Oleh : Miniarti Impi
(Member WCWH)

Mediaoposisi.com- Etnis minoritas Uighur kembali disorot. Mereka mengalami diskriminasi di negara tempat mereka tinggal. Uighur adalah minoritas muslim yang sebagian besar berada di daerah Xinjiang, Cina barat. Sekitar 45% penduduk di tempat itu adalah Uighur. Sejumlah laporan yang menyebutkan semakin banyak orang Uighur dan minoritas muslim lainnya yang ditahan di Xinjiang muncul dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintah Cina telah lama berlaku kejam terhadap kaum muslim Uighur di wilayah Xinjiang. Mereka kerap memberlakukan aturan tak masuk akal seperti: melarang puasa saat Ramadhan, melarang menggelar pengajian hingga melarang salat berjamaah. Bahkan Pemerintah Cina secara ketat menempatkan pos-pos pemeriksaan di seluruh wilayah hingga perbatasan Xinjiang.

Terbaru, mereka membuat kamp-kamp konsentrasi. Mirip rumah tahanan besar. Di situlah mereka berupaya mencuci otak kaum muslim Uighur dan menanamkan doktrin komunisme. Pemerintah China menjadikan terorisme sebagai dalih untuk memperlakukan masyarakat Uighur secara diskriminatif

Dalam laporan Amnesty International, sekitar satu juta penduduk Uighur mengalami penyiksaan dan tidak diketahui nasibnya ketika dimasukan ke “kamp pendidikan ulang”. Bahkan pihak keluarga yang sempat ditemui pihak Amnesty, mengaku tak lagi mendengar kabar setelah keluarga mereka dimasukan ke kamp. Sementara pemerintah China yang tengah gencar melakukan pembangunan insfrastruktur di Xinjiang termasuk Jalur Sutra, berusaha meredam aksi-aksi pemberontakan dari etnis Uighur demi menjaga kestabilan ekonominya. Caranya dengan menebar isu bahwa etnis Uighur terkait dengan kelompok teroris. (Okenews, 21/12/18).

Uighur bukanlah yang pertama, sering kali umat Islam dituduh sebagai teroris, namun faktanya umat Islam sendirilah korbannya. Media yang banyak dikuasai kafir barat telah berhasil menggiring opini dunia akan fitnah yang sangat kejam terhadap kaum muslimin ini. Penguasa negeri-negeri muslim pun termasuk pemerintah Indonesia lemah dan tak berdaya menghadapinya.

Padahal Indonesia sebagai negeri muslim terbesar, semestinya punya power untuk melakukan tindakan tegas untuk menolong saudara seakidah. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sikap yang ditujukan oleh pemerintah Indonesia ini sangat menyakiti hati umat beragama di negeri ini khususnya umat Islam.

Investasi Asing dan Sekat Nasionalisme
Sejumlah pihak menilai diamnya pemerintah atas kekejian China di Uighur adalah dampak adanya ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap pemerintah China dalam bidang perdagangan dan investasi, hingga  memaksa Indonesia berpikir panjang dan mendalam sebelum membuat sebuah kebijakan atas  pelanggaran HAM yang terjadi di Xinjiang. Hal ini membuktikan bahwa investasi sebenarnya justru membuka jalan penjajahan.

Sebagaimana dilansir dalam CNN Indonesia, Peneliti Kebijakan Luar Negeri dan Politik Asia Tenggara dari International Institute for Strategic Studies (ISS), Aaron Connelly, menganggap isu Uighur ini sensitif bagi publik Indonesia sehingga Jokowi tak bisa cepat bersuara. Peneliti lembaga think thank Singapura itu menganggap Jokowi akan berpikir dua kali sebelum menyinggung China soal ini di depan publik, salah satunya karena kerja sama ekonomi terutama modal Beijing yang cukup  besar tertanam di Indonesia. Sebab, Jokowi masih ingin menarik lebih banyak inisiatif China untuk bekerja sama dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Hal itu tak mungkin dilakukan jika China merasa tersinggung dengan Indonesia.

Selain itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon menganggap Pemerintah RI sebagai peliharaan China lantaran tidak berani vokal mengkritik dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis minoritas Uighur di Xinjiang. Ia menganggap sikap pemerintah yang terkesan diam terkait persekusi terhadap Uighur karena Indonesia memiliki kepentingan dengan China. (CNNIndonesia).

Merujuk pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi China pada periode Januari-September 2018 mencapai USD 1,8 miliyar. (OkeNews). Besarnya investasi yang digelontorkan menjadikan pemerintah seolah menutup mata dan telinga atas apa yang terjadi pada muslim Uighur. Indonesia yang katanya negara demokrasi, yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, tapi pada kenyataannya tidak dapat memberi suara maupun kontribusi terhadap saudara seakidahnya. Problem Uighur, cukup membuktikan bahwa penguasa di negeri salah satu mayoritas penduduk muslim terbanyak di dunia tunduk terhadap komunis China.

Selain itu, rasa nasionalisme telah mengikis ruh keIslaman para penguasa negeri muslim. Sekat-sekat nasionalisme menjadi jurang pemisah antar muslim di negara satu dan lainnya. Idealnya ketika seorang muslim melihat saudaranya di dzolimi adalah berupaya untuk membela. Karena sesama muslim adalah saudara, sedangkan umat Islam keseluruhan, ibarat satu tubuh. Dimana ketika satu anggota tubuh sakit, anggota tubuh lain merasakan sakitnya. Namun sayangnya, sekat nasionalisme menjadikan umat Islam impoten. Tak bisa merasakan derita saudara yang lain, dengan dalih mereka bukan bagian dariku.

Padahal Islam tidak pernah mengajarkan demikian, justru umat Islam harusnya bersatu serta saling peduli karena sesungguhnya umat Islam itu bersaudara. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 10).

Sistem Islam Tuntaskan Permasalahan
Sejarah mencatat peristiwa yang terjadi pada masa Khalifah Al-Mu’tashim Billah, Khalifah kedelapan dinasti Abbasiyah. Kota Amurriyah yang dikuasai oleh Romawi saat itu berhasil ditaklukkan oleh Al-Mu’tashim. Pada penyerangan itu sekitar 3.000 tentara Romawi tewas terbunuh dan sekitar 30.000 menjadi tawanan.

Dan di antara faktor yang mendorong penaklukan kota ini adalah karena adanya seorang wanita dari sebuah kota pesisir yang ditawan di sana. Ia berseru, “Wahai Muhammad, wahai Mu’tashim!” Setelah informasi itu terdengar oleh Khalifah, ia pun segera menunggang kudanya dan membawa bala tentara untuk menyelamatkan wanita tersebut plus menaklukkan kota tempat wanita itu ditawan. Setelah berhasil menyelamatkan wanita tersebut Al-Mu’tashim mengatakan, “Kupenuhi seruanmu, wahai wanita!” (Hidayatullah.com)

Inilah cermin pemimpin sejati dalam Islam, dalam menyikapi dan membela saudaranya yang teraniaya. Sudah saatnya umat Islam memiliki pemimpin muslim yang mau bertanggung jawab, sebagaimana sikap tegas Rasulullah Saw. terhadap Yahudi bani Qainuqa, Yahudi bani Nadhir dan Yahudi bani Quraizhah. Begitupun sikap Khalifah Al-Mu’tashim Billah dalam membebaskan seorang wanita yang ditawan dikota Amuriyyah. 

Penderitaan atas kaum muslim Uighur dan di negeri-negeri lain harus segera dihentikan. Solusi untuk mengakhiri penderitaan masyarakat muslim diperlukan persatuan, dan untuk bersatu itu diperlukan institusi yang akan menyatukan umat Islam, yaitu Khilafah. Sebab, hanya negara khilafah yang bisa diharapkan membebaskan dan melindungi kaum muslimin yang tertindas.

Dengan adanya khilafah ini maka kewajiban-kewajiban yang lain akan terlaksana termasuk kewajiban untuk menolong saudara kita yang mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh muslim Uighur,
Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan sebuah bangunan, satu dengan yang lainnya saling menguatkan” (HR.Al-bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-asy’ari Radhiyallahu'anhu)

Dengan persatuan ini kekuatan mampu dihimpun untuk menumbangkan musuh-musuh Islam. Negara Islam akan menghapus batas-batas kebangsaan yang menghalangi muslim untuk merdeka, memerangi siapa pun yang melakukan penindasan pada saudara seiman. Dengan dakwah dan jihad, Islam mulia dan pemeluknya terjamin aman.[MO/sr]




Posting Komentar