Oleh:  Nida Husnia Ramadhani 
(Aktivis Mahasiswa)

Mediaoposisi.com-Gelora Pemilu semakin memanas, notifikasi berita politik di surat kabar online bahkan bisa berganti dalam hitungan detik. Tahun ini, entah kita, bangsa Indonesia yang dibesarkan dengan hasil jual-beli SDA, yang dewasa dengan keputusan makan keong setara makan daging, yang berkembang dengan mental kerja, kerja, kerja, gaji telat dan tak layak, akankah menjemput masa depan baru?

Beragam opini berkembang, mulai dari jalan tol hingga hukuman penjara yang katanya akibat hatespeech. Sebuah janji diumbar rezim ini, akan membebaskan al-ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang kini tinggal wacana. Kemudian citra dirinya dipoles dengan prestasi pembangunan infrastruktur juga analisa wajah kalem khas Solo yang tak mungkin menjadi diktator.

Jokowi sejatinya telah mengawali kepemimpinannya dengan revolusi mental otoriter. Saat tahun 2014 seorang tukang sate sempat ditahan karena terjerat kasus penghinaan terhadap Jokowi. Selanjutnya pada 2016 seorang guru honorer ditangkap karena mengkritik rezim Jokowi akibat ketidak pastian status guru honorer. Buni Yani juga menjadi tersangka di era represif pemerintahan ini. Sejumlah aktifis mahasiswa tak ketinggalan ditangkap juga. Begitu pula dengan sederet nama public figure seperti Cak Nur, Felix Siaw, Habib Bahar, dan kini Ahmad Dhani yang mendekam di lapas Surabaya.

Sebagaimana wacana masyhur profesor, politikus sekaligus kritikus Rocky Gerung tentang akal sehat, bahwa akal sehat itu butuh rasa. Pada hakikatnya rasa itu mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu, namun jangan lupa bahwa akal itulah yang menjadi penentu dari status perbuatan tersebut. Maka akal disebut sebagai pemimpin, pemimpin dari setiap aktivitas manusia.

Sederhananya, kita ambil salah satu contoh kasus yang menjerat Ahmad Dhani. Dhani menjadi tersangka akibat penyebaran hatespeech atau sebenarnya bentuk kritik yang dilontarkan terhadap kinerja rezim hari ini. Kritik adalah suatu keniscayaan yang akan dihadapi siapapun utamanya jajaran penguasa rakyat. Tujuannya memperbaiki atau sebagai penyempurna apa-apa yang kurang. Jadi bila setiap kritik yang diterima pemerintah dikembalikan lagi ke fungsinya semula, tak kan terjadi penangkapan-penangkapan.

Justru itu harusnya menjadi bahan rapat di kantor-kantor pemerintahan. Dan melakukan perbaikan sebagai wujud dari rasa tanggung jawab. Itu bila akal sehat yang berputar karena disertai rasa tanggung jawab.

Tetapi, beberapa orang yang ditahan rezim akibat kritik ini menjadikan Rocky Gerung turut diburu karena rezim merasa tersindir. Tak lagi menggunakan akal sehatnya dalam bertindak, hanya modal (rasa) ambisi kekuasaan yang mendorong aksinya. Sehingga dalam kondisi ini akal tak berfungsi menjadi pemimpin, ia dikalahkan dengan rasa.

Wacana tentang akal sehat ini mengantarkan kita pada kesadaran akan sikap dzalim yang tersebar dipenjuru negri ini, bahkan dalam diri kita sendiri. Dimana dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Rocky Gerung mendapatkan insiprasi akal sehat ini dalam Qs. Al-Baqoroh, bagaimana kita sebagai ummat yang memiliki al-Qur’an itu sendiri?

Kita melupakan al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk hidup dan tak menempatkan al-Qur’an sebagai acuan utama dalam menentukan hukum. Kita lebih memilih konsep, aturan, perundang-undangan yang diciptakan oleh tangan manusia, sehingga wajar saja bila hukum bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kebutuhan mempertahankan eksistensi diri. Demikian berjalannya mekanisme kedzaliman di negri ini.

Bila rezim jokowi gunakan akal sehat untuk menjawab oposisi, mungkin aparat tak akan berburu kasus pelanggaran hukum. Bila kita gunakan akal sehat untuk menjawab segala problematika, itu tandanya sistem telah berganti. Selamat berpikir![MOsr]



Posting Komentar