Oleh : Ayu Mela Yulianti, SPt
Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat

Mediaoposisi.com-Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo menyayangkan sikap KPU yang tidak jadi memfasilitasi penyampaian Visi Misi Pasangan Capres.

Menurut Karyono Wibowo, justru penyampaian visi misi capres seharusnya dikedepankan agar masyarakat mengetahui arah pembangunan yang akan dilaksanakan pada 5 tahun ke depan. Namun sejak masa kampanye selama kurang lebih 3 bulan ini justru ruang publik ini dipenuhi dengan caci maki antar pendukung.

Masyarakat dijejali dengan informasi hoax, hate speech dan propaganda yang berbau sarkastik yang membuat pemilu nyaris kehilangan substansi. (Januari 2019).

Menjadi presiden sama dengan menjadi pemimpin. Maka haruslah diketahui visi misi bakal calon presiden sebelum duduk manis dikursi kekuasaan. Mengingat banyaknya kandidat yang mencalonkan diri sebagai pemimpin negeri. Setidaknya pemaparan visi misinya, dapat memberikan gambaran tentang kualitas diri calon pemimpin yang akan dipilih.

Hal yang diharapkan diketahui publik adalah kemampuan presiden dalam menjawab seluruh soal  yang dipertanyakan saat masa kampanye. Walaupun masih dalam tataran teori. Namanya juga soal ujian lisan.

Adalah hal yang patut diperhitungkan oleh bakal calon presiden saat ini saat menyampaikan visi misi saat kampanye adalah betapa audiens calon pemilih sekarang adalah manusia-manusia cerdas yang pasti akan menunggu realisasi dari janji kampanye saat menyampaikan visi misi kepemimpinannya.

Walaupun berkali rupa, seringkali audiens kecewa akibat tidak terealisasikannya seluruh janji yang disampaikan saat memaparkan visi misi saat kampanye. Akibat sistem yang saat ini berlaku yaitu sistem sekuler kapitalis, yang memang akan selalu membuat pemimpin manapun dan siapapun tidak akan pernah mampu merealisasikan janji kampanye yang terlanjur diucapkan.

Akan tetapi, tetaplah yang patut diingat, bahwa kekecewaan berulang, akan memberikan peluang kepada seluruh audiens pemilih untuk berfikir mencari alternatif sistem yang mampu memberi ruang bagi terealisasinya visi misi pemimpin yang diucapkan saat kampanye.

Sehingga bisa jadi bakal calon pemimpin yang disodorkan dalam sistem sekuler kapitalis saat ini, dikemudian hari tidak menarik lagi untuk dipilih sebagai pemimpin.

Bisa jadi pula audiens pemilih mencari sosok pemimpin diluar figur pemimpin yang ditawarkan saat pesta demokrasi. Ini adalah hal yang paling logis yang bakal terjadi akibat deraan kekecewaan berulang yang menimpa audiensi pemilih selesai pesta demokrasi.

Dan sistem alternatif yang sedang dilirik dan mulai dipertimbangkan oleh jutaan bahkan milyaran umat manusia yang digadang-gadang mampu merealisasikan seluruh visi misi bakal calon pemimpin saat kampanye adalah sistem Islam kaffah. Bukan yang lain.

Visi misi pemimpin sama dengan arah kapal akan dilabuhkan
Islam memandang penting kepemimpinan. Karenanya Islam memberikan syarat yang cukup banyak terkait dengan pemimpin yang harus dipilih untuk memimpin umat manusia.

Islam meletakkan kepemimpinan sebagai sarana untuk menerapkan syariat Islam kaffah. Yang dengannya manusia diatur kehidupannya. Diatur bagaimana bermuamalah dalam ekonomi, pendidikan, kesehatan, penjagaan akidah umat, penjagaan kehormatan dan kesucian manusia, juga pelaksanaan hak dan kewajiban manusia terkait dengan peran yang harus dilakukan.

Artinya syariat Islam kaffah bukanlah pembicaraan tentang pemaksaan masuk kedalam agama Islam. Sekali lagi bukan. Akan tetapi Syariat Islam  kaffah ini adalah berbicara mengenai aturan dan perundang-undangan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.

Karenanya, berkali rupa para Khalifah sebagai pemimpin umat, ketika terpilih menjadi seorang Khalifah, selalu mengatakan agar umat manusia mengikutinya dan melaksanakan seluruh perintah khalifah dan menjauhi seluruh apa yang dilarang oleh Khalifah, selama sang khalifah mengikuti dan melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT dan menjauhi seluruh larangan yang telah dilarang oleh Allah swt.

Dengan kata lain masyarakat wajib menaati seorang Khalifah selama Khalifah melaksanakan seluruh hukum yang terangkum dalam hukum syariat Islam. Hal yang telah tercatatkan dengan tinta emas sejarah.

Karenanya, seorang pemimpin dalam Islam tidak akan melakukan pelegalan terhadap aktivitas prostitusi dan pelacuran dengan melokalisasi sebuah tempat menjadi tempat prostitusi legal.

Atau seorang pemimpin dalam Islam tidak akan membiarkan peredaran narkoba dan obat terlarang beredar bebas dimasyarakat. Khalifah akan memberantas peredarannya sampai keakar-akhirnya, karena Allah SWT memerintahkan seorang pemimpin agar menjaga kewarasan akal individu warga masyarakatnya.

Seorang pemimpin dalam Islam tidak akan menjadi pelindung para koruptor yang mengambil harta rakyat tanpa hak.

Sebaliknya pemimpin dalam Islam akan bersungguh-sungguh untuk menyehatkan baik jasmani maupun rohani individu warga masyarakatnya. Memenuhi segala kebutuhan hidup warga  masyarakat dengan menciptakan birokrasi sederhana  dan tidak menyulitkan warga  masyarakat.

Mengelola sumber daya alam sesuai tujuan penciptaannya, dan tidak akan memberikan hak pengelolaan sumber daya alam yang melimpah ruah kepada individu dan korporasi karena  statusnya sebagai kepemilikan umum masyarakat dan negara. Bersungguh-sungguh menjaga harta, nyawa,  kehormatan dan kewibawaan setiap warga masyarakatnya.

Karenanya, pemimpin dalam Islam memang dituntut adalah seorang pemimpin yang cerdas, tangguh dan terpercaya dan kesatria juga bertekad baja melaksanakan seluruh hukum syariat Islam.

Karenanya sangatlah wajar, pemimpin dalam Islam mampu akan mewujudkan kebaikan dan keberkahan bagi kehidupan tiap individu masyarakatnya. Tersebab visi misi kepemimpinannya sangat jelas, yaitu untuk menerapkan syariat Islam kaffah ditengah-tengah umat manusia, hingga tercapai segala bentuk kebaikan dan keberkahan kehidupan individu masyarakatnya. Baik muslim maupun non muslim.

Visi misi kepemimpinan dalam Islam tidaklah sama dengan visi misi kepemimpinan dalam sistem sekuler demokrasi kapitalis seperti saat ini, yang sangat plintat plintut, tidak jelas dan tidak bisa dipegang janjinya.

Karenanya, saatnya manusia menyederhanakan pola pikirnya dengan pola pikir yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa, sehingga mampu mengenali pemimpin berkualitas yang sebenarnya, yang mampu membawa negeri ini keluar dari keterpurukannya, baik dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, politik dan pertahanan keamanan.

Menjadi negeri yang baldatun toyyibatun warabbun goffur, negeri yang berdaulat, adil dan makmur.
[MO/ge]

Posting Komentar