Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-  Dalam pengakuan ustadz Yusuf Mansyur yang diapload di Instagram TGB menyatakan bahwa Jokowi orang yang baik karena rutin puasa sunah senin dan kamis. Benarkah??? Bisa jadi memang sebagai individu beliau baik tapi tidak sebagai pemimpin sebuah negara.

Menjadi pemimpin yang baik tidak cukup memiliki nafsiyah yang Islami tapi dia harus memiliki
pamikiran yang Islami pula sehingga terbentuklah pemimpin amanah yang berkepribadian Islam.
Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin kuat yang memimpin dengan al-Quran dan Ash-Sunah.

Sangat berbahaya seorang yang memiliki nafsiyah yang baik tapi lemah. Rasullulah pernah melarang salah satu sahabat nabi yang lemah untuk menjadi pemimpin. Lemah bukan secara fisik namun tidak bisa mandiri dalam memutuskan sesuatu. Saat seseorang terpilih menjadi pemimpin satu negara, dia adalah milik seluruh rakyat.

Dia harus bersikap adil terhadap semua rakyat. Dia bukan lagi pekerja partai yang tunduk pada pimpinan partai pengusung. Dia tidak boleh jadi boneka siapapun. Pemimpin yang kuat harus merdeka dari intervensi asing dan aseng. Dia akan berani menghilangkan hegemoni asing dengan menyelesaikan hutang luar negeri bukan malah menambah sampai menggunung.

Seorang pemimpin negara tidak akan bisa lepas dari pengaruh asing saat hutang luar negeri masih membelit negeri yang dipimpinnya. Pemimpin ideal harus kuat dan berani mengembalikan aset negara untuk dikelola sendiri dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umat.

Pemimpin ideal adalah pemimpin yang mengatur hidupnya dengan Islam termasuk bagaimana
saat dia memimpin sebuah negara. Jangan hanya menampakkan kesalehan individu tapi pemikirannya sekuler. Dengan menampakkan kasalehan individu seperti melaksanakan puasa
sunah atau sholat tahajut, malah justru jatuhnya adalah riya'.

Bahkan dalam surat al-ma'un Allah menyebutnya orang -orang yang celaka karena lalai dalam sholatnya. Mereka mengerjakan sholat hanya ingin dilihat orang lain atau pencitraan diri. Tidak cukup pemimpin dengan kesalehan individu tapi kebijakan yang diambil selama memimpin harus sesuai dengan hukum syara karena kebijakan publik ini yang akan berdampak pada kondisi rakyat bukan keshalehannya.

Setiap mengambil kebijakan harus sesuai dengan hukum syara. Kemudian, kepentingan rakyat harus menjadi pertimbangan utama karena tugas pemimpin dalam Islam adalah mengurusi urusan rakyat.
Pemimpin harus peka dengan masalah yang dihadapi rakyat. Dia mau turun ke kebawah untuk
mengetahui secara langsung apa yang rakyat rasakan.

Kemudian, dengan sungguh-sungguh menemukin solusinya sehingga rakyat merasa aman dan sejahtera. Pemimpin yang ideal bukan anti-kritik. Kritikan harus didengar dan disikapi secara bijak bukan ditakuti atau bahkan dimusuhi. Kritikan bisa menyelamatkan seorang pemimpin dari kehancuran.

Sementara, sanjungan dan punjian bisa membuatnya terlena dan lupa diri sehingga bisa mengantarkan pada akhir kehancuran yang menyakitkan. Pemimpin ideal yang menjadi harapan kita bersama adalah pemimpin yang berkepribadian Islam. Dia akan selalu mengkaitkan setiap tingkah laku maupun pemikirannya dengan Islam sehingga dihasilkan keputusan dan kebijakan sesuai hukum syara. [MO/ra]

Posting Komentar