Oleh: Fatimah 
(Muslimah Bogor, Write for Dakwah)

Mediaoposisi.com-Ramai netizen buat hastag "#YangGajiKamuSiapaSih?". Karena netizen menganggap ungkapan Bapak menteri  terkesan sedikit emosional. Bapak Menteri mengungkapkan "Jangan dikaitkan dengan pilpres, ibu-ibu dan bapak-bapak masih digaji oleh Kominfo, oleh pemerintah. Terimakasih banyak," Rudiantara mengakhiri pernyataannya. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20190201082607-32-365589/kominfo-klarifikasi-soal-yang-gaji-kamu-siapa

Ungkapan  "Yang gaji kamu siapa sih?", ini ada kitannya dengan kontrak kerja dan ujroh (digaji). Namun ada kesan ungkapannya itu mengandung tendensius penyadaran diri ("Hei kamu sadar diri dong!") pada para  ASN untuk tahu posisi ASN yang masih digaji pemerintah. Saya rasa Ibu tersebut harusnya memang tidak perlu terlalu  open.

Karena kerahasiaan dijamin ko, kan  PEMILU LUBER (Langsung Umum Bebas dan Rahasia). Tidak perlu mengungkapkan kecenderungan memilih paslon yang mana. Cerdas lihat sikon. Karena dalam memilih tidak boleh ada unsur paksaan. Karena suasana tahun politik ini sangat sensitif.

Pandangan Islam soal rizki
Sesungguhnya, dalam Islam rizki di tangan Allah SWT. Allah SWT sebagai Al-Kholiq (pencipta), menyediakan semua keperluan (hajatul udhowiyah) manusia.

Firman Allah SWT dalam Al Qur'an  surat Hud ayat 6 : "Dan tidak ada satu binatang melata  pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya. Dan  Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata Lauhilmahfuzh)."( TQS Hud: 6)

Namun dalam sistem Kapitalisme ini orang digiring dalam opini kurafat. Karena pemikiran Kapitalisme hanya meyakini Allah SWT sebagai pencipta bukan sebagai pengatur kehidupan. Dalam sistem Kapitalisme ini, manusia berpandangan rizki itu tergantung pada usaha, jabatan, Tuannya seperti kasus di atas, keahlian dan rizki yang dapat dihitung/diukur Inilah ilah-ilah lain selain Allah yang muncul dalam Kapitalisme.

Memahami Rizki layaknya memahami qodo dari Allah. Karena rizki adalah bagian dari qodo. Seperti halnya memahami qodo. Ada area dikuasai manusia dan area yang menguasai manusia. Pertama,  dalam area dikuasai manusia artinya manusia diberi akal untuk menjalankan apa yang bisa dikuasainya yaitu ikhtiar.

Dan ikhtiar juga perintah Allah yang dibebankan pada laki-laki (wajib) khususnya sebagai tulang punggung komunitas terkecil yakni keluarga. Maka ikhtiarnya akan menghasilkan rizki dengan ijin Allah SWT pula. Kedua, dalam area Allah yang menguasai. Dalam area ini Allah dengan sifat Irodah-Nya 'Arrozaq' (Pemberi Rizki) menetapkan rizki bagi siapa saja di luar ikhtiar atau di dalam ikhtiarnya. Semua sudah tertulis di Lauhilmahfudz. Maka dalam area ini ada orang yang tidak bekerja tapi masih tetap diberi rizki.

Dalam Islam rizki itu bisa apa saja. Dalam bahasa arab rizkun artinya pemberian. Jadi kalau berupa pemberian bisa berupa uang, kesehatan, sakit, cantik, jelek, kaya, cukup, cerdas, faham agama, khusyuk ibadah, bahagia, sedih dan  lain sebagainya. 

Jadi rizki itu besar kecilnya atau nilainya (cantik tidaknya) tidak akan dihisab. Yang dihisab adalah bagaimana perolehannya/penerimaannya dan bagaimana dipakai atau dibelanjakannya. Sesuai aturan Allah atau tidak.

Kembali pada ungkapan "yang gaji kamu siapa?" Jelasnya tidak perlu keluar dari mulut orang berimanan. Karena ada yang lebih tinggi dari penguasa negara yakni Sang Pencipta manusia yakni Allah. Maka ungkapan itu sontak menimbulkan kegaduhan publik. Secara perasaan mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

Yang bila mendengar ungkapan tersebut akan menjadi kufur nikmat Allah SWT. Apalagi ini ujroh atau gaji atas peluh mereka. Seorang pemberi sedekah saja tidak boleh mengungkit bahakan menyakiti apalagi intervensi pada orang yang diberi sedekah. Karena keikhlasannya akan dipertanyakan. Bahkan akan membatalkan pahalanya. Lillahnya mana?

Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqoroh ayat 264 :
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir . “ (TQS Al Baqarah:264)

Maka dari itu dilarang oleh Allah SWT mengungkit pemberian. Apalagi jelas -jelas gaji. [MOsr]

Posting Komentar