Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Generasi millenial memang sangat akrab dengan gadjet dan paling suka dan jago main game. Bertarung dengan lawan di dunia maya yang bisa jadi lebih tua atau bahkan seorang presiden yang perlu dihormati. Dalam dunia game online tidak ada tata krama atau adab dalam berinteraksi karena semua dianggap sama musuh yang harus dikalahkan. Berani dan semangat melawan yang lain inilah yang mereka dapatkan dengan generasi game.

Disaat mereka keluar dari dunia maya masuk ke dunia nyata, kebiasaan menyerang dan melawan terbawa ke dunia nyata. Siapapun tidak perduli dia lebih tua, orang tua atau guru disekolah, akan dilawan jika tidak sesuai dengan keinginannya. Mereka tidak menyadari bahwa dalam dunia nyata, ada tata krama dan adab yang harus dipatuhi agar menjadi remaja yang baik.

Seorang murid di gresik  berani melawan dan menganiaya gurunya. Ini tidak pertama kali terjadi karena sebelumnya pada tahun 2018, seorang siswa membunuh gurunya. Ada juga siswa SMK beramai-ramai membuli gurinya sendiri dikelas.

Dan kabar terakhir, cleaning service dianiaya oleh siswa. Bukankan seretentan kejadian ini bisa menjadi bukti dampak dari game online pada pembentukan perilaku generasi yang buruk. Game online menciptakan Generasi moderen yang tidak bermoral.

Sangat disayangkan jika pemerintah malah mengadakan kompitisi mobile legend hanya karena ingin menarik simpati dari generasi millenial. Bahkan seorang presiden bermain game online bersama emak-emak. Tidakkah rezime menyadari dampak dari game terhadap pembentukan perilaku buruk pada generasi millenial. Apakah hanya karena menaikkan elektabilitas harus mengorbankan mereka, generasi calon pemimpin masa depan.

Belum lagi, generasi millenial cenderung tidak suka belajar. Mereka malas membaca karena terbiasa dengan gambar bergerak yang mereka mainkan dalam game. Ini meyembabkan mereka malas melihat bacaan yang isinya tulisan hitam putih yang tidak bergerak. Tulisan bukan suatu yang menarik untuk dilihat apalagi untuk dibaca. Padahal kebiasaan membaca adalah penting agar mereka menjadi generasi hebat.

Game online telah melenakan generasi untuk bangkit di dunia nyata untuk meraih cita -cita. Generasi yang harusnya mempersiapkan diri untuk berprestasi, menenggelamkan diri pada dunia game. Banyak orang tua yang prihatin dan mengeluh dengan anak-anak mereka karena mereka suka malawan dan bersikap kasar.

Mereka  lebih tidak perduli dan sulit diatur. Emosinya lebih sulit dikendalikan seperti halnya saat mereka bermain game. Yang ada dalam dirinya hanya mengalahkan siapa saja yang dianggap musuhnya.  Diakui bahwa generasi game susah diatur. Mereka suka meledak-ledak saat diarahkan tidak sesuai dengan keinginannya. Terbukti di Gresik siswa SMP berani melawan gurunya dan bahkan menganiayanya..

Ini adalah masalah serius, game merusak generasi millenial. Namun, rezime tidak perduli bahkan memberi teladan yang buruk dengan ikut-ikutan bermain mobile legend yang dilakukan oleh seorang presiden dan Emak-emak. Mereka yang harusnya peduli dengan generasi moderen ini yang telah dirusak oleh game, malah mendorong mereka untuk lebih tenggelam dalam dunia game. Hanya untuk menarik simpati dari generasi millenial dan menaikkan elektabilitasnya dilpress 2019, segala cara dilakukan meskipun harus merusak generasi. [MO/sr]

Posting Komentar