Oleh: Fatimatussany, S.Kep

Mediaoposisi.com- Era politik 2018/2019 adalah era dimana generasi milenial menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Generasi milenial lahir sekitar antara tahun 1990an sampai sekitar tahun 2000an. Dahulu, anak muda umumnya apatis bahkan menganggap politik adalah dunia nista, tapi kini pernyataan tersebut tidak lagi berlaku.

Menurut Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), pemilih berusia 17-35 tahun mencapai 55% pada tahun 2019. Pemilih dengan rentang usia ini bisa dikatakan sesuai dengan kisaran usia millenial (detiknews.com). Hal ini membuktikan bahwa generasi millenial tidak bisa dianggap remeh dalam menyikapi politik hari ini.

Kehadiran Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga bukti naik daunnya politik millenial di era ini. Sebanyak 70% dari pengurus PSI berusia dibawah 33 tahun, sehingga tidak salah jika PSI dilihat sebagai partainya millenial (mdetik.com).

Menelisik lebih dalam, penggambaran generasi milenial sebelum memasuki era hari ini adalah sebagai orang yang pragmatis dan kurang tertarik dengan idealisme politik. Politisi muda hampir tidak tercakup di media sebagai wakil generasi milenial, mereka lebih menyukai dengan menghadirkan terobosan dan inovasi bisnis yang cerdas.

Fakta hari ini, generasi milenial di Indonesia sangat kritis terhadap pemerintahan yang berkuasa. Terlihat dalam gerakan #2019GantiPresiden, mereka bergabung guna menyalurkan idealisme politik mereka.

Kesadaran politik millenial hari ini cukup diancungi jempol. Sikap ingin merubah negeri ini sudah ada dalam benak generasi millenial. Upaya-upaya yang dilakukan pun menunjukkan keseriusan mereka dalam berpolitik. Wajar, hari ini pun generasi milenial ditarik simpatisannya, salah satunya untuk mendukung Capres Cawapres 2019 yang akan menduduki kursi nomor satu di Indonesia pada April 2019 mendatang.

Adanya tarikan yang dilakukan oleh Capres Cawapres 2019 kepada generasi milenial, harusnya menjadikan generasi milenial berpikir. Bukan karena keberpihakan mereka kepada kedua Capres Cawapres atau salah satu dari Capres Cawapres tersebut, tetapi lebih kepada bagaimana cara menyelamatkan negeri ini.

Fokus yang dilakukan pun bukan hanya sekedar #2019GantiPresiden, tetapi lebih terfokus kepada menganalisis akar masalah yang terjadi di negeri ini. Jangan sampai semangat berpolitik generasi milenial tercoreng hanya karena ‘iming-iming’ yang akan didapatkan saat posisi kepresidenan sudah terduduki. Jangan sampai pula, generasi millenial menjadi sumbangsih terbesar dalam mendukung kebijakan-kebijakan yang justru menjadikan negeri ini lebih terpuruk.

Belajar dari kisah sahabat nabi bernama Mus’ab Bin Umair, pemuda pilihan Rasulullah  yang dijadikan duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah.

Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush'ab, tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush'ab.

Mus’ab berperang demi memperjuangkan negeri dan agamanya. Ia rela mempertaruhkan nyawanya. Lengan kanan dan kirinya tidak luput dari pedang lawan, walaupun demikian ia berusaha untuk tetap mempertahankan bendera Islam agar tidak jatuh di tanah sampai pada akhirnya ia meninggal dalam peperangan tersebut dalam keadaan mati syahid.

Perjuangan seperti inilah sekiranya yang bisa dijadikan contoh generasi milenial dalam memilih dan bertindak, terlebih di era hari ini. Visi misi berpolitik sejatinya didasarkan kepada perjuangan dalam menumpas musuh yang menjadikan negeri ini terpuruk dalam sistem yang menyelimutinya, bukan malah terlena dengan tarikan simpati yang diberikan. Nah, generasi millenial perlu berpikir, suara yang dikeluarkan apakah sesuai dengan visi misi politik sesungguhnya? [MO/sr]

Posting Komentar