Ilustrasi: Gambar

Oleh : Wida Aulia 
(Pemerhati Masalah Sosial)

Mediaoposisi.com-Kompetisi Esports bertajuk Piala Presiden 2019 akhirnya resmi dibuka.
Ajang ini merupakan kompetisi esports pertama hasil kolaborasi Badan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kantor Staf Presiden, Kementerian Komunikasi dan Informatika, termasuk Indonesia Esports Premier League (IESPL). Dan game yang terpilih
adalah Mobile Legend karena jumlah pemain yang sangat besar di Indonesia (liputan6.com).

Hadiah puluhan juta bagi pemenang kompetisi membuat antusias dari berbagai kalangan, khususnya remaja untuk mengikuti kompetisi tersebut. Penyelenggaraan kompetisi tersebut ibarat menyiramkan air garam kepada luka yang masih menganga di hati orang tua. Bagaimana tidak? Banyak orang tua yang kewalahan menghadapi anaknya yang suka bermain game online
terutama Mobile Legend (ML).

Anak-anak itu rela duduk berjam-jam bahkan seharian, malas belajar dan beraktivitas, rela bolos sekolah, rela tidak makan, mandi dan mengaji, bahkan rela menghabiskan uang puluhan hingga ratusan ribu untuk membeli quota internet. Semua itu dilakukan agar dapat bermain ML dan membeli karakter yang diinginkan. Bahkan ada dari mereka yang sudah mulai berani melakukan pencurian demi mendapat uang untuk bermain ML.

Ketagihan/kecanduan telah membuat generasi ini terlena, sungguh mengkhawatirkan. Dalam benak mereka hanya main, main, dan main. Lalu, prestasi apa yang akan dicetak oleh generasi semacam ini. Kalau kita biarkan, maka sama saja kita menanti meledaknya bom waktu ML yang
akan merusak generasi.

Kita tentu ingin membebaskan generasi ini dari dekapan ML. Peran pemerintah sangat mendukung dalam hal ini. Namun, bukannya melakukan pemblokiran terhadap aplikasi ML, pemerintah justru memberikan fasilitas untuk menggelar turnamen kompetisi ML. Dan ternyata,
lagi-lagi, motif ekonomi menjadi tujuan utama dari kompetisi ini.

Hal ini seperti diungkapkan oleh Kepala Staf Kepresidenan,  Moeldoko, "Harapannya, industri esports dapat semakin berkembang dan berkontribusi makin baik terhadap perekonomian Indonesia, termasuk mendorong Indonesia menjadi pelaku ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020," ujar mantan Panglima TNI tersebut (liputan6.com).

Begitulah akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalis liberal. Sistem itu jelas hanya
berorientasi pada keuntungan materi sehingga mereka silau dengan keuntungan yang akan diraih. Akibatnya, mereka menghalalkan nilai-nilai kebebasan tanpa memperdulikan dampak negatif yang akan terjadi.

Fakta tersebut tidak akan terjadi kecuali negara menerapkan aturan yang berlandaskan pada akidah Islam. Sistem tersebut berorientasi pada ridho Allah sehingga dalam melakukan aktivitasnya selalu bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan ke-Islaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya” (Hadits hasan,
diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya).

Islam memang tidak melarang umatnya untuk bermain. Namun, ketika permainan itu sudah membuatnya terlena sehingga meninggalkan kewajiban, maka bermain game yang mubah tadi menjadi dosa karena telah menjauhkannya dari ibadah kepada Allah dan termasuk perbuatan
yang sia-sia, tidak berguna. Apalagi karakter-katakter dalam ML banyak bermuatan pornografi dan pornoaksi. Hal ini semakin menjauhkan generasi ini dari nilai moral dan agama.

Jadi, kepada siapa lagi kita berharap agar remaja kita terbebas dari pelukan game online semacam ML. Pemerintahlah yang harusnya bersedia menerapkan aturan Islam secara menyeluruh dalam institusi negara. Karena, hanya negara Islam yang dapat menjaga akidah
rakyat dari propaganda kebudayaan asing di negaranya. Maka tugas umat adalah menasihati pemerintah agar bersedia menerapkan aturan Islam dalam institusi negara. [MO/re]

Posting Komentar