Oleh: Al Azizy Revolusi

Mediaoposisi.com-Masyarakat kini sedang disuguhi oleh pemandangan rutin yang dijumpai hanya lima tahun sekali: kampanye Pemilu. Parpol-parpol kontestan Pemilu mengerahkan segala daya dan dana untuk mengegolkan calon-calonnya menjadi wakil rakyat, atau kalau mungkin menjadi kepala negara.

Sangat disayangkan bila partai-partai politik telah memanipulasi kesengsaran, kemiskinan, kebodohan, dan ketertindasan rakyat sebagai bahan-bahan kampanyenya; lalu memolesnya dengan janji-janji kosong.

Semua itu mereka kedepankan dalam rangka kepentingan partainya, kepentingan para elit parpol. Sekali lagi sangat disayangkan bila mereka mencampakkan kepentingan ideologi, kepentingan masyarakat, dan kepentingan negara hanya untuk memenuhi nafsu dan ambisi parpol untuk berkuasa.

Dampaknya, tidak jarang, muncul benturan horisontal di antara partai-partai tersebut yang memakan korban harta benda maupun jiwa. Belum lagi ketakutan yang dialami oleh masyarakat karena fanatisme para pengikut dan pendukung parpol.

Itulah ashabiyah, yaitu semangat atau fanatisme golongan, kelompok, partai; yang mengedepankan kepentingan-kepentingannya, melupakan kepentingan-kepentingan yang sebenarnya jauh lebih besar dan jauh lebih penting.

Ashabiyah adalah perilaku jahiliah.Tatkala Islam datang, tradisi jahiliah ini masih melekat secara mendalam di dalam diri orang-orang Arab, tidak terkecuali kaum Muslim saat itu. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam senantiasa membenci dan berupaya membuang jauh-jauh tradisi jahiliah tersebut. Sebab, tradisi itulah yang menjadi biang perpecahan dan perselisihan di antara para sahabat dan kaum Muslim.

Suatu ketika, seorang Yahudi bernama Syash bin Qais lewat di hadapan orang-orang Aus dan Khazraj yang saat itu tengah bercakap-cakap. Yahudi tersebut merasa benci melihat keakraban mereka, padahal mereka (Aus dan Khazraj) itu dulunya (sebelum Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam berhijrah ke Madinah) saling bermusuhan.

Lalu Yahudi tersebut menyuruh seseorang untuk turut terlibat di dalam percakapan mereka, seraya membangkit-bangkitkan cerita jahiliah pada masa Perang Buats. Orang-orang Aus dan Khazraj pun segera terprovokasi.

Aus bin Qaizhi dari kabilah Aus dan Jabbar bin Sakhr dari kabilah Khazraj akhirnya saling mencaci pihak lainnya, dan membangga-banggakan golongannya, hingga nyaris terjadi baku hantam dengan pedang terhunus. Berita itu sampai kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam Beliau kemudian menghampiri mereka seraya bersabda (yang artinya),

"Wahai kaum Muslim, ingatlah Allah, ingatlah Allah. Apakah kalian akan bertindak layaknya para penyembah berhala? Padahal aku hadir di tengah-tengah kalian dan Allah telah menunjuki kalian dengan Islam sehingga dengan (Islam) itu kalian menjadi mulia, menjauhkan diri dari penyembahan terhadap berhala, menjauhkan kalian dari kekufuran, dan menjadikan kalian bersaudara karenanya?”

Seketika merekapun sadar, bahwa mereka digoda syaitan dan diperdaya musuh. Lalu merekapun menurunkan senjatanya, berpelukan dan bertangisan.

Tidak berselang lama, turunlah ayat Allah Subhanahu wata'ala:
Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.

Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian dulu (pada masa jahiliah) bermusuh-musuhan, hingga Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadikan kalian, karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya.

Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian agar kalian mendapat petunjuk. (QS Ali Imran [3]: 103).

Kita khawatir, kampanye yang disaksikan oleh lebih dari 200 juta rakyat yang mayoritasnya adalah kaum Muslim—jika propaganda yang diserukan oleh parpol dan target yang diraih oleh mereka adalah demi kepentingan pribadi, golongan, kelompok, atau partainya saja.

Sebab, hal itu seperti seruan  pada perilaku jahiliyah yang harus dihindari. Bukankah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Bukan dari golongan kami, orang-orang yang menyerukan ashabiyah; orang-orang yang berperang karena ashabiyah; serta orang-orang yang mati membela ashabiyah. (HR Abu Dawud).

Jika kita benar-benar  mengaku Muslim, mestinya kita lebih bersemangat melakukan kampanye dan terlibat aktif di dalam propaganda ditegakkannya hukum-hukum Allah Subhanahu wata'ala, dan mengkampanyekan agar kaum Muslim hidup bersatu di bawah bendera tauhid Lailaha illallah Muhammadur Rasulullah. Bukankah Allah menyeru kita:

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).[MO|ge]

Posting Komentar