Oleh: Isturia

Mediaoposisi.com- Jeritan Muslim Uighur di Xinjiang, China sungguh menyayat hati. Untuk kesekian kali,  kekejian tidak manusiawi terjadi. Mereka disiksa dan diintimidasi karena Islam yang diyakini. Seolah-olah pemimpin muslim terbesar di dunia ini bisu dan tuli melihat fakta yang terjadi.

Belum adanya respon pemimpin negeri ini, menurut pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia (UI), Agung Nurwijoyo, pemerintah akan menempuh langkah soft diplomacy untuk menghindari balasan pemerintah China yang justu akan merugikan ekonomi Indonesia, yakni embargo. Ini melihat besarnya investasi yang ditanam di dalam negeri. Merujuk pada data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari China pada periode Januari-September 2018 mencapai USD1,8 miliar. (cnnindonesia.com).

Sedangkan respon JK menyesakkan dada. Menganggap Indonesia tidak bisa campur tangan karena ini masalah dalam negeri China.

Negeri mayoritas muslim ini tak bisa diharapkan uluran tangannya. Investasi China ke Indonesia membuatnya diam seribu bahasa. Kecaman negeri-negeri lain ataupun lembaga internasional seperti PBB, OKI dll tak cukup menghentikan kebiadaban pemerintah China. Sampai kapan kita melihat penderitaan mereka? Apakah menunggu mereka sirna?

Muslim Uighur saudara kita
Ikatan akidah Islam menjadikan sesama muslim bersaudara. Muslim Uighur saudara kita. Walaupun di tempat berbeda, kita berpijak pada landasan yang sama. Ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh terluka, anggota yang lain ikut menderita.

Muslim Uighur butuh pemimpin yang kuat, berani dan terdepan mendatangkan pasukan untuk membebaskan mereka dari kebengisan pemerintah China. Pemimpin itu tidak lain adalah Khalifah. Dia takut hanya kepada Allah. Memimpin umat dan negerinya dengan ruh yaitu idrak sillah billah/ kesadaran hubungan dengan Allah. Hal ini yang senantiasa memaksa dirinya untuk selalu berada di rel ketaatan. Melindungi dari kejahatan orang-orang kafir. Karena sejatinya dia adalah junnah/perisai.

Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Khalifah tidak akan main-main mengurusi rakyatnya. Dia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kelak di hadapan Allah.

Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalaannya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]

Umat butuh sosok Khalifah. Keberadaannya hanya kita temui dalam Negeri khilafah. Butuh persatuan dari kaum muslimin untuk mendirikan khilafah dan mengangkat Khalifah. Kerelaan kaum muslimin diatur dengan syari'at Islam, menjadi jalan meraih cita-cita itu. [MO/sr]











Posting Komentar