Oleh: Ummu Zhafran
(Pengasuh Grup Ibu Cinta Quran)


Mediaoposisi.com-Politik itu,
aktivitas para Nabi yang mulia,
untuk mengubah kehidupan manusia dengan kata-kata,
agar mereka menjadi hamba-Nya dan rahmat ke seluruh dunia (Fahmi Amhar)

Ada fenomena yang selalu berulang setiap kali digelar pesta demokrasi di negeri khatulistiwa. Apalagi kalau bukan isu politisasi agama. Termasuk di dalamnya simbol-simbol agama. Seperti masjid, pesantren, hingga ulama. Motivasinya sudah tentu untuk mendulang umat punya suara. Maka bak musim hujan, ramai politisi mengucurkan derma dan meminta doa. Lebih tepatnya meminta didoakan oleh para kiai dan ulama agar jadi jawaranya. Terpilih baik sebagai wakil rakyat maupun pemimpin yang berkuasa.
Sayangnya rajinnya mereka menyambangi masjid dan pondok pesantren jelang Pemilu, tapi setelahnya tak berbuat. Jelas semua demi kepentingan sesaat. Meskipun begitu hingga saat ini tak ada yang bersedia mengakui memolitisasi agama secara bulat. Tak sedikit justru yang mulanya menolak kuat akhirnya jadi blunder di tengah rakyat. Salah satunya seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Melansir dari tribunnews, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN), Haikal Hassan Baras menilai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy (Rommy) melakukan blunder.
Diketahui, hal itu menjadi viral berkaitan dengan revisi doa yang dibacakan oleh Ulama Nahdhatul Ulama (NU) Kiai Haji Maimun Zubair (Mbah Moen) yang keliru menyebut nama calon presiden Prabowo Subianto saat mendoakan calon presiden Joko Widodo. Setelah selesai, Rommy tampak mendekati Mbah Moen dan membisikkan perkataan kepada Ulama NU tersebut.
"Pertama saya ucapkan kepada Mas Rommy selamat menjadi juara blunder minggu ini, karena kelakuannya membuat jagad sosial media menjadi blunder," kata Haikal Hassan.
"Juga karena kekurangajaran sebuah koreksi doa, yang tahu setelah itu adalah orang yang mengucap," imbuh dia.
(tribunnews.com, 4/2/2019). Padahal jauh sebelumnya Sekretaris Kabinet Pramono Anung membantah tudingan yang menyebut kubu calon presiden incumbent, Joko Widodo (Jokowi), melakukan politisasi agama. 

Menurut dia tak mungkin Jokowi-Maruf Amin memainkan isu agama. "Beliau, masak (melakukan politisasi agama). Yang di sana mau mempolitisasi tidak apa-apa," (tempo.co, 13/8/2019).
Namun soalannya adalah bila doa kiai saja dikoreksi perlu bukti apalagi bahwa politisasi terjadi?

Politisasi Agama
Politisasi agama didefinisikan sebagai politik manipulasi mengenai pemahaman dan pengetahuan keagamaan, kepercayaan dengan menggunakan cara propaganda, Indoktrinasi, kampanye, disebarluaskan, sosialisasi dalam wilayah publik dilaporkan atau diinterpretasikan agar terjadi migrasi pemahaman, permasalahan dan menjadikannya seolah-olah merupakan pengetahuan keagamaan/kepercayaan, kemudian, dilakukan tekanan untuk memengaruhi konsensus keagamaan/kepercayaan dalam upaya memasukkan kepentingan sesuatu ke dalam sebuah agenda politik pemanipulasian masyarakat atau kebijakan publik.
Melihat pengertian politisasi agama tersebut maka tidak tepat bila disematkan pada Islam. Seolah Islam gagap menyikapi zaman hingga yang tersisa hanya doa dan simbol-simbolnya yang bisa dimanfaatkan. Sungguh miris. Padahal Islam dari sononya sudah tak terpisahkan dengan politik. Justru sebuah manipulasi bila menolak kaitan antara keduanya. Tepat seperti yang dikatakan Guru Besar UIN Yogyakarta, Prof Dr Abdul Munir Mulkhan, mengatakan agama Islam mengatur seluruh sendi kehidupan, tak terkecuali politik.
"Dalam Islam, ke WC pun diatur, apalagi urusan mengatur masyarakat (politik). Tapi persoalannya bagaimana sekarang mengaturnya," katanya.
Dia menjelaskan bahwa politisasi agama sangat diperlukan untuk memberikan kesejahteraan
bagi seluruh rakyat tanpa memandang golongan. (detik.com, 31/3/2018).
Sehingga usahlah politisasi sebab Islam dengan kitab sucinya Alquran telah mengatur segala aspek kehidupan termasuk politik di dalamnya. Jika diterapkan akan mewujudkan keindahan Islam sebagai rahmatan lil alamin untuk seluruh dunia.
Sampai di sini jelas yang terjadi sekarang lebih tepatnya adalah ketika agama (baca:Islam) diposisikan ibarat ‘stempel’ pada kekuasaan. Dengannya umat diharapkan datang berduyun-duyun. Suara pun diberikan. Usai perhelatan umat tak jarang malah diabaikan. Politisasi seperti ini yang harusnya ditinggalkan.

Politik Dalam Islam
Islam dan politik tak terpisahkan. Sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja. Namun Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kezaliman oleh penguasa. Sehingga politik Islam dimaknai dengan pengaturan dan pengelolaan urusan umat dengan syariat Islam. Konsekuensinya pemimpin dipilih semata untuk menjamin hal itu terwujud. Dengan menerapkan syariah secara kaffah.

Imam al-Ghazali sungguh tepat ketika menggambarkan relasi politik dan Islam dengan indah.
“Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah fondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap”.
Sebaliknya menurut pandangan demokrasi kapitalisme politik diartikan sebatas pengaturan kekuasaan, bahkan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan dari politik. Akibatnya yang terjadi hanya kekacauan dan perebutan kekuasaan, bukan untuk mengurusi rakyat. Parahnya bahkan sampai menghalalkan segala cara.
Pada akhirnya tak kenal maka tak sayang, semakin mengetahui politik dalam Islam makin membuat jatuh hati. Mari simak sabda Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Barang siapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin). (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).  

Di hadis yang lain, “Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya).” (HR. Imam Al Bukhari  dan Imam Ahmad). 

Terbukti sepanjang sejarah peradaban manusia belum pernah ada sistem politik yang mengurusi, melindungi dan memperhatikan rakyatnya sebagaimana Islam. Mengutip kesaksian sejarawan Barat, Will Durrant salah satu yang terpesona dengan keindahan dan keagungannya. Ia tuliskan dibukunya,

“Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupannya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka." (Will Durant – The Story of Civilization). Wallaahu a’lam. [MO/AS]

Posting Komentar