Oleh: Himatul Solekah

Mediaoposisi.com-Yang gaji kamu siapa?”, pertanyaan retoris dengan maksud tersendiri. Sempat viral dalam acara Kominfo Next di Hall Basket Senayan, Jakarta (cnnindonesia,com, 31/01/2019). Potret cara berpikir sekuler di kalangan pejabat bahkan umat.
 
Menguatnya pemikiran sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) menjadikan umat lupa akan jati dirinya. Waktu hidup akan habis untuk kepentingan duniawi semata tanpa memikirkan kehidupan akhirat. Terforsir bahkan menimbulkan konflik sosial masyarakat. Ketundukan terhadap syariat Allah SWT terhalangi dari keberkahan, bahkan terkungkung dalam kehidupan rusak yang membingungkan. 

Bisa jadi orang kaya uang dari hasil kerja riba atau korupsi, tetapi keluarganya berantakan. Anak sulit diatur, istri membangkang, orang tua tidak mau mengakui, hutang banyak hingga membuatnya depresi. Paling-paling kalau nggak kuat banyak yang akhirnya bunuh diri. Hidup buat cari uang, makan, jalan-jalan, tidur. Itu-itu… saja.

Habis buat kerja, kerja, kerja, yang bukan satu-satunya sumber rejeki manusia. Memang, kerja adalah kewajiban laki-laki untuk menafkahi keluarga. Tapi jika pemikiran sudah terbelokkan bahwa hidup hanya untuk bekerja, maka siap-siap untuk menjadi manusia yang merugi. Rugi karena tidak sedikitpun harta yang akan di bawa mati kecuali amal kebaikan manusia.

Lupa akan siapa yang membuatnya bisa bekerja, siapa yang membuatnya hidup, yang memberi kesehatan, dan yang memberi kenikmatan harta melimpah. Apalagi, semua pemberian itu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Sang Pemberi Kenikmatan.

Nabi SAW bersabda, “Kedua kaki seorang hamba tidaklah berpindah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai umurnya, dimanakah ia habiskan; ilmunya, dimanakah ia amalkan; hartanya, bagaimana cara ia mendapatkannya dan infaqkan; dan mengenai badannya, di manakah usangnya.” (HR. At-Tirmidzi, shahih).

Maka dari itu, tidak sepatutnya seseorang menyombongkan diri akan apa yang mereka dapatkan di dunia. Kemewahan dunia hanya memperdaya dan merjerumuskan dalam lubang kesesatan. Menggiurkan hingga memalingkan dari kebenaran. Bertindak semaunya selama ada kebermanfaatan dibaliknya. Inilah kungkungan sistem yang telah meracuni pemikiran manusia. Tanpa sadar membuatnya bingung menentukan arahan hidup yang jelas dan benar.

Kita ketahui bahwa perjalanan hidup sangatlah berat, mengais bekal menuju kehidupan akhirat. Penuh pengorbanan hingga menguras pemikiran, waktu, harta, maupun tenaga. Karena pada hakikatnya, tujuan manusia hidup hanyalah untuk beribadah kepada Sang Pemberi Kenikmatan, Allah SWT. Dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dan aturan-Nya sebagai jalan kehidupan.

Untuk itu, saatnya kita kembali pada sistem Islam. Sistem yang akan mengembalikan umat pada kemuliaan dan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Itulah sistem khilafah sesuai manhaj kenabian.[MO/sr]

Posting Komentar