Oleh: Winda Yusmiati, S.Pd
(Member Revowriter Purwakarta)

Mediaoposisi.com- Duka dan derita datang terus silih berganti tak berhenti menyapa. Air mata sudah mengering, darah sudah banyak tertumpah, dan jutaan nyawa telah menjadi syuhada. Palestina dan Suriah masih terus bergejolak. Genosida etnis Muslim Rohingya masih terus berlanjut. Kelaparan masih menjadi ancaman bagi saudara kita kaum Muslimin di Yaman.

Kini, kebiadaban telah dilakukan oleh pemerintah Cina terhadap muslim Uighur. Seperti yang dilansir oleh Hidayatullah.com, (15/12/2018) lebih dari 1 juta tahanan yang kebanyakan etnis Uighur terus ditahan di tempat yang oleh China disebut  “Kamp Pendidikan Ulang’ di China barat. Menurut  Kepala Komisi Eksekutif Kongres China (CECC), dikutip The Epoch Times, mengungkapkan upaya oleh pihak berwenang China untuk menelanjangi para tahanan Uighur dari budaya dan bahasa mereka, memaksa mereka untuk mencela keyakinan mereka sendiri dan berjanji setia kepada PKC dan pemimpinnya.

Lebih dari itu, tindakan Cina terhadap muslimah Uighur begitu biadab. Seperti yang dilaporkan oleh Seorang tahanan Uighur, seorang warga negara Kazakhstan berusia 54 tahun mengatakan kepada The Epoch Times bahwa para wanita muda Uighur diperkosa setiap hari oleh para pejabat PKC di kamp-kamp dan dapat dibunuh jika mereka menolak. “Gadis-gadis muda dibawa keluar dan diperkosa sepanjang malam. Jika Anda terus melawan, mereka akan menyuntik Anda dengan sesuatu dan membunuh Anda, ”katanya (Hidayatullah.com, 18/10/2018).

Racun Nasionalisme
Tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Cina terhadap muslim Uighur sungguh menyesakkan dada. Bagaimana tidak, saudara kita dipaksa untuk memuja pemimpin mereka, kaum muslimah dipaksa memberikan kehormatannya. Mereka berteriak meminta pertolongan kepada kita. Lantas, adakah yang mendengar teriakan mereka? Adakah yang peduli dengan kondisi mereka?
Pemerintah Indonesia tak berani mengkritik keras terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah Cina, bahkan presiden Jokowi tidak mau bersuara disebabkan hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan Cina. (eramuslim.com, 15/12/2018).

Para penguasa muslim di dunia diam membisu, mata hatinya seolah buta, telinganya tuli tak mendengar jeritan mereka.

Nasionalisme dan konsep negara bangsa menelikung umat Islam di dunia dan penguasanya (termasuk Indonesia) untuk membantu saudaranya dengan bantuan yg ril. Keberadaan penduduk muslim dunia, tentara dan senjata mereka yang banyak tak berguna untuk membebaskan saudara-saudara seakidah gara-gara paham buatan kafir tersebut. Oleh karena itu, nasionalismelah yang mebuat dunia tak bergerak, saat saudaraka kita teriak.

Islam Solusi Tuntas
Solusi tuntas untuk mengakhiri penderitaan muslim Uighur adalah pembentukan kepemimpinan Islam yakni Khilafah, yang merupakan penjaga umat dan Perisai Islam. Khilafah akan segera merespon untuk mengakhiri segala masalah yang mempengaruhi umat di seluruh dunia, menghapus seluruh penindasan yang terjadi dimanapun dan menimpa siapapun. Khalifah tidak takut pada siapapun selain kepada Allah semata.

Kezaliman dan ketidakadilan senantiasa menimpa umat ini karena tiada lagi seorang Khalifah yang membela dan menegakkan keadilan atas kaum Muslimin. Karena dengan tegaknya Khilafah menurut metode kenabian inilah yang akan menyingirkan para penguasa Muslim yang bangga dengan demokrasi dan nasionalismenya yang telah menjadi sekat pemisah bagi kaum Muslimin sedunia untuk menolong saudaranya yang tertimpa berbagai bencana dan kezaliman di belahan bumi yang lain.

Selain itu, negara inilah yang akan menyatukan kaum Muslimin yang beriman dan senantiasa istiqomah terhadap janji Allah SWT atas kemenangan Islam, yang akan melawan musuh-musuh Islam, menggerakkan bala tentaranya untuk melindungi darah, harta dan jiwa umat ini.[MO/sr]



Posting Komentar