejahteraan rakyat, tetapi hanya sebuah keuntungan  semata. Keuntungan menjadi tujuan utama dalam kepemimpinan sistem saat ini. Wajar, saat pemimpin dalam Sistem kapitalisme berani berjanji dan berani mengingkari, karena semua berkiblat keuntungan.

Berbeda dengan islam, kepemimpinan dalam islam adalah mensejahterakat umat, segala aturan pemimpin untuk umat. Pemimpin islam sadar akan pentingnya sebuah janji, janji yang diucapkan selalu dibuktikan, karena mereka sadar akan pertanggungjawabannya.

Dalam islam seorang pemimpin bukan hanya sekedar pemimpin negara tapi pemimpin yang akan mempertanggung jawabkan atas kebijakannya. Segala aktivitasnya harus berlandaskan aturan Allah semata karena sadar tahta hanya sebuah jabatan sementara yang pasti dipertanggung jawabkan dihadapan Allah di akhirat nantinya.

Dalam Alquran dan al hadist menunjukkan kewajiban memenuhi janji dan buruknya melanggar janji. Allah berfirman,

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.’ SQ. Al-Isra’: 34. ‘dan penuhilah janji Allah.’" (QS. Al-An’am: 152)

Dan Allah berfirman ketika menyanjung para hamba-Nya orang-orang mukmin, "(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian." (QS Ar-Ra’du: 20)

Sebagai umat yang taat maka kita tidak boleh memberikan kesempatan untuk orang-orang yang selalu dusta dengan ucapnya.[MO/ad]

Posting Komentar