Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Subhanallah, tak kuasa mata ini menahan buliran air yang mengkonfirmasi 'kasih sayang' dibalut rasa pilu dan kesedihan. Betapa kami, mengasihi dan menyayangi beliau, betapa kami pilu dan sedih dengan kondisi beliau.

Namun, air dari kedua bola mata ini juga mengabarkan rasa haru, gembira dan kobaran semangat, bahagia serta segenap rasa yang meliputinya. Rasa itu terbendung, manakala Guru kami, Ulama kami, meminta kami melalui sebuah video untuk Istiqomah menapaki jalan, sampai puncak kemenangan umat diraih : tegaknya syariah Islam di negeri ini, dan tegaknya khilafah Islamiyah.

Pilu dan hati terasa terhiris, menyaksikan video yang lain ketika Guru Kami, Ulama Kami, hendak terbang menuju Penang. Ikhtiar berobat, yang semoga Allah SWT karuniakan kesembuhan, kebaikan, dan segera kembali kepada kami, murid dan jamahnya.

Selain rasa itu, kami juga memendam jutaan rasa geram dan kemarahan. Bagaimana rezim zalim masih saja tega mengumbar tayangan dusta dibungkus rasa prihatin dan kedekatan, padahal saat itu, saat guru kami, saat ulama kami, mendatangi bibir istana untuk menyuarakan tuntutan keadilan, menagih agar negara bertindak penista agama, ternyata Guru Kami, Ulama Kami, disambut letupan dan tembakan Gas Air mata.

Tak punya malu, rezim durjana mengolah kesedihan dan ironi, untuk mengunggah empati dan keberpihakan. Berhala-berhala elektabilitas, menjadikan penguasa zalim tak ragu dan tak malu membawa muka bopeng dan penuh tambalan menjenguk Ulama Kami, Guru Kami.

Kami tidak ridlo, tidak ridlo Guru kami, Ulama kami dijadikan lelucon dan obrolan permainan politik. Kami akan perhatikan, apa yang menjadi petunjuk pilihan hidup dan perjuangan. Dan dengan itu, kami akan Istiqomah menapaki jalan kebenaran.

Tentu saja Guru Kami, Ulama Kami, tak bisa memilih dan menolak siapa yang menjenguknya. Tetapi Guru Kami, Ulama Kami memberi petunjuk pilihan saat memilih dengan siapa dan oleh siapa ia berangkat berobat menuju Penang. Beliau, jelas menolak diantar barisan penguasa zalim, karena berobat dengan iringan fasilitas dan doa dari penguasa zalim, tidak memberikan faedah dan manfaat sedikitpun.

Wahai Guru Kami, Wahai Ulama Kami, kami telah membaca petunjuk itu begitu tegas. Pilihan eksplisit untuk berjuang menuju puncak kemenangan umat Islam, yakni tegaknya syariat Islam di negeri ini, dan tegaknya khilafah Islamiyah.

Wahai Guru Kami, Wahai Ulama Kami, kami telah membaca petunjuk itu begitu jelas. Pilihan implisit untuk tetap berada bersama umat, dan menolak berhimpun dengan penguasa zalim. Sesungguhnya, petunjuk itu menambah keyakinan kami, untuk mengambil jarak dan mengambil pilihan penentangan kepada rezim zalim, yang represif dan anti Islam.

Tentu saja Guru Kami, Ulama Kami, Ust Arifin Ilham: doa kami seluruh umat dan murid-murid akan selalu menyertaimu.


على هذه النية ولكل نية صالحة الفاتحة

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ * إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ * اهْدِنَا الصِّرَاطَ 

الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

اللهم أنت الشافي، اشف أخينا الكريم عافين إلهام شفاء من كل داء، وشفاء عاجلا، وشفاء لا يغادر سقما، برحمتك يا أرحم الراحمين 

الفاتحة
[MO/ge]

Posting Komentar