Oleh: Mochamad Efendi


Mediaoposisi.com-Berbagai cara dilakukannya agar elektabilitasnya naik termasuk jika harus bergoyang dan berdangdut ria di Istana. Inikah perilaku seorang pemimpin yang didaulat sebagai negeri paling santai di dunia.

Borgoyang dan bergembira ria di istana meskipun banyak permasalan di luar sana tidak terselesaikan. Himpitan ekonomi, hilangnya rasa aman, sampai rusaknya generasi karena teknologi tidak menjadi perhatian rezime yang sedang bergembira menikmati musik dangdut dan tarian yang aduhai.


Rakyat menjerit karena himpitan ekonomi. Import produk pertanian telah menyebabkan anjloknya harga produk pertanian dalam negeri. Petani menjerit dan mengalami kerugian karena kalah bersaing dengan produk asing.
Ternyata, rezime tidak perduli tidak memahami masalah yang dihadapi rakyat. Banyak rakyat menjerit karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasarnya yang harusnya dijamin oleh negara.
Biaya rumah sakit yang tidak gratis tapi kwalitas pelayanan yang tidak sesuai harapan. Pendidikan mahal sehingga sulit bagi rakyat miskin mengenyam pendidikan tinggi. Rakyat hidup susah tapi pemimpinnya berdangdut ria di istana
Rasa aman, kebutuhan dasar manusia, tidak dipenuhi karena hukum menjadi alat politik penguasa. Penegak hukum sudah mati rasa hanya bekerja untuk penguasa. Rakyat tidak berani untuk mengadu dan mengeluh karena karena terancam tuduhan menyebarkan kebohongan (Hoax).

Rakyat tidak bisa mengungkapkan rasa marah dan kecewanya terhadap rezime karena bisa terjerat hukum dengan tuduhan ujaran kebencian. Sungguh, negeri yang mengerikan karena kritik dianggap musuh yang harus dimusnahkan agar rezime bisa terus berkuasa.
Tidakah rezime, memahami bahwa rakyat dalam kondisi tertekan dan ketakutan karena tidak bisa membela kepentingan mereka. Sepertinya rezime sudah mati rasa dan tidak peduli yang dirasa rakyatnya. Buktinya, rezime berdangdut ria di istana agar menarik simpati para pendangdut yang mania'.
Sementara anak negeri dirusak melalui teknologi, rezime tidak perduli. Rezime sedang menikmati musik dangdut di Istana sementara bahaya mengancam generasi muda penerus bangsa.
Apakah ini contoh yang baik berdangdut di tengah ancaman yang menyerang generasi millenial. Banyak generasi mati rasa karena mereka tenggelam pada dunia game yang berbahaya dan merusak.
Sudah terbukti remaja berani menganiaya gurunya. Rasa hormat murid pada guru sekarang sudah tercerabut pada diri anak masa kini.
Sungguh ini masalah serius dan butuh perhatian dari rezim. Mereka malah berdangdut ria di Istana seolah-olah dia sudah mati rasa terhadap masalah problematika yang dihadapi negeri ini.
Belum, lagi pergaulan bebas dikalangan remaja telah menyebabkan mereka terjerembab pada perzinaan dan tindakan kriminal lainnya. Perkelahian juga marak di antara remaja yang harusnya sibuk belajar dan berprestasi meraih cita-cita.
Negeri ini juga digoncang oleh maraknya prostitusi online dan hilangnys moral anak bangsa. Mereka kering akan nilai-nilai agama. Arti kebahagiaan bergeser dari memperoleh ridho Allah sebagai seorang Muslim yang baik menjadi mendapatkan materi sebanyak-banyaknya sehingga tatanan masyarakat rusak karenanya.
Mereka menghalalkan segala cara untuk memperoleh materi dan kesenangan hidup. Apakah rezim perduli dengan rusaknya masyarakat yang mengagungkan kesenangan hidup?
Rezim tidak perduli dan mau memikirkan semua itu. Dangdutan di Istana bukti nyata sikap rezime yang tidak perduli dan bahkan sudah menginspirasi rakyaynya apa arti dari sebuah kebahagiaan yakni memperoleh kesenangan hidup meskipun harus menghalalkan segala cara untuk memperoleh tujuan hidup.[MO/ad]

Posting Komentar