Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)

     Mediaoposisi.com-  Berita terkait ‘Propaganda Rusia’ menjadi perbincangan hangat di politik. Paslon 01 menyerang paslon 02 dengan tudingan dalam berpolitik menggunakan konsultan Asing alias ‘Propaganda Rusia’.  "Begitu banyaknya fitnah, hoax, kabar bohong yang lalu lalang di medsos. Cara berpolitik itu harus memberikan edukasi, cara berpolitik yang penuh keadaban, sopan santun," kata Jokowi dalam deklarasi Forum Alumni Jawa Timur di Tugu Pahlawan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2/2019). 

Hal tersebut menuai kritikan dari berbagai pihak termasuk paslon 02 yang mengklarifikasi terkait tudingan tersebut. Tidak kita pungiri bahwasannya dalam pilpres sindiran-sindiran menjadi kewajiban bagi mereka untuk menjatuhkan lawan sekalipun elektabilitas atau suara pendukung menjadi taruhannya.
Propaganda semacam ini menjadi salah satu opsi dalam berpolitik seperti yang terjadi di Amerika Serikat terkait Operasi Semburan Finah (Firehose of Falsehood) yang di gunakan Rusia pada tahun 2012-2017 dalam krisis Crimea, konflik Ukraina, dan perang saudara di Suriah. Cara yang di lakukan adalah memunculkan isu-isu negative. Hal itu pula di lakukan oleh Presiden AS saat pemilihan presiden tahun 2016 dalam pertarungan Donald Trump dengan Hillary Clinton.

Menurut pengamat poilik Ubaedilah Badrun mengatakan bahwa “ Propaganda Rusia memiliki ciri-ciri yakni memiliki produksi banyak inflenser seperti akademisi, intelektual, Tokoh LSM, Tokoh Independen yang di jadikan alat sebagai tujuan mencapai kekuasaan.   Kedua kubu memiliki inflenser untuk memberi pengaruh pada publik tanpa terlihat mereka adalah bagian dari tim sukses mereka

. Kedua kubu memiliki masing-masing propaganda dalam penyerangan lawan. Hal itu memberikan gambaran terhadap masyarakat bahwa politik saat ini terlihat seperti “maling teriak maling”
Dan tidak menutup kemungkinan bahwa kedua paslon memiliki strategi dalam mengunggulkan suara pendukung bagi kubu masing-masing. Siapa yang tidak tergiur dengan kursi presiden ? mereka yang bisa duduk dalam kekuasaan bisa mengendalikan apapun di Indonesia.

Tidak menutup kemungkinan bahwa cara-cara kotor pun di lakukan, hal ini seolah menjadi cerita turun-temurun bahwa perpolitikan saat ini sangatlah kotor. Pencitraan siap di lakukan oleh mereka untuk membersihkan namanya, Namun Ummat telah cerdas siapapun yang berada dalam perpoitikan tidak mungkin tidak berbuat kotor. [MO/ra]

Posting Komentar