Oleh: Sri Rahayu

Mediaoposisi.com-Wow! Indonesia adalah negara yang paling santai di dunia. Mengalahkan Australia, Islandia, dan 12 negara lain di dunia.  Hal ini terungkap lewat studi terbaru Lastminute penyedia jasa perjalanan Eropa. Ada sejumlah faktor yang dianalisis para peneliti untuk menyusun daftar negara-negara paling santai. Penelitian ini menemukan, Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya lebih dari 88 ribu kilometer. Tak heran jika Indonesia terpilih sebagai negara yang memiliki pantai-pantai terbaik untuk bersantai.  Negeri ini juga tergolong hijau karena punya lebih dari 186 ruang hijau. Suhu rata-rata 25 derajat Celsius membuat Indonesia menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tidak kelewat dingin, juga tak terlalu panas.  Indonesia yang berjuluk surga tropis juga punya 66 spa dan retret kesehatan. Semuanya menawarkan pengalaman bersantai terbaik.  (Beritagar.id, 23/01/2019)

Benar, Indonesia memiliki pemandangan yang sangat indah, hingga mengundang wisatawan datang. Dan Indonesia pun negeri yang sangat berlimpah kekayaannya, bagai ratna mutu manikam, hingga penjajahpun datang menerkam. Belanda selama 350 tahun menjajah dan menghisap kekayaan Indonesia. Kemudian Jepang yang mengaku saudara tua lebih jahat memperkosa hingga 3,5 tahun lamanya. Perubahan dunia pasca perang dunia kedua, keluarlah AS kapitalis penjajah, dari isolasinya. Memulai dengan amat serakah dan kejam mengambil alih dan mengusir penjajah-penjajah lainnya. 

Tak luput Indonesia ada dalam cengkeramannya.  Ternyata penjajahan AS atas dunia lebih kejam dan rakus. Strateginya lebih jitu dalam melanggengkan dan mengokohkan cengkeramannya, yaitu menguatkan penjajahan non fisik melalui pemikiran, tsaqofah, budaya dan undang-undang.

Begitulah corak penjajahan non fisik lebih berbahaya dan banyak tak disadari kaum terjajah. Penjajahan ideologi sekulerisme kapitalisme telah menyengsarakan umat hingga terperosok pada jurang kehancuran yang sangat dalam.

Penjajahan Melalui Pariwisata
Berbagai propaganda mereka lakukan untuk terus melumpuhkan umat. Diantaranya adalah agenda War on Terorisme (WoT).  Untuk memerangi Islam, AS membagi dunia menjadi dua.  Bersama AS memerangi teroris (Islam) atau berpihak pada teroris. Dalam perkembangannya upaya menghadang kebangkitan Islam adalah dengan memecah belah umat Islam dengan agenda Islam moderat.   Sebutan radikal, teroris, fundamentalis diarahkan untuk membungkam kebangkitan Islam. Terlebih kebangkitan umat Islam mulai nyata. Umat Islam terbukti bisa disatukan dalam satu komando dan ikatan sebagaimana pada aksi 212.

Pembungkaman kebangkitan Islam ini, dapat diperkuat dengan penyebutan Indonesia sebagai negara paling santai di dunia. Di topang keindahan alam dan kekayaan yang melimpah luar biasa terkandung didalamnya. Penyebutan yang lekat dan melengkapi agenda mereka mengarahkan Indonesia menjadi negara destinasi pariwisata.

Pembangunan pariwisata dipropagandakan menggenjot ekononi Indonesia, ketika kekayaan alamnya telah menipis, diambil penjajah.  Kota, kabupaten dan desa di arahkan menjadi kota dan desa wisata. Bahkan atas nama pariwisata negara tak segan melakukan relokasi penduduknya.  Investor asingpun berduyun-duyun datang menanamkan sahamnya membangun pariwisata Indonesia. Asing kembali lebih kuat mencengkeramkan penjajahannya atas nama pariwisata.

Kembali rakyat menjadi korban. Tentu kedatangan wisatawan membawa pengaruh besar pada masyarakat.  Demi menyediakan standar hidup wisatawan asing, harus rela menyediakan kebutuhan dan gaya hidupnya. Sungguh arus liberalisasi kian menganga.

Makanan, minuman pakaian dan gaya hidup ala mereka kian meluas.  Prostitusi, LGBT dan hidup bebas tentu kian mendera generasi kita. Bagaimana dengan masa depan kita? Maukah kita diam saja?  Sudah seharusnya membentengi umat dengan ideologi Islam.

Kebangkitan Generasi Islam Sejati
Potensi kebangkitan generasi Islam sangat nampak jelas. Aktivitas dakwah kian hari,   kian kuat gaung perjuangannya. Hingga generasi yang terbina dengan Islam terus bergerak menuju kebangkitan. Potensi kebangkitan umat Islam Indonesia telah terbukti dalam aksi 212.
Saatnya umat bangkit dari semua penindasan dan penjajahan.

Dengan terus fokus melakukan kasyful khuthat, mengungkap langkah langkah AS sebagai penjajah dan persekongkolannya dengan penguasa. Inilah jalan untuk memahamkan umat akan langkah penjajah yang memanfaatkan penguasa.  Hingga umat menyadari dan memahami langkah apa yang dilakukan untuk menyelamatkan umat dari belenggu penjajah.

Benturan propaganda asing akan terus berhadapan dengan pemikiran Islam. Sebagaimana benturan Islam dan kekufuran senantiasa terjadi di zaman manapun.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

"Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)." Dan jika engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu, tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah." QS. Al Baqarah : 120.

Semakin dahsyat benturan, makin menyadarkan umat untuk mencari solusi terbaik.[MO/sr]

Posting Komentar