Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Dunia medsos ramai, tagar #JokowiNyataKeranya awalnya ramai di tweeter. Namun, resonansi sosial media membuat riuh jagat tweeter segera merambah ke platform sosmed lainnya. Facebook, IG dan WA juga menjadi areal migrasi keramaian. Perbincangan tentang tagar #JokowiNyataKeranya menjadi isu hangat di berbagai platform sosial media.

Screenshot trending topic tweeter tagar #JokowiNyataKeranya, dalam waktu singkat beredar luas. Laman Facebook tak sepi mengabarkan tagar ini. Di berbagai GWA (platform sosmed yang paling massif sebagai sarana interaksi sosmed antar netizen), tagar #JokowiNyataKeranya di posting secara berulang dan bergantian.

Seolah ingin saling mengabarkan, terkadang pada GWA yang sama postingan tagar #JokowiNyataKeranya berulang muncul. Respons beragam, dari yang suprise, tertawa, nyukurin, marah, kesel, hingga nyesel.

Yang paling nyesek dan nyesel mungkin akun PDIP Cilacap, yang mengunggah tagar ini sambil menyimak lagu dari firehouse. Doi, awalnya berbangga dengan tagar yang diunggah, namun mendadak nyesel dan meralat.

Yang gembira sekaligus nyukurin, tentu mayoritas netizen yang sebelumnya secara telanjang dibodohi oleh Jokowi dengan data selama tiga tahun tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan. Seolah karma, tanggal 18 Februari 2019 sebanyak 843 ha lahan di Riau terbakar.

Jokowi sendiri seharusnya masuk bui seperti Ratna Sarumpaet, karena telah menebar hoax di acara debat Pilpres. Tidak tanggung tanggung, seluruh rakyat Indonesia dikibuli hoax Jokowi.

Bagi kalangan awam, mungkin sudah berulang kali misuh (Jawa: mengumpat), dan mengeluarkan kata 'Jokowi Jancuk'. Persis, sebagaimana gelar Cak Jancuk yang disematkan kepada Jokowi saat menemui pendukungnya di Surabaya.

Adapun kerjaan Jokowi yang suka tebar hoax, ini nyata keranya. Konon, dahulu ada bangsa yang dikutuk menjadi kera karena suka dusta dan mendustakan risalah sang Nabi.

Dusta Jokowi terhadap risalah Nabi saat ini, adalah ketika Jokowi mengunggah ungkapan 'hanya takut kepada Allah swt' tetapi praktiknya tidak demikian. Yang paling takut kepada Allah SWT adalah ulama. Sementara, Jokowi menzalimi ulama, mengkriminalisasi ulama.

Pada aksi 411, Jokowi meninggalkan ulama dan umat Islam, dibiarkan ditembaki Gas Air mata. Jokowi malah sibuk tinjau kerjaan yang seharusnya cukup dikerjakan mandor PU.

Jokowi yang paling sadis, keluarkan golok Perppu untuk memenggal aktivitas dakwah ormas Islam. Tidak cukup itu, dengan Perppu itu Jokowi mengkriminalisasi ajaran Islam khilafah yang dituding memecah-belah bangsa dan bertentangan dengan sila persatuan Indonesia.

Di era Jokowi, bendera tauhid di bakar. Tapi sedihnya, pelakunya hanya divonis dengan pasal recehan, pasal mengganggu ketertiban umum, bukan pasal penistaan agama.

Jadi jelas, Jokowi memang Cak Jancuk yang nyata keranya. Kesimpulan ini ditarik dari berbagai fakta diatas. Tagar #JokowiNyataKeranya, akan terus beredar dan mengabarkan betapa Jokowi adalah pemimpin penebar dusta, ingkar janji dan khianat. [MO|ge]

Posting Komentar