Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jokowi Jancuk, ternyata makin populer. Sampai hari ini, tidak ada Penyangkalan, keberatan, ralat, atau sesuatu yang serupa dengan itu, yang berasal dari Jokowi, sehingga menurut saya sah-sah saja masyarakat menyebut Jokowi Jancuk, disebabkan beberapa alasan :

Pertama, gelar Jancuk itu _soroha_ (tegas) diberikan kepada Jokowi secara terbuka, dihadapan publik, tanpa ada penyangkalan dari Jokowi. Gelar 'Jancok' diberikan kepada Jokowi saat berkunjung ke Surabaya.

Jokowi, selain digelari 'Cak' ternyata secara bersamaan juga digelari Jancuk. Meskipun, Menurut pembawa acara dalam deklarasi tersebut, Djadi Galajapo 'jancuk' berarti jantan, cakap, ulet dan komitmen.

Kedua, selebrasi penyematan gelar Jancuk itu langsung disambut dengan suara gegap gempita para pendukung Jokowi yang meneriakan yel-yel 'Jokowi Jancuk', Jokowi Jancuk', Jokowi Jancuk'.

Para pendukung, seolah mengukuhkan gelar atas Jokowi dengan meneriakan 'Jokowi Jancuk' secara bersama. Ini laksana selebrasi pengukuhan sarjana, dihadapan sidang yang terbuka untuk umum.

Ketiga, baik secara serius maupun candaan, baik saat penyematan gelar hingga saat ini, tidak ada satupun pernyataan komplain dari Jokowi. Bahkan, Jokowi ikut tersenyum saat disebut Jancuk, Jokowi dengan bangga mengenakan rompi pengukuhan, diiringi teriakan 'Jokowi Jancuk', 'Jokowi Jancuk', 'Jokowi Jancuk'.

Sementara itu, tidak dipungkiri redaksi Jancuk tidak saja dimaknai sapaan keakraban, simbol egalitarianisme dan merakyat. Jancuk juga dimaknai umpatan, bahkan penggunaan Jancuk untuk mengumpat ini lebih lazim digunakan ditengah masyarakat.

Dari kejadian ini, bisa pahami bahwa Jokowi tak memiliki perbendaharaan informasi yang cukup untuk menimbang akses dari gelar Jancok. Jokowi hanya tersenyum, ketika disebut Jancok oleh pendukungnya. Tidak paham gelar ini bisa berimplikasi negatif.

Model pengetahuan yang sangat sederhana dan memprihatinkan seperti ini, membahayakan jika digunakan untuk modal memimpin sebuah bangsa besar seperti negeri ini. Bisa saja, dalam konteks yang lain Jokowi 'tersenyum' bahkan terbahak ketika 'dibombong*' oleh pendukung atau oleh penjajah asing, tentang suatu persoalan, padahal itu bertentangan dengan realitas dan sangat membahayakan rakyat.

Model sederhananya, sama seperti ketika Sri Mulyani dibombong oleh World Bank sebagai Menkeu terbaik se Asia Pasifik. Ini parameternya apa ? Prestasi Sri Mulyani apa ? Utang menumpuk ? Model membiayai APBN dari hutang ? Atau karena sukses menjadi 'agen terbaik' bagi WB yang menjadikan Indonesia nasabah taat bagi WB ? Menjadi nasabah setia hutang ribawi dari rentenir WB ?

Kerena itu, membahayakan sekali jika pemimpin Jancuk model Jokowi ini dipertahankan. Selain secara faktual, frasa 'Jancuk' itu lebih dekat sebagai umpatan untuk mewakili kemarahan publik, khususnya umat Islam atas kebijakan Jancuk dari Jokowi.

Coba lihat, di era rezim Jokowi yang zalim, represif dan anti Islam ini paling gemar mengkriminalisasi ulama, aktivis Islam, tokoh kritis, dan bahkan sampai mengkriminalisasi simbol dan ajaran Islam. Di era Jokowi terjadi tangkap-tangkapan paling masif, dengan dalih UU ITE dan pasal hoax.

Padahal, kalau dirunut Jokowi adalah produsen hoax yang paling massif. Yang paling terkenal dan bahkan akan menjadi prasasti sejarah, hoax Jokowi terkait mobil SMK.

Jadi bagi Anda pecinta artikel Nasrudin Joha, ingat jangan pilih pemimpin Jancuk. Cukup sudah, era kejancukan yang diterapkan dinegeri ini. [MO/ge]

*Nb.
*dibombong (Jawa) adalah ungkapan berupa sanjungan atau penghormatan, yang ditujukan kepada seseorang baik dengan motif menjilat atau sekedar menyenangkan hati pihak yang dibombong, padahal realitasnya pihak yang dibombong tidak layak mendapat sanjungan apalagi penghormatan.

Posting Komentar