Oleh: Dian Puspita Sari
(Pemerhati Remaja & Masalah Sosial, Warga Pekauman Ulu Martapura)

Mediaoposisi.com-Membentuk citra diri di zaman sekarang ini sepertinya merupakan hal yang wajib dilakukan jika berniat menjadi pemimpin. Tanpa citra diri yang kuat mustahil bisa lolos dan menang dalam pemilihan. Slogan-slogan harus ditampilkan seluas-luasnya. Karena jika tidak, rakyat tidak akan memilih karena mereka tidak kenal.

Pencitraan itu memang penting. Hanya saja, citra diri saat ini kadang dimonopoli oleh orang-orang yang pandai membentuk citra, tetapi tak pandai memegang citra tersebut. Sekedar penampilan dan kebaikan yang hanya tampil di depan layar, tetapi buyar ketika di belakang layar.

Melakukan pembentukan citra diri di detik-detik menjelang pemilu. Tiba-tiba melakukan banyak hal. Turun ke pasar-pasar rakyat, menemui para kaum dhuafa, menunjukkan simpati kepada hal-hal yang bersifat religius, dan lain sebagainya. Namun hanya sementara, hingga masa kampanye selesai atau sampai masa pemilihan.

Pemimpin yang terpilih karena politik pencitraan ini pun tidak lepas dari peran yang dilakukan media massa. Pemimpin itu hanya mementingkan dirinya sendiri dengan cara mengumbar segala janji-janji yang ia utarakan pada saat berkampanye. Pemimpin yang dengan leluasa membohongi masyarakat dengan segala harta kekayaannya, dengan segala kewenangannya sebagai seorang yang memiliki modal banyak untuk dapat berjanji-janji palsu di depan masyarakatnya.

Begitulah politik hari ini yang menjadi panggung ”figur” dan etalase besar guna membangun pencitraan. Banyak politisi yang ramai mencitrakan diri sebagai figur baik, ideal, penyayang keluarga, humanis, dan bahkan religius. Lalu pada mereka, simpati masyarakat timbul dan tidak jarang kembali tenggelam tidak lama setelahnya. Sebaliknya, mereka yang benar-benar bekerja di tengah-tengah rakyat tapi jauh dari pencitraan justru kurang diapresiasi.

Inilah kerusakan paradigma kepemimpinan dan urgensi memilih pemimpin dalam sistem saat ini. Jangan heran bila banyak politisi yang lebih senang memermak diri, ber-make up tebal, bertopeng, namun enggan melayani kebutuhan masyarakatnya.

Sebaliknya, pencitraan sebenarnya tidak pernah ada dalam tradisi kepemimpinan Islam. Jangankan melakukan pencitraan diri, mengajukan diri sebagai pemimpin saja merupakan hal tabu dalam adab Islam. Rasulullah kerap menegur para sahabatnya yang berambisi dengan kekuasaan.

"Janganlah engkau meminta jabatan. Sebab, jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong untuk melaksanakannya. Tetapi, jika engkau diberi kekuasaan dengan sebab adanya permintaan daripadamu, maka engkau akan dipalingkan dari pertolongan Allah." (HR Bukhari Muslim).

Salah satu contoh keteladanan pemimpin Islam yang bukan sekedar hasil pencitraan atau rekayasa media adalah Umar bin Abdul Aziz. Insan dengan sejarah yang menawan akan masa kepemimpinannya saat menjabat sebagai khalifah.

Ia membalikkan 180 derajat keadaan hidupnya dari yang bermewah harta menjadi penuh dengan keterbatasan ketika dirinya diangkat sebagai khalifah. Ia juga yang dikenal sebagai khalifah yang mampu mengembalikan kesejahteraan umat Islam, hingga hampir saja pembagian zakat tak menemui si penerima karena kesejahteraan setiap muslim di kala itu. Ia juga yang menjadi penyelamat wajah Daulah Umayah dimana para raja berkuasa semena-mena dan perpecahan terjadi di mana-mana.

Tentu akan ada banyak karakteristik seorang mukmin yang bersemayam dalam diri Umar bin Abdul Aziz hingga dirinya ditaati sebagai pemimpin dan namanya tertera dalam daftar sejarah kebanggaan umat muslim. Termasuk salah satu di antaranya adalah sifat tawadhu’ beliau.

Contoh lainnya adalah sosok pemimpin kaum muslimin Umar bin Khattab. Beliau sempat menolak untuk dijadikan Khalifah. Itu mencerminkan beliau bukan orang yang ambisius untuk menjadi khalifah dan tidak haus kekuasaan ketika diminta menjadi pemimpin.

Adapun sikap beliau pada keluarganya, beliau berprinsip bahwa keluarga Umar adalah teladan bagi rakyatnya. Kesederhanaan beliau juga patut dijadikan teladan, terutama oleh para pemimpin saat ini.

Kendati posisi beliau tertinggi dalam pemerintahan, beliau hanya mempunyai dua buah jubah. Bahkan jubah satunya adalah milik anaknya. Pernah beliau terlambat untuk shalat jumat. Ternyata jubah beliau belum kering sehingga beliau menunggu jubahnya kering.

Inilah contoh dari banyak kisah dan sosok pemimpin yang memiliki citra baik yang didapat bahkan tanpa pencitraan sedikit pun.

Menjadi pemimpin bukanlah perkara mudah, selain dibutuhkan leadership, dalam Islam, pemimpin juga harus kuat iman dan takwanya, sehingga bisa menjadi teladan dan benar-benar bisa bekerja sebagai pelayan rakyat, bukan penikmat kekayaan rakyat.

Ketika seorang pemimpin tidak menguatkan iman dan takwanya, maka ia akan berada dalam situasi tertekan oleh berbagai kepentingan. Pada saat yang sama rasa cinta terhadap kursi jabatan kian menguat. Di saat seperti itulah biasanya seorang pemimpin tidak mau lagi berpikir lurus di jalan lurus. Kemudian pencitraan pun menjadi keniscayaan bagi mereka yang sangat berkeinginan dengan kursi jabatan tersebut.

Sejatinya sosok-sosok pemimpin yang mampu memberikan tauladan dan dedikasi yang ikhlas kepada rakyatnya tidak akan muncul pada sistem yang bertentangan dengan Islam seperti saat ini. Hanya dengan penerapan Islam kaffah-lah yang akan memunculkan orang-orang yang benar-benar siap memimpin dengan syariat dan siap bertanggung jawab di dunia dan akhirat.[MO/sr]


Posting Komentar