Oleh: Erni Yuwana

Mediaoposisi.com- Bola mata hijau, kulit putih, hidung mancung dan berambut lurus. Begitulah parasnya. Teramat rupawan. Mereka termasuk bagian dari China tapi bukan Chinese. Ras mereka adalah ras Eropa Kaukasus,ooo namun menjadi manusia yang direndahkan, dihinakan bahkan dimusnahkan di China. Siapa mereka? Mereka adalah suku Uighur. Mereka tinggal di wilayah Xinjiang, China. Namun secara historis, wilayah yang ditempati suku Uighur adalah Uighuristan atau Turkistan Timur.

Turkistan Timur adalah sebuah negara Islam yang besar wilayah dan populasinya. Dibebaskan Bani Umayah oleh komandan Qutaibah bin Muslim Al-Bahiliy dan sejak saat itu menjadi negeri Islam yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan dan keimanan hingga dijajah oleh komunis Cina sejak tahun 1949. (Kiblat.net)

Tidak heran, jika Islam menjadi satu-satunya agama suku Uighur hingga kini. Peradaban yang berkembang di sana juga diadaptasi dari Islam. Masjid megah dan madrasah besar mewarnai sudut-sudut wilayah Xinjiang. Namun sayangnya, hal ini bertentangan dengan ideologi China, yaitu komunis.

Tabiat asli ideologi komunis adalah tidak menghendaki adanya agama, karena agama dianggap sebagai candu masyarakat. Komunis berpaham atheis, tidak meyakini adanya Tuhan. Dan pemerintah China selaku pengemban ideologi komunis berusaha menekan Uighur untuk meninggalkan Islam dengan berbagai cara, bahkan pembunuhan massal (genosida).

Kiblat.net melansir berita bahwa pemerintahan komunis Cina telah membunuh lebih dari enam puluh juta muslim Uighur sejak menduduki wilayah Turkistan. Jumlah ini sepuluh kali lipat dari para syuhada Bosnia Herzegovina,  Iraq, Afghanistan, Chechnya dan Palestina. Pada 1952, rezim mengeksekusi seratus dua puluh ribu muslim di Turkistan Timur, sebagian besar mereka adalah para ulama di bidang syariah, sebagaimana yang dikatakan oleh gubernur Turkistan saat itu, Burhan Shahidi.

Antara 1949 dan 1979, komunis Cina kembali beraksi dengan merubuhkan sekitar tiga belas ribu masjid. Dari tahun 1997 hingga detik ini, Cina menutup sepertiga dari seluruh masjid yang ada. Mereka mengklaim bahwa masjid yang dirobohkan berdekatan dengan sekolah negeri dan kantor pemerintahan atau berada di ranah-ranah publik. Siapa yang berkunjung ke Turkistan akan melihat banyaknya masjid yang dihancurkan menaranya dan dirobohkan.

Pemerintah komunis mengubah menjadi taman hiburan, klub malam dan kantor pusat pengubahan budaya di Turkistan Timur. Semua hal yang dilakukan rezim intoleransi ini untuk mengubah identitas komunitas muslim menjadi komunis.

Bahkan beberapa masjid yang dihancurkan diubah menjadi kantor partai komunis atau penjara untuk tahanan. Bukan hanya masjid, rezim juga membakar lebih dari tiga ratus tujuh puluh ribu madrasah Al-Quran dan madrasah Ulum Syar’iyah hingga mengubah Turkistan menjadi sebuah kota yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.

Tiga tahun lalu, rezim Cina melakukan penangkapan intensif sejumlah ulama, da’i, imam masjid, pemuda serta pemudi Uighur dan menjebloskannya ke kamp-kamp pencucian otak yang mereka namakan “Pusat Pendidikan Politik dan Pengubahan Ideologi” dengan tujuan untuk menghapuskan nilai keislaman di daerah tersebut. Yang lebih memprihatinkan adalah otoritas penjara memaksa tahahan setiap hari untuk mengucapkan kalimat kufur dan bernada ateis.

Mereka dipaksa mengatakan bahwa Allah tidak ada dan Islam adalah agama takhayul. Siksaan ditimpakan pada tahanan dengan cara yang paling sadis dan keji hingga mereka melepaskan keimanan dari sanubari.

Saking gencarnya tindakan ini, keluar perintah dari rezim untuk menangkapi dan membunuhi para ulama, pengusaha, pemilik modal dan pabrik, akademisi, seniman dan siapa pun yang bersuara di dalam wilayah Turkistan. Tindakan ini adalah upaya untuk membungkam para penuntut hak mereka dan mencegah mereka berbicara ke dunia luar.

Tekanan, kekejian dan kekejaman biadab dari pemerintah komunis China itu membuat Turkistan  (atau lebih dikenal dengan nama Xinjiang) tidak tinggal diam. Mereka mencoba berusaha sekuat tenaga untuk terus bertahan dalam mempertahankan identitas Islam. Tak terelakkan lagi timbul upaya perlawanan.

Mereka menuntut haknya. Terjadi demonstrasi besar-besaran, bahkan baku tembak aparat, hingga kerusuhan. Momen ini dimanfaatkan oleh pemerintah komunis China untuk membuat framing jahat dan fitnah keji terhadap muslim Uighur. Pemerintah komunis China menyebut wilayah Uighur sebagai wilayah three evils: terorisme, ekstrimis agama dan separatisme. Padahal tuntutan Uighur cuma satu. Hanya satu. Uighur hanya ingin beribadah. Uighur hanya ingin bertuhan Allah SWT, Rabbul Alamin. Uighur hanya ingin mempertahankan identitas Islam. Hanya itu.

Ideologi komunis adalah faham biadab yang tidak berperikemanusiaan. Komunis adalah faham otoriter yang penuh kesombongan luar biasa dan keserakahan yang hebat. Mereka menggunakan tangan besi atas nama negara untuk menghilangkan identitas agama dan menjajah suatu wilayah. Semua kebiadaban ideologi komunis ini berusaha mereka tutupi dengan dusta yang mereka buat. Mereka membuat tudingan dan fitnah keji terhadap suku Uighur.

Padahal mereka lah penjahat busuk itu sendiri. Pemerintah China mempertahankan wilayah Uighuristan atau Turkistan Timur sebagai bagian dari China dikarenakan wilayah tersebut menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Terdapat minyak alam yang sangat banyak di sana. Dan ini sangat menguntungkan bagi China.

Sungguh, dada kami sebagai umat muslim tidak kuat dan tidak sanggup lagi mendengar kabar dari saudara kami di Uighur. Hati ini merasakan sakit dan rasa bersalah yang luar biasa karena diri ini tidak sanggup menolong saudara kami dengan tangan-tangan kami. Penguasa negeri Muslim terbesar ini pun tidak berkutik sedikit pun di hadapan komunis China. Mereka bertekuk lutut di kaki komunis China. Bahkan hanya sekedar mengecam tindakan biadab China pun tidak mampu. Lagi-lagi karena alasan investasi dan ekonomi. Nauzubillah tsumma naudzubillah...

Sungguh, kami sebagai muslim merasakan setiap rintihan kesakitan dan jeritan saudara kami, yakni Uighur. Sangat menginginkan tangan ini mampu merengkuh dan mendekapnya, membawanya ke tempat yang nyaman, menyelamatkan tubuh dan jiwanya, mengusap air matanya, mengobati lukanya, tersenyum bersama, hidup dalam peradaban Islam yang tinggi. Kerinduan itu tidak terbendung. Begitu kuat.

Namun bentuk pertolongan yang mampu kami lakukan, hanya lewat lisan dan tulisan. Membongkar setiap inchi kebiadaban dan kekejaman komunis China. Membuka dusta yang sering terlontar dari mulut busuk mereka. Mengatakan yang Haq. Serta doa-doa kebaikan dan keselamatan untuk muslim Uighur yang senantiasa terpanjat. Hanya itu. Maafkan kami dan kami bertaubat atas kelemahan ini.

Sesungguhnya nyawa seorang muslim sangat luar biasa berharga. Di dalam Al-Qur’an Allah swt. menegaskan bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia tanpa ada alasan yang dibenarkan berarti seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. Al-Maidah: 32)

Rasulullah saw bersabda, “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.

Ya Allah, kami begitu merindukan para Khalifah yang mampu menyelamatkan saudara-saudara muslim kami yang dibantai tanpa belas kasih. Khalifah yang mampu menjadikan negeri ini independen, berdiri di kaki sendiri, bukan bergantung pada negara kufur penjajah.

Khalifah yang mampu mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan nyawa dan harga diri umat muslimin di seluruh dunia. Seperti Khalifah al-Mu’tasim Billah yang menyahut seruan seorang budak muslimah yang meminta pertolongan karena diganggu dan dilecehkan oleh orang Romawi, kainnya dikaitkan ke paku sehingga ketika berdiri, terlihatlah sebagian auratnya.

Wanita itu lalu berteriak memanggil nama Khalifah Al-Mu'tashim billah dengan lafadz yang legendaris: waa mu'tashimaah! Sang Khalifah pun menurunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Amoria dan melibas semua orang kafir yang ada di sana (30.000 prajurit Romawi terbunuh dan 30.000 yang lain ditawan). Dan panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari istana khalifah hingga kota Amoria, karena besarnya pasukan.

Namun, keberadaan khalifah yang menjalankan syariah secara kaffah dan menjaga darah serta kehormatan kaum muslimin hanya akan terwujud dalam naungan Khilafah.  Sudah saatnya umat Islam bangkit, bergerak dan berjuang untuk memperjuangkan kehidupan Islam, sesuai Al Qur'an dan as Sunnah dalam bingkai khilafah.

Dengan Khilafah lah umat Islam akan menjadi khairu ummah. Dengan Khilafah, negeri-negeri muslim akan disatukan, kehormatan Islam dan kaum muslimin akan didapatkan, para penjajah kafir akan dilenyapkan. Insya Allah.[MO/sr]



Posting Komentar