Oleh:  Dara Tri Maulidra, A.md

Mediaoposisi.com-Apa kita harus berbangga dengan pemberian gelar Indonesia sebagai negara tersantai di dunia?...

Serta makna dibalik pemberian gelar tersebut dikala kondisi kesejahteraan rakyat di negeri ini tidak merata.

Dilansir dari media kompas.com pada tanggal 25 Januari 2019, agen perjalanan asal Inggris lastminute.com menuliskan hasil penelitiannya terkait beberapa faktor yang menjadikan Indonesia sebagai negara paling santai di dunia. Berdasarkan hasil penelitianya, faktor lingkungan Indonesia sebagai urutan teratas mengungguli seluruh negara di dunia, kemudian kebudayaan Indonesia diperingkat 6, banyaknya cuti diperingkat 13 dan hak asasi manusia diperingkat ke 14. 

Pemberian gelar Indonesia sebagai negara paling santai di dunia dimaknai positif dalam arti Indonesia sebagai salah satu destinasi pariwisata bagi para pelancong dari seluruh dunia. Indonesia memenuhi segala kebutuhan wisatawan asing untuk bersantai menikmati liburan dengan berbagai fasilitasi yang dibutuhkan, seperti banyaknya lokasi spa dan retreat lainnya.

Apakah dengan meningkatnya potensi pariwisata di negara ini, kesejahteraan akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia? Nyatanya adalah Kesejahteraan tidak menyeluruh hingga seluruh lapisan masyarakat. Dampak positif itu hanya akan dirasakan oleh sebagian kalangan, diantaranya adalah para pengusaha dan para pemilik modal bisnis pariwisata.

Hal ini menunjukkan ciri dari negara penganut sistem kapitalisme dan sekularisme. Bentuk penerapan sistem kapitalisme  dan sekularisme adalah dengan memaknai bahwa liburan dan hiburan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan, sistem seperti ini bersifat duniawi (cinta dunia takut mati).

Dampak negatif akan dirasakan oleh sebagian besar masyarakat, dimana Indonesia merupakan negara muslim terbesar. Dengan banyaknya wisatawan asing yang berdatangan ke Indonesia, akan dengan mudah masuknya pengaruh budaya dan kebiasaan mereka, apalagi notabene masyarakat kita ini mudah terpengaruh dan suka ikut-ikutan budaya luar.  Akan menjadi bahaya jika kebiasaan itu bukan berasal dari Islam. Maka itu  yang perlu dikhawatirkan, dimana Indonesia itu memiliki potensi kebangkitan yang Hakiki. Hal tersebut lah yang sangat ditakutkan oleh musuh-musuh Islam.

Islam sendiri memaknai Liburan sebagai suatu hal yang mubah ( boleh saja dilakukan), jika liburan tersebut bertujuan untuk rihlah atau mengagumi ciptaan Allah SWT bukan untuk bermaksiat kepada Allah SWT. Maka sebagai muslim perlu diperhatikan, liburan atau hiburan seperti apa , karena jika hal tersebut membuat kita terlena akan kesenangan dunia dan bermaksiat kepada Allah SWT, itu lah yang harus dihindari.

Upaya kita sebagai umat Islam untuk terus menguatkan ideologi Islam dalam seluruh aspek kehidupan, itulah kunci agar kita terselamatkan dari buaian kesenangan duniawi yang bersifat sementara. Karena sebagai seorang muslim harus meyakini bahwa apa yang kita kerjakan di dunia ini akan di hisab atau di mintai pertanggung jawabannya dihadapan  Allah SWT.[MO|sr]

Posting Komentar