Oleh: Andini 
(Pengurus Ukhuwah To Jannah / Komunitas Hijrah, Anggota Muslimah Milenial) 

Mediaoposisi.com-Anak-anak saya dibawa ke tempat yang disebut Loving Heart Kindergarten. Saya memiliki dua foto anak-anak saya: satu diambil sebelum dibawa ke panti asuhan, dan yang lain diambil setelah mereka ditempatkan di sana,” Adil Abduqadir, seorang etnis Uyghur, berkisah tentang keluarganya.

Ia melanjutkan, “Anda dapat melihat sendiri perbedaannya. [Foto] diambil hanya 15 hari terpisah … [tapi di foto kedua] wajah mereka ditutupi dengan ruam kulit. Istri saya menjadi sangat depresi setelah melihat foto itu. Dia menangis sepanjang malam dan kemudian tidak lagi menjadi orang yang sama. Sudah lebih dari satu tahun ia menderita depresi dan kecemasan. Dan terlepas dari masalah keluarga saya, saya harus kehilangan 50 juta yuan (US $ 7,3 juta) bisnis, yang tidak dapat saya kembalikan. Situasi di negara kita tidak manusiawi.” (hidayatullah.com)

Kisah Adil Abduqadir hanya sedikit potongan paragraf dari sekian banyak cerita tentang kedzaliman yang dirasakan muslim Uyghur. Pernikahan paksa, tidak diperbolehkan menunjukkan identitasnya sebagai muslim lewat pakaian ataupun nama, dipaksa menggugurkan kandungan, serta penyiksaan fisik dan mental yang hebat.

Xinjiang. Kota tempat umat muslim Uyghur bermukim itu sudah seperti penjara tanpa jeruji. Mereka selalu diawasi oleh pemerintah. Bahkan saking ketatnya pengawasan bagi kaum muslim, pemerintah memasang kamera pendeteksi wajah di sudut-sudut kota (hidayatullah.com). Jika berada di luar kota pun mereka dipaksa untuk kembali. Paspor disita menjadi hal biasa.



Sayangnya, luka yang dirasakan umat ketika melihat saudara se-akidahnya didzalimi, malah disambut kalimat-kalimat sumbang, yang justru datang dari sesama muslim juga.

Tak usah urusi negara lain, negara sendiri saja berantakan,” kata mereka.

Sikap acuh tak acuh seperti ini hal yang wajar terjadi sebenarnya. Karena sistem yang bercokol di negara kita memang melahirkan generasi apatis, individualis. Padahal Rasulullah bersabda  :

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya adalah sakit, maka anggota-anggota yang lain ikut campur tidur dan demam”.(Shahih Muslim No.4685)

Peduli dan tanggap merupakan hal yang harus dimiliki kaum muslim. Tapi ternyata bukan hanya individunya yang apatis. Sampai ke level pemimpin pun reaksinya terasa datar. Tidak ada upaya yang berarti dari pemimpin negeri Islam manapun untuk turut menolong muslim Uyghur.

Karena harus kita ingat, sistem kapitalis yang kini diterapkan  di hampir semua negara adalah sistem yang mengutamakan keuntungan. Dimana jika seorang pemimpin vokal melawan negara penjajah, maka ia harus bersiap atas pemutusan kerjasama dan lain sebagainya dengan negara yang bersangkutan. Atau bahkan negara lainnya.

Penyiksaan umat Islam di Uyghur bukan yang pertama. Dan bukan pula yang terakhir jika kita masih bertahan dengan sistem yang memisahkan umat muslim yang satu dengan yang lain atas dalih cinta tanah air.

Berharap pada PBB agar berperan sesuai tujuan dibentuknya, yaitu menjadi lembaga perdamaian dunia, seperti mengharap pelangi pada musim kemarau yang panjang. Karena Cina merupakan salah satu anggota organisasi dunia tersebut. Dan selama ini pun peran PBB hampir sama sekali tidak ada. Mengingat penindasan  terhadap umat Islam di berbagai  negara lain seperti Suriah dan Palestina masih saja berlangsung.

Dan akhirnya, penderitaan kaum muslim hanya bisa tuntas dengan satu solusi. Penerapan syariat Islam secara menyeluruh. Di bawah pimpinan seorang Khalifah yang menjalankan roda kenegaraan dengan petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah.

Dengan diterapkannya syariat Islam, tidak hanya kaum muslim saja yang dijamin keamanannya, tetapi kaum kafir juga dilindungi. Tidak ada dalam sejarah, kaum kafir yang hidup di negeri Islam mengalami penyiksaan ataupun pembantaian. Darah dan harta mereka sama berharganya seperti darah dan harta umat Islam. Karena Islam memang akan menjadi rahmat bagian seluruh ‘alam.

Jadi, marilah menjadi bagian dari perjuangan membumikan syariat Allah. Karena hanya aturan Allah yang akan memanusiakan manusia. Wallahu ‘alam bishawab.[MO/sr]



Posting Komentar