Oleh: Salamatul Fitri
(Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

Mediaoposisi.com-Dunia mahasiswa selalu menarik untuk diperhatikan. Salah satunya dengan adanya Program SEA Teacher Project. Program tersebut merupakan program pertukaran mengajar mahasiswa indonesia dengan mahasiswa dari asia tenggara. Selama satu bulan mereka belajar di universitas yang dituju guna mendapatkan ilmu serta pengalaman berada di negara yang ditempatkan. Mahasiswa yang berasal dari negara di asia tenggara juga belajar di universitas yang menjalin kerjasama di indonesia.

Delapan mahasiswa ASEAN dari Filipina dan Thailand mengikuti program mengajar di sejumlah sekolah di Kota Jambi dalam program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional ASEAN 2019 yang difasilitasi Universitas Jambi (Unja). "Saat ini ada delapan mahasiswa yang berasal dari Khonkaen University, Thailand, Saint Louis University Filipina, Nueva Ecija University of Science and Technology, Filipina dan Saint Paul University Surigao, Filipina," kata Kepala UPT Layanan Internasional Unja Sri Wachyuni di Jambi, Selasa.

Para peserta PPL Internasional dari dua negara ASEAN itu disebar untuk mengajar di sejumlah sekolah yakni di SMU 5 Kota Jambi, SMP 11 Kota Jambi, SD 47 Kota Jambi dan TK Pertiwi Kota Jambi. Kegiatan PPL internasional yang difasilitasi UPT Layanan Internasional Unja tersebut merupakan tahun kedua. Pada 2018, sebanyak tujuh mahasiswa, yakni enam dari Filipina dan satu dari Thailand juga mengajar di sejumlah sekolah di Kota Jambi. (tribunjambi, 30/01/2019).

Selain menerima mahasiswa universitas juga mengirimkan mahasiswanya mengikuti Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Internasional ASEAN 2019 ke Filipina. Selama PPL mereka akan tinggal di negara tujuan selama 28 hari.

Apa itu Sea Teacher Project 
SEA Teacher Project atau juga biasa disebut dengan Pre-Service Student Teacher Exchange in Southeast Asia, adalah sebuah program yang bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa dari universitas yang ada di Asia Tenggara untuk memiliki pengalaman praktikum mengajar di sekolah-sekolah di negara-negara lain di Asia Tenggara.

Program SEA Teacher Project ini diinisiasi Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO). Sebuah organisasi yang didirikan pada 1965 yang melibatkan negara di Asia Tenggara untuk mempromosikan kerja sama di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan di negara-negara anggota. Salah satu program dari SEAMEO ini adalah SEA Teacher Project yaitu program pertukaran mahasiswa jurusan kependidikan untuk melakukan praktik mengajar di negara-negara ASEAN.

Program ini baru dilaksanakan tahun 2016 dan berhasil dilaksanakan dalam 7 gelombang di awal Januari ini. Selanjutnya program akan terus berjalan dengan mengirimkan calon tenaga pendidik belajar dan mengajar di negara ASEAN. Berbagai Universitas ternama Indonesia bergabung dalam program ini dan mengirimkan mahasiswanya belajar mengajar di luar negeri.

SEA Teacher Project merupakan ajang untuk saling bersinergi dan berkolaborasi di Era Globalisasi terutama dalam sektor pendidikan. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Lampung, Bujang Rahman. “Kita melihat bahwasanya kebutuhan bahasa Inggris menjadi sebuah kebutuhan mutlak yang tidak bisa dihindari. Sharing ilmu dan kebudayaan antar sesama”, katanya. (lampost.co, 14/01/2019).

Invasi Masuknya Budaya Asing
Saat ini barat memang menjadi acuan bagi pendidikan indonesia. Setiap PTN/PTS akan berusaha guna menunjang keberhasilan pendidikan di kampus dengan kerjasama dalam dan luar negeri. Apa lagi kampus dibebaskan untuk melakukan pengelolaan sendiri tanpa pengaturan dari pemerintah. Makanya Rektor berusaha bagaimana cara kampusnya menjadi yang terbaik di Indonesia,  jalannya menjalin hubungan baik dengan pihak luar negeri yang notabene sudah memiliki kualitas pendidikan terbaik.

Program SEA teacher project perlu dikritisi. Mengapa demikian? Mahasiswa mempunyai peran strategis yang akan melakukan perubahan. Mahasiswa FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang dikirim keluar negeri pasti akan bersinggungan dengan pemikiran asing, budaya asing yang notabene bertentangan dengan syari'at islam.

Pemikiran dan budaya tersebut pasti akan di bagikan dan disampaikan kepada teman-temannya serta anak didiknya. Tatkala kelak menjadi guru maka sistem pendidikan sekuler-liberal lah yang akan menjadi rujukannya. Dia secara tidak sadar telah menjadi agen guna penanaman pemikiran asing dan budaya asing di negeri mayoritas muslim ini.

Pemikiran liberal yang bebas akan menjadi acuan para calon tenaga pendidik ini. Mereka pasti akan menanamkan pemikiran tersebut ke peserta didik. Akhirnya akan melahirkan generasi muslim tetapi berpemikiran liberal (bebas). Begitulah jika asing sudah mulai mendominasi pendidikan, mereka tidak mungkin hanya kerjasama atau hubungan baik pasti ada keinginan yang di capai setelahnya.
Globalisasi dalam pendidikan tinggi memang terjadi.

Universitas di dorong untuk bersaing memajukan kampusnya, sumber daya manusianya dan juga kualitas pendidikannya agar mampu bersaing dengan kampus-kampus ternama di luar negeri. Beginilah jika sistem pendidikan sekuler-liberal yang dijalankan. Maka tidak mengapa belajar dari barat asalkan dapat manfaat dibaliknya. Padahal kehidupan disana yang jauh dari kehidupan islami sungguh bertentangan dengan nilai-nilai islam.

Sistem Pendidikan Islam Menjadi Mercusuar Dunia 
Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW menerapkan Islam dalam institusi Daulah Islamiyah yang kemudian sejak Khulafaur Rasyidin disebut dengan Khilafah Islamiyah. Dalam sistem Khilafah, lahir banyak ilmuwan Muslim dengan berbagai karya yang spektakuler dan membuat dunia berdecak kagum. Bahkan pada masa keemasannya, Khilafah membuat sinarnya sampai di bumi Eropa. Khilafah betul-betul menunjukkan diri sebagai pusat peradaban yang maju dan menjadi mercusuar dunia.

Saat islam yang berkuasa maka Sistem Pendidikannya menjadi rujukan dunia. Banyak masyarakat eropa yang belajar dan menimba ilmu di Universitas-Universitas yang ada di dalam Daulah Islam. Pendidikannya menjadi rujukan negara-negar kafir saat itu. Pendidikan di Cordova, contohnya. Melahirkan Ilmuwan ternama dengan ditunjang perpustakaan yang menyimpan ratusan jumlah buku. Tidak kah kita rindu ketika islam yang menjadi mercusuar dunia? Sejarah telah mencatat bahwa Raja George II dalam suratnya mengakui kehebatan Khilafah, bahkan ia menitipkan putera puterinya menimba ilmu dalam negara Daulah Khilafah.

Walhasil, Khilafah akan kembali menjadi mercusuar dunia karena keagungan syariah Islam diterapkan secara kaffah dan mendatangkan ridha Allah SWT. Jika nanti Khilafah akan senantiasa mengejar dan berupaya untuk menguasai sains dan teknologi, kini saatnya bagi kita untuk mengejar pahala dan ridha Allah SWT dengan cara berjuang menegakkan Khilafah.

Kemenangan islam sudah di depan mata. Mari singsingkan lengan, pertajam analisa guna menyampaikan kebenaran islam. Islam menanti peran mu sebagai garda terdepan perubahan. Kota Roma menanti untuk ditaklukan. Semangat perubahan harus ditanamkan dalam jiwa-jiwa muda. Jangan sampai mereka terjebak dengan kebijakan ala kapitalis yang membuat mereka menjadi generasi apatis.[MO/sr]

Posting Komentar