Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Kami sudah kenal Jokowi bahkan sangat dekat, nyaris lima tahun sebagai Presiden Republik Indonesia. Kami juga masih ingat, penampilan memukau Jokowi saat masih capres yang penyampaian visi misi dan debat Pilpres tahun 2014.

Kami kemudian mengaitkan, materi debat capres Jokowi tahun 2014, dengan era pemerintahan Presiden Jokowi hingga tahun 2019 ini.

Setelah kami kaji, antara janji-janji manis Jokowi saat debat Pilpres dengan realisasi pemerintahan, ternyata Jokowi memang ingkar janji. Suka bohong dan khianat. Jadi, tiga 'alamat kemunafikan itu ada pada sosok Jokowi, kombinasi dusta, ingkar janji dan khianat.

Tidak hanya itu, ternyata Jokowi juga represif dan anti Islam. Hanya di era Jokowi, dan belum terjadi di era sebelumnya, terjadi kriminalisasi ulama, habaib, aktivis Islam, bahkan hingga simbol dan ajaran Islam. Zaman Jokowi saja, ada pengajian dipersekusi, ormas Islam dibubarkan, sementara pelaku maksiat berupa zina dan LGBT berkembang biak luar biasa.

Karena itu, KPU memang tidak perlu mematuhi UU pemilu, tidak perlu ada penyampaian visi misi, tidak perlu buat debat berkualitas, kami sudah tahu kualitas Jokowi. Kami juga tahu, siapa calon yang berpotensi dipermalukan, jika debat dibuat sesuai UU Pemilu.

Tapi kami koreksi, Jokowi itu bukan punya potensi dipermalukan tapi dia memang memalukan. Coba, tengok lagi video pidato Jokowi di forum-forum internasional yang 'sok english', itu sangat-sangat memalukan.

"Today, i am Happy. Welcome to invest in Indonesia", sampai Cak Nur saja di pengajiannya ketawa kepingkal-pingkal. Kombinasi antara lucu, Gemes, prihatin sekaligus malu. Apa yang model begini yang mau kami pilih ?

Jokowi juga sering Lola (loading lama) jika ditanya wartawan. Sebelum masuk substansi jawaban, pasti mukoddimah anu, apa, anu, apa, selalu jadi redaksi pengantar. Bahkan, ada juga wartawan yang ditinggal ngacir saat wawancara Presiden.

Jangankan untuk debat Pilpres yang durasinya lebih dari satu jam, untuk wawancara beberapa menit saja Jokowi sering 'memalukan'. Karena itu, kami sudah bosan, tak ingin lagi abadi menanggung rasa Kombinasi antara lucu, Gemes, prihatin sekaligus malu.

Tapi maaf, tanpa debat Pilpres Jokowi sudah memalukan dan akan tetap dipermalukan. Siapa yang mempermalukan ? Ya Jokowi sendiri, Sikap Jokowi, kemampuan komunikasi Jokowi, nalar dan logika Jokowi, narasi planga plongo Jokowi, itu yang mempermalukan Jokowi, bukan rakyat Indonesia. Rakyat itu hanya merespons, hanya akibat bukan sebab.

Karena itu, KPU tidak perlu menghiraukan saran para tokoh dalam ILC untuk memperbaiki kualitas debat Pilpres. Abaikan saja. Karena kami sangat tahu, siapa Jokowi. Kami mengenal Jokowi, dan sudah merasakan penderitaan selama nyaris lima tahun dipimpin Jokowi.

Mau DIPERMAK dengan salon politik apapun, mau dikasih tempelan bedak politik dengan ketebalan berpuluh centi atau lebih, tidak akan mampu menutup siapa sesungguhnya seorang Jokowi. Kami sudah kenal, dan sudah ambil keputusan jauh sebelum proses pemilihan. Kami tak mungkin pilih Jokowi.

Jadi, masa mengambang itu untuk capres yang lain. Kalo untuk Jokowi, kami sudah memiliki keyakinan teguh bahkan hingga derajat Haqqul Yakin, tidak akan memilih Jokowi. Karena itu, kepada KPU lanjutkan saja prosesi sirkus pemilihan. Siapa tahu, kami masih bisa terbahak diantara penderitaan yang kami rasakan. [MO/ge]

Posting Komentar