Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jaenudin Ngachiro nampak bersusah payah meyakinkan hati publik, ikhtiar itu 'konon' sampai menggunakan alat bantu.

Meskipun dibantah, tapi mimik 'serius menyimak dengan meraba kuping' sulit untuk ditafsirkan lain, selain si Jae sedang menunggu 'wangsit' dari sang pembisik. Tanpa pembisik, tanpa contekan, si Jae akan banyak menggunakan redaksi kata anu, apa, anu, apa, anu, apa dan bukan urusan saya.

Jae memang gigih, tangguh, untuk menunjukan betapa dia 'muka badak'. Mengungkap 'aib' lawan politik, mengumbar data hoax, dan menyemburkan ujaran optimis diatas puing-puing khayali. Si Jae minta rakyat optimis, padahal Jae selama hampir lima tahun ini sudah membuktikan kepada rakyat bahwa dia gagal memimpin negeri ini.

Jae dikesempatan lain, minta kalau ada masalah laporkan saja. Itu didebat Pilpres yang pertama. Sekarang, giliran doi tebar hoax dihadapan publik, si Jae ngeluh dilaporin. Katanya, kalau mau dikaporin ngapain ada debat ?

Jae jae, yang dilaporin itu bukan debatnya. Tapi elu yang tebar data dan pernyataan hoax. Hoax ini yang membuat Ratna Sarumpaet masuk bui. Elu juga yang minta, kagak boleh ada beredar hoax di negeri ini. Jadi yang dilaporin itu hoax nya, bukan debatnya.

Lagian, elu yang minta kalau ada masalah laporkan. Giliran dilaporin, kok elu ngambek ? Emang apa salah rakyat yang melaporkan ? Seharusnya dipersoalkan kenapa elu sebar data hoax ? Omongan hoax ?

Jae Jae, yang dipermasalahin itu bukan Bolpoin. Tapi kenapa elu terbata menyampaikan data, kayak ada yang ditunggu. Lagian, kenapa pencat-pencet kepala Bolpoin dan pegang telinga ? Memang telinga tempat bersarangnya otak ?

Lagian, elu gaya klarifikasinya juga ndeso. Ketemu wartawan, bawa Bolpoin untuk meyakinkan. Lantas, siapa yang jamin Klo Bolpoin yang elu tunjukin itu Bolpoin yang sama saat debat ? Kalau urusan kebakaran hutan aja elu berani boong tiga tahun Tak ada kebakaran, apalagi cuma soal Bolpoint ?

Jae Jae, semua survey pasca debat itu menyatakan elu kalah. Elu juara debat, tapi justru debat yang penuh dusta dan keangkuhan itu berujung simpati rakyat pada lawan politik. Elu kayaknya Ga paham arah preferensi politik umat ya ?

Belum lagi, jelang 17 April elu malah percepat kasus kasus kriminalisasi. Gus Nur, Ahmad Dani, KH Slamet Ma'arif kasusnya cepat naik, padahal sebelumnya tidak ada apa-apa.

Wajar saja jika rakyat khususnya umat Islam menyebut rezim Jae sebagai rezim represif, anti Islam dan ulama. Itu betul, bukan klaim atau tudingan belaka.

Jae Jae, persoalannya umat sudah emoh. Mau janji setinggi langit pun rakyat tetap ogah. Rakyat tidak mau dipimpin oleh pemimpin yang gemar berbohong.

Jae Jae, mau gimana lagi ? Rakyat sudah ogah dipimpin elu. [MO|ge]

Posting Komentar